Antara Gamis dan Almamater: Kisah Gadis 17 Tahun yang Terseret Radikalisme

Tokoh

by WAVE Community Editor by Redaksi

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Pelukan yang Salah, Tapi Terasa Benar

Setelah beberapa hari di rumah singgah bersama ibu-ibu yang sudah menikah, aku diarahkan ke daerah lain, sebuah kota yang lebih jauh dari rumahku di Lampung. Di sanalah rumah Qur’an itu berada, tempat yang katanya akan menjadi “markas pembelajaran dan penguatan iman” bagi perempuan muda sepertiku.

Aku dijemput oleh seorang perempuan tua di terminal, wajahnya teduh, tutur katanya lembut. Ia memperkenalkan diri sebagai Ummu Hana, pemilik rumah Qur’an itu. Suaminya, katanya, sudah wafat. Belakangan aku tahu, suaminya dulu pernah dipenjara karena kasus terorisme. Di dinding rumah itu tergantung selembar kain hitam dengan tulisan arab di atasnya, simbol yang tak asing bagiku, tapi waktu itu aku pura-pura tidak memperhatikan.

Rumah Qur’an itu kecil tapi ramai. Sekitar lima belas sampai dua puluh perempuan tinggal di sana, tidur berdesakan di satu ruangan besar tanpa kasur layak. Udara lembab, tapi tak ada yang mengeluh. Kami tidur di atas tikar, bergantian mencuci, memasak, dan menghafal ayat-ayat. Di luar, rumah itu terlihat seperti tempat pengajian biasa. Tapi di dalamnya, perlahan-lahan, isi kepalaku dirombak dengan halus.

Sebelum aku berangkat, ibu-ibu di tempat persinggahan sebelumnya memberiku bekal. Uang, makanan, sedikit pakaian. Padahal mereka sendiri hidup serba kekurangan. Aku masih ingat wajah salah satu dari mereka ketika memelukku erat, “Semoga langkahmu istiqamah, Dek. Jangan pernah ragu, Allah akan menjaga.”
Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan, dan kini, setiap kali aku mengingatnya, hatiku perih. Karena mereka sebenarnya sedang mengirimku ke tempat yang lebih dalam lagi, ke lapisan ideologi yang lebih pekat.

Di rumah Qur’an itu aku bertemu seorang teman sebaya, usianya juga 17 tahun. Kami sama-sama kabur dari rumah. Sama-sama berpikir sedang “berhijrah”. Saat kami berbagi cerita, aku baru tahu, perempuan muda yang kabur karena doktrin seperti kami ternyata banyak. Mereka datang dari berbagai kota, bahkan beberapa masih duduk di bangku SMA. Semuanya membawa luka yang sama, merasa tidak dipahami keluarga, lalu menemukan pelarian dalam narasi “iman dan perjuangan”.

Suatu malam, ketika suasana mulai tenang, aku membuka tas. Aku rapikan gamis-gamis yang mereka berikan, lalu tanganku menemukan almamater sekolahku, masih terlipat rapi. Aku menatapnya lama. Ada sesuatu yang terasa aneh di dada, seperti dua dunia yang berhadapan: satu dunia penuh cita-cita, dan dunia lain yang sedang menelan masa depanku perlahan. Tapi aku cepat-cepat menutup tas itu, karena di rumah ini, nostalgia dianggap kelemahan.

Ummu Hana sering berbicara di depan kami. Katanya, di antara para perempuan di rumah ini, beberapa akan segera dinikahkan. “Mereka akan menikah dengan mujahid pilihan Allah,” ucapnya dengan nada penuh kebanggaan. Sebagian perempuan tersenyum malu, sebagian lainnya terisak haru.
Pernikahan di sini bukan sekadar urusan cinta, tapi bentuk pengabdian ideologis. Tidak boleh menikah dengan lelaki “di luar jamaah”, karena itu dianggap bentuk penghianatan terhadap aqidah.

Aku mendengar semua itu sambil diam. Ada getar aneh di dalam dada.
Mereka berbicara tentang surga, tapi di antara kalimat mereka, aku justru merasakan aroma penjara, penjara yang dibungkus atas nama pengorbanan dan iman.

***

Kini, ketika aku menulis kisah ini, aku sadar, rumah Qur’an itu bukanlah tempat untuk memahami Al-Qur’an, tapi tempat di mana ayat-ayat disulap menjadi alat pengikat. Tempat di mana perempuan muda sepertiku belajar untuk mematikan akal demi disebut taat.
Dan ironisnya, semua dimulai dari niat yang paling suci: ingin menjadi hamba Allah yang lebih baik.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar