Suatu malam, Raka—seorang mahasiswa yang baru saja pulang dari kelas online—membuka ponselnya sambil rebahan. Timeline media sosialnya dipenuhi berbagai meme kocak: ada yang tentang tugas kuliah, ada yang soal hubungan asmara, ada juga video parodi dakwah singkat. Salah satunya membuatnya tergelak: gambar kartun seorang pemuda berkata, “Bro, sistem dunia ini udah rusak. Yuk tahajjud, biar hidup lebih chill.” Raka mengirimkan meme itu ke grup WhatsApp teman-temannya. Mereka tertawa, bercanda, lalu diam-diam ada yang mulai bertanya: “Emang iya sistem dunia rusak? Maksudnya gimana?”
Dari sinilah sebuah pintu kecil terbuka. Meme sederhana, berbalut bahasa gaul, ternyata menyimpan ide besar yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Dari Mimbar ke Meme
Dulu, propaganda ekstrem identik dengan ceramah panjang, suara keras, dan selebaran hitam putih. Gambaran itu sering melekat pada sosok penceramah di pojok masjid atau brosur yang beredar diam-diam. Namun, di era digital, bentuk propaganda mengalami transformasi. Ia berwajah lebih ceria, lebih ringan, bahkan kadang penuh tawa.
Alih-alih menakutkan, ia bisa muncul dalam bentuk caption sarkastik, dialog kartun, atau meme berisi candaan receh. Simbol-simbol keras yang dulu menakutkan, kini diselipkan di antara emoji, GIF, dan bahasa tongkrongan. Pesan serius berubah jadi bahan “ngakak bareng”. Namun, di balik itu semua, benih ideologi ekstrem tetap disisipkan, menunggu siapa saja yang tertarik untuk melangkah lebih jauh.
Bahasa Gaul sebagai Jembatan
Generasi muda seringkali alergi dengan kalimat kaku atau dogma yang menggurui. Tapi siapa yang bisa menolak ajakan santai seperti, “Ngopi sambil ngaji, bro?” atau “Join circle, kita bahas self healing ala sahabat Rasul.” Kalimat itu terdengar ramah, akrab, bahkan relevan dengan keseharian.
Bahasa gaul—dengan istilah populer, slang, dan candaan—berfungsi sebagai jembatan psikologis. Pesan yang semula berat terasa ringan. Raka, misalnya, tidak sadar bahwa ketika ia menertawakan meme, ia sebenarnya sedang diperkenalkan pada narasi “kami vs mereka”. Sistem dianggap rusak, kelompok di luar dianggap musuh, dan lingkaran kecil yang solid diposisikan sebagai tempat perlindungan.
Humor yang Menyelinap
Humor adalah senjata. Ia membuat ide yang sulit diterima jadi terasa menyenangkan. Bayangkan sebuah video reels dakwah: dua karakter kartun bercakap-cakap tentang betapa ribetnya aturan dunia. Dialog mereka kocak, ekspresinya dilebih-lebihkan, dan akhirnya ditutup dengan ajakan: “Bro, solusi cuma satu: kembali ke aturan ilahi.”
Sekilas, itu hanya hiburan. Tapi pesan yang terselip jelas: sistem yang ada sekarang tidak sah, hanya ada satu jalan “benar” yang harus diikuti. Humor membuat audiens menurunkan pagar kritis mereka. Ketika tertawa, seseorang jarang mempertanyakan isi pesan.
Dakwah Lucu: Kreativitas atau Manipulasi?
Di satu sisi, kreativitas ini bisa dianggap wajar. Setiap generasi punya gaya dakwahnya sendiri. Ada yang menggunakan musik, ada yang memakai drama, ada pula yang memanfaatkan meme. Namun, yang membuatnya berbahaya adalah ketika dakwah itu dijadikan kendaraan untuk menyelipkan ide ekstrem.
Ajakan “nongkrong sambil ngaji” bisa terasa menyejukkan. Tetapi, jika di dalam obrolan mulai muncul gagasan bahwa negara ini tidak sah, hukum negara adalah thaghut, dan hanya ada satu jalan keras yang harus ditempuh, maka batas antara dakwah dan manipulasi menjadi kabur.
Bagi anak muda seperti Raka, sulit membedakan mana obrolan santai biasa, mana propaganda yang dibungkus dengan senyum.
Tantangan Literasi Digital
Inilah tantangan baru di era media sosial. Propaganda ekstrem kini tidak lagi muncul dengan wajah muram, tapi dengan wajah jenaka. Meme, bahasa gaul, dan dakwah lucu menjadi “operasi tipis” yang sulit dikenali. Apa yang tampak seperti hiburan bisa jadi pintu masuk ideologi keras.
Di titik ini, literasi digital memegang peran penting. Bukan hanya soal apa yang dibagikan, tetapi juga kenapa dan untuk siapa. Sebuah meme bisa sekadar membuat kita tertawa. Tapi jika terus-menerus mengulang narasi yang sama—tentang sistem rusak, tentang musuh di luar sana—ia bisa menggeser cara pandang seseorang tanpa disadari.
Refleksi dan Empati
Bagi praktisi deradikalisasi, perubahan ini berarti strategi lama harus diperbarui. Tidak cukup hanya dengan ceramah tandingan. Harus ada pendekatan yang masuk ke ruang digital, memahami bahasa anak muda, dan bahkan ikut bermain di arena meme. Tidak untuk meniru secara mentah, tetapi untuk membangun alternatif yang sehat: humor yang menumbuhkan, bukan menyesatkan.
Pada akhirnya, kisah Raka hanyalah satu contoh dari ribuan anak muda yang setiap hari berinteraksi dengan konten semacam ini. Ada yang hanya tertawa lalu melupakan. Ada pula yang tertarik, mencari lebih jauh, dan akhirnya terseret masuk.
Pertanyaannya bukan lagi apakah propaganda ekstrem masih ada, tetapi bagaimana kita bisa tetap kritis di tengah tawa. Karena di balik emoji dan candaan, bisa jadi ada ideologi yang menunggu untuk menancapkan akar.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar