Ketika Namaku Tak Lagi Penting

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Saat Semua Narasi Itu Mulai Hancur

Namun yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa meski aku marah, kecewa, dan mulai merasa dikhianati, aku tetap takut kehilangan Farhan. Ketakutan itu membuatku bertahan lebih lama daripada yang seharusnya.

Aku mulai mendesaknya untuk bertanggung jawab. Percakapan kami berubah menjadi penuh tekanan. Aku mengatakan bahwa jika ia terus menghindar dan tidak menjelaskan semuanya kepada keluarganya, aku akan membuka semuanya ke publik. Saat itu aku sudah berada di titik ketika aku merasa tidak punya apa pun lagi untuk dipertahankan, selain memaksa seseorang mengakui keberadaanku.

Akhirnya Farhan mengatakan bahwa ia akan berbicara kepada orang tuanya tentang semuanya. Tapi saat itu aku sudah terlalu sulit untuk mempercayainya begitu saja. Terlalu banyak penjelasan yang berubah-ubah. Terlalu banyak janji yang perlahan kehilangan bentuknya sendiri.

Karena itu, aku meminta satu hal yang waktu itu terasa sangat penting bagiku.

“Aku ingin mendengar langsung percakapan itu.”

Aku ingin tahu apakah ia benar-benar mengatakan semuanya atau hanya kembali menyusun kebohongan dalam bentuk cerita lain.

Jadi, saat Farhan berbicara dengan orang tuanya, sambungan telepon tetap menyala dan aku mendengarkan dari seberang. Suara mereka terdengar samar, sesekali terpotong, tapi cukup jelas untuk membuat dadaku perlahan terasa sesak.

Farhan mulai menjelaskan tentang aku, tentang hubungan kami, tentang pernikahan yang selama ini ia yakini bersamaku, dan tentang kenyataan bahwa ada tanggung jawab lain yang tidak bisa begitu saja dihapus.

Namun respons yang datang justru seperti menjatuhkan sesuatu yang selama ini masih coba kupertahankan.

Tidak ada kepanikan. Tidak ada kemarahan besar karena anak mereka ternyata memiliki hubungan lain. Yang mereka pikirkan justru nama baik keluarga mereka sendiri.

Mereka mengatakan bahwa Farhan lebih baik bertanggung jawab kepada perempuan itu saja—perempuan yang menjadi selingkuhan Farhan saat itu. Orang tuanya berkata demikian karena keluarga perempuan tersebut masih berada dalam lingkaran pengajian yang sama dengan mereka. Ada lingkungan yang harus dijaga. Ada omongan orang yang harus dihindari.

Dan di tengah percakapan itu, aku mendengar sesuatu yang sampai sekarang masih membekas di kepalaku.

Mereka mengatakan bahwa aku hanya orang dari tempat yang jauh, berasal dari daerah yang bahkan berbeda pulau dengan mereka. Jadi, menurut mereka, kalau Farhan meninggalkanku pun aku tidak akan bisa melakukan apa-apa atau menuntut apa pun kepada keluarga mereka.

Kalimat itu membuatku terdiam sangat lama.

Rasanya seperti seluruh keberadaanku diperkecil menjadi seseorang yang mudah diabaikan. Seseorang yang tidak cukup penting untuk dipertahankan.

Setelah percakapan itu, aku akhirnya mencoba menghubungi perempuan yang menjadi selingkuhan Farhan secara langsung. Aku mengatakan bahwa Farhan juga memiliki hubungan denganku.

Tapi semuanya justru semakin rumit. Perempuan itu tidak menerimaku. Ia meminta Farhan memilih.

Dan di titik itu, sesuatu dalam diriku terasa benar-benar kacau.

Anehnya, aku tidak lagi memikirkan apakah aku diperlakukan dengan benar atau tidak. Aku tidak lagi berpikir tentang semua luka yang sebenarnya sudah terlalu jelas. Yang ada justru ketakutan yang sangat besar untuk ditinggalkan.

Aku memohon kepada Farhan agar tidak meninggalkanku. Aku terus memikirkan apa yang akan terjadi denganku kalau semuanya berakhir begitu saja.

Yang berputar di kepalaku saat itu bukan lagi soal cinta, melainkan rasa takut terhadap masa depan. Takut tentang bagaimana aku harus menjalani hidup setelah semua ini.

Takut tentang bagaimana jika suatu hari aku menikah dengan orang lain, lalu harus menyimpan cerita yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Dan yang paling aneh, di tengah semua kekacauan itu, pikiranku justru kembali pada satu hal yang dulu membuatku masuk ke semua ini: agama.

Atau lebih tepatnya, pemahaman tentang agama yang selama ini kutelan mentah-mentah.

Untuk pertama kalinya, aku mulai mempertanyakan semuanya dengan cara yang jauh lebih jujur.

Kalau ini memang jalan yang paling benar, kenapa rasanya penuh ketakutan seperti ini? Kalau ini memang perjuangan di jalan Allah seperti yang selama ini mereka katakan, kenapa yang kurasakan justru kehilangan diriku sendiri sedikit demi sedikit?

Dulu aku percaya bahwa aku sedang menjaga diri dari sesuatu yang haram. Aku percaya bahwa aku sedang memilih jalan yang lebih suci, lebih taat, lebih diridai Tuhan.

Aku takut pacaran. Takut zina. Takut dianggap perempuan yang buruk di mata agama.

Dan karena rasa takut itu, aku justru masuk ke dalam hubungan yang dibungkus dengan dalil, dengan istilah syariat, dengan kata-kata tentang pahala dan dosa yang terus diulang sampai aku berhenti mendengarkan suara diriku sendiri.

Aku mulai sadar bahwa selama ini aku tidak benar-benar diberi ruang untuk berpikir. Semua selalu dibingkai hitam dan putih. Kalau ragu berarti iman lemah. Kalau menolak berarti melawan syariat. Kalau mempertanyakan berarti belum benar-benar taat.

Sedikit demi sedikit aku diarahkan untuk percaya bahwa rasa takutku sendiri adalah musuh. Padahal mungkin justru itu bagian terakhir dari diriku yang sedang mencoba menyelamatkanku.

Dan di titik itu, aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang sedang kupertahankan.

Apakah aku masih bertahan karena keyakinan? Karena takut dosa? Karena takut kehilangan Farhan?

Atau karena aku sudah terlalu jauh melangkah dan tidak sanggup menerima bahwa semua ini mungkin memang salah sejak awal?

Aku tidak punya jawabannya saat itu.

Yang kutahu hanya satu:

Semakin aku mencoba mencari Tuhan lewat jalan yang mereka tunjukkan, semakin aku merasa jauh dari rasa aman yang dulu kupikir akan kutemukan.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar