Dari Mimpi Kampus ke Lingkaran yang Semakin Sempit

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Ketika Rasa Ngeri Pelan-Pelan Menghilang

Saat itu, aku masih mengira aku sedang memilih jalan dengan sadar. Padahal tanpa kusadari, aku sedang belajar untuk berhenti merasa ngeri dan itu mungkin adalah perubahan yang paling berbahaya dari semuanya.

Perubahan itu tidak berhenti pada cara pandangku terhadap video-video tersebut saja. Ia juga ikut masuk ke lingkaran pertemananku, ke siapa saja yang hadir dalam notifikasi harian di ponselku. Setelah aku semakin sering membagikan ulang potongan-potongan video itu, disertai dalil dan narasi yang kupelajari dari Farhan dan lingkarannya, daftar followers di instagramku perlahan berubah. Nama-nama yang muncul di kolom komentar bukan lagi teman-teman sekolahku. Bukan lagi teman ekskul, bukan lagi orang-orang yang dulu berdiskusi tentang lomba, beasiswa, atau kampus impian.

Awalnya hanya satu dua akun yang kukenal dari kalangan itu. Lalu bertambah. Lalu tanpa kusadari, hampir seluruh interaksi di akun baruku datang dari orang-orang dengan pemahaman yang sama. Mereka menyapaku dengan istilah-istilah yang dulu terasa asing. Mereka memanggilku dengan sebutan yang mengesankan kedekatan ideologis, bukan kedekatan personal. Aku merasa diterima. Merasa dipahami. Dan yang lebih berbahaya, aku merasa dibenarkan.

Padahal dulu lingkaran pertemananku berbeda sekali. Aku tumbuh di antara teman-teman yang ambisius. Kami mengikuti ekskul, lomba, olimpiade. Obrolan kami berkisar pada masa depan, pada kampus-kampus ternama, pada mimpi yang ingin kami capai sebelum usia dua puluh lima. Aku adalah bagian dari itu. Aku pernah punya daftar target, punya keinginan kuat untuk kuliah di kampus yang bagus. Itu dulu menjadi kebanggaanku.

Namun secara perlahan, kebanggaan itu berubah menjadi terasa hampa. Dalam lingkaran pertemananku yang baru, pembicaraan tentang kampus dan karier terdengar seperti kesibukan dunia yang sia-sia. Aku mulai mengulang kalimat yang sering kali kudengar: bahwa dunia ini sementara, bahwa pendidikan tinggi bukan ukuran kemuliaan, bahwa kehidupan sejati bukan di sini. Tanpa kusadari, cita-cita yang dulu kurawat bertahun-tahun terasa mengecil. Aku yang dulu berambisi masuk kampus terbaik dengan jurusan yang ku idam-idamkan sejak kecil, mulai mempertanyakan untuk apa semua itu. Bahkan sering kali terlintas keinginan untuk tidak melanjutkan kuliah sama sekali.

Di lingkaran baru itu, aku menemukan perempuan-perempuan yang kisahnya mirip denganku. Mereka juga merasa “tersadar”. Mereka juga merasa menemukan kebenaran yang sebelumnya tersembunyi. Kami saling menguatkan. Saling membagikan kutipan, saling mengirim pesan panjang tentang hijrah, tentang perjuangan, tentang keberanian meninggalkan dunia lama.

Salah satu dari mereka pernah bercerita bahwa ia bercerai dari suaminya. Ia lalu menikah lagi dengan seorang ikhwan yang pemahamannya sejalan dengan kelompok kami. Ia juga meninggalkan anak-anaknya dari pernikahan sebelumnya. Dulu, mungkin aku akan terkejut mendengar itu. Tapi saat itu, aku justru melihatnya sebagai bentuk pengorbanan. Sebuah langkah dakwah yang berat tapi dianggap perlu. Keluarganya yang tidak sepemahaman dengannya disebut sebagai penghalang. Dan di dalam narasi yang terus kami ulang, penghalang dijalan dakwah ini memang harus ditinggalkan.

Aku tidak lagi melihat kompleksitas manusia. Tidak lagi melihat luka anak-anak yang ditinggalkan. Semua terasa hitam putih. Jika satu pihak dianggap berada di jalan yang salah, maka menjauh darinya dipandang sebagai ketegasan iman. Dan aku mengangguk-angguk, seolah itu masuk akal.

Lingkaran pertemananku semakin mengerucut. Aku mulai mengenal nama-nama yang dulu hanya kubaca sepintas di berita. Orang-orang yang dikaitkan dengan jaringan tertentu. Obrolan-obrolan menjadi lebih tertutup, lebih eksklusif. Ada rasa bangga terselubung karena merasa berada di dalam kelompok yang “terpilih”. Semakin sempit lingkarannya, semakin kuat rasa memiliki itu.

Hingga suatu hari, Farhan mengatakan bahwa ia ingin datang menemuiku. Beberapa hari setelahnya, ia benar-benar berangkat ke kotaku. Semuanya terasa cepat, seperti keputusan-keputusan lain yang sebelumnya juga kami ambil tanpa begitu banyak pertimbangan panjang.

Dan ketika akhirnya kami bertemu, ada rasa canggung yang tidak bisa dihindari. Selama ini aku hanya melihatnya lewat layar ponsel. Wajahnya kini benar-benar ada di depanku, tanpa jarak ribuan kilometer, tanpa jeda sinyal. Ia pun melihatku secara langsung, bukan lagi dari sudut layar ponsel. Rasanya berbeda. Lebih nyata, lebih dekat, dan entah kenapa juga lebih membuatku gugup.

Kami berbicara seperti biasa, mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Tapi kedekatan fisik membuat semuanya terasa lain. Jarak yang dulu selalu terpisah layar kini tidak ada lagi. Tidak ada tombol untuk mengakhiri percakapan. Tidak ada ruang untuk berpura-pura jaringan bermasalah.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kupikirkan saat itu. Mungkin aku hanya mengikuti alur yang sudah terbangun selama berbulan-bulan. Mungkin aku merasa ini memang bagian dari konsekuensi pilihan yang sudah kuambil. Atau mungkin aku hanya tidak ingin terlihat ragu.

Sampai akhirnya sesuatu terjadi…



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar