Ketika Rasa Ngeri Pelan-Pelan Menghilang

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Menjadi Istri di Dunia yang Tak Pernah Kuinginkan

Perubahan arah itu tidak terjadi lewat satu percakapan besar. Ia datang perlahan, hampir tidak terasa, seperti arus kecil yang lama-lama menggeser haluan. Suatu hari, Farhan mengirimkan sebuah link. Ia tidak menjelaskannya panjang lebar, hanya menuliskan satu kalimat pendek yang terdengar serius “Ini penting. Supaya kamu paham apa itu perjuangan yang sebenarnya.”

Aku membuka link itu dengan ragu. Di dalamnya tersimpan kumpulan ratusan video yang berasal dari berbagai tahun. Isinya bukan ceramah, bukan kajian seperti yang selama ini sering kubaca atau kutonton. Yang kutemui justru potongan-potongan realitas keras dari wilayah konflik di Timur Tengah. Video tentang perang, tentang kekacauan, tentang orang-orang yang dihukum mati karena dianggap pengkhianat. Ada pula rekaman hukuman ekstrem yang dijalankan atas nama penegakan moral. Semuanya disajikan tanpa sensor, tanpa jarak emosional, tanpa pengantar yang menenangkan, seolah penonton memang diharapkan untuk langsung berhadapan dengan apa yang mereka sebut sebagai “kenyataan di lapangan”.

Reaksi pertamaku adalah menutup layar. Ada rasa mual, takut, dan tidak percaya. Aku belum pernah melihat hal-hal seperti itu sebelumnya. Tidak pernah secara langsung disodorkan kepadaku, apalagi dalam jumlah sebanyak itu. Jantungku berdegup cepat, dan aku bertanya-tanya kenapa aku harus melihat semua ini. Tapi Farhan sudah lebih dulu memberi bingkai. Ia mengatakan bahwa apa yang kulihat bukan kekerasan tanpa makna, melainkan bagian dari sejarah perjuangan umat. Bahwa semua itu terjadi karena ada musuh, ada pengkhianatan, ada penindasan yang selama ini disembunyikan.

Di setiap video itu, ada pola yang terus berulang. Setelah hukuman dijalankan, biasanya muncul penjelasan tentang siapa orang yang dihukum itu, kesalahan apa yang ia lakukan menurut versi mereka, dan mengapa tindakan tersebut dianggap perlu. Penjelasan itu hampir selalu disertai dengan potongan ayat Al-Qur’an atau rujukan ke hukum agama yang ditafsirkan secara tegas dan kaku. Narasinya rapi, runtut, dan terdengar yakin. Tidak ada ruang untuk bertanya. Tidak ada alternatif penafsiran. Dan di situlah sesuatu mulai bergeser dalam pikiranku. Bukan hanya karena kata-kata Farhan, tapi karena tayangan-tayangan itu memberi kesan seolah semua tindakan tersebut memiliki dasar yang sah, memiliki legitimasi agama yang tidak bisa diganggu gugat. Kekerasan tidak lagi berdiri sendiri, ia dibungkus oleh dalil, oleh penjelasan, oleh klaim kebenaran yang terdengar final.

Awalnya aku menolak. Aku mengatakan bahwa aku tidak sanggup menontonnya. Terlalu berat, terlalu menakutkan. Tapi Farhan tidak memaksaku secara langsung. Ia hanya berkata bahwa rasa tidak nyaman itu wajar, bahwa setiap orang yang baru “membuka mata” pasti akan melalui fase itu. Ia menuliskan bahwa selama ini umat Islam dilemahkan bukan karena kurang iman, tapi karena terlalu lama dijauhkan dari realitas perjuangan. Kalimat-kalimatnya tidak bernada marah, justru terdengar seperti pembenaran yang tenang. Dan tanpa kusadari, pembenaran itu memberiku alasan untuk membuka link itu lagi, lain waktu, dengan durasi yang sedikit lebih lama.

Video-video itu tidak hanya satu atau dua. Jumlahnya ratusan, tersusun berdasarkan tahun, seolah-olah membentuk arsip panjang tentang sebuah narasi besar yang ingin ditanamkan. Dari tahun ke tahun, dari konflik ke konflik, semuanya diarahkan pada satu kesimpulan yang sama: bahwa dunia ini sedang berada dalam perang yang tidak semua orang berani mengakuinya. Bahwa ketegasan dianggap perlu, bahkan mutlak. Dan bahwa kemunduran umat selama ini disebabkan oleh terlalu banyak kompromi.

Pelan-pelan, sesuatu di dalam diriku berubah. Bukan tiba-tiba menyukai apa yang kulihat, tapi mulai terbiasa. Apa yang awalnya membuatku menutup mata, lama-lama kutonton dengan wajah datar. Lalu muncul perasaan lain yang sulit kujelaskan, perasaan bahwa semua itu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang dianggap benar dan sah dalam narasi yang terus diulang Farhan dan diperkuat oleh potongan-potongan dalil yang mengiringinya. Kekerasan tidak lagi hadir sebagai kekerasan semata, tapi sebagai konsekuensi, sebagai “ketegasan”, sebagai harga yang katanya harus dibayar demi sebuah tujuan yang suci.

Di sela-sela video itu, Farhan sering menyelipkan penjelasan. Tentang bagaimana perjuangan semacam itu tidak hanya terjadi di luar negeri. Tentang bagaimana negeri ini pun, menurutnya, adalah bagian dari medan yang sama. Farhan mengatakan bahwa negeri ini adalah negeri yang kafir dan suatu hari nanti perjuangan itu juga harus dilakukan di sini, dengan cara yang mungkin belum bisa kubayangkan sepenuhnya. Ia tidak mengatakan semuanya secara gamblang, tapi cukup untuk menanamkan satu gagasan: bahwa apa yang kulihat bukanlah sesuatu yang jauh, bukan pula cerita orang lain.

Tanpa kusadari, batas-batas yang dulu kupegang mulai bergeser. Aku mulai mengulang kembali narasi yang ia tanamkan, bahkan kepada diriku sendiri. Bahwa semua ini terjadi karena ketidaktegasan. Bahwa kebenaran memang tidak selalu lembut. Dan bahwa rasa tidak nyaman yang kurasakan mungkin hanyalah tanda bahwa aku sedang belajar melihat dunia apa adanya, bukan lagi seperti yang selama ini diajarkan kepadaku.

Perubahan itu mencapai titik lain ketika aku membuat sebuah akun media sosial baru. Akun yang isinya bukan lagi potongan hidupku, bukan foto, bukan cerita sehari-hari. Aku mulai membagikan ulang potongan-potongan video itu, disertai kutipan dan dalil yang kubaca dari lingkaran yang sama. Aku menyebutnya dakwah. Menyampaikan kebenaran. Farhan mendukung penuh. Ia mengatakan bahwa apa yang kulakukan adalah bentuk keberanian, bahwa tidak semua orang sanggup berada di posisi itu. Dukungan itu memberiku rasa berarti yang sudah lama tidak kurasakan.

Dan di sanalah aku mulai melihat satu hal dengan lebih jujur bahwa yang sedang berubah bukan hanya arah obrolan kami, tapi juga cara pandangku terhadap dunia, terhadap manusia lain, bahkan terhadap diriku sendiri. Aku belum sepenuhnya sadar ke mana semua ini akan membawaku. Tapi aku tahu, langkah kecil yang kuambil hari itu bukan lagi sekadar soal pernikahan, atau kesepian, atau mencari tempat pulang.

Saat itu, aku masih mengira aku sedang memilih jalan dengan sadar. Padahal tanpa kusadari, aku sedang belajar untuk berhenti merasa ngeri dan itu mungkin adalah perubahan yang paling berbahaya dari semuanya.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar