Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Saat Jawaban Pasti Menjadi Jebakan
Hari-hari setelah aku mengenal Farhan terasa seperti memasuki bab baru dalam hidupku. Setiap kali notifikasi pesannya muncul, aku seperti mendapat suntikan semangat baru. Ia terus mengirimkan e-book, video, dan tulisan yang katanya bisa membantuku “Melihat kebenaran dengan mata hati, bukan dengan pandangan dunia.” Awalnya aku hanya membaca, lalu perlahan mulai meyakini. Setiap dalil, setiap potongan ayat, terasa seperti penjelasan logis atas semua yang dulu membingungkanku.
Dan aku tidak berhenti di situ. Entah sejak kapan, muncul dorongan untuk membagikan semua itu pada orang lain. Mungkin karena aku merasa sudah menemukan kebenaran yang seharusnya juga diketahui semua orang. Mungkin juga karena aku ingin diakui, bahwa pencarianku selama ini tidak sia-sia.
Di sekolahku, setiap pagi selalu ada kegiatan tadarus dan kultum bergilir sebelum pelajaran dimulai. Biasanya, siswa akan berbicara tentang adab, kejujuran, atau kisah para nabi. Tapi ketika giliranku tiba, aku memilih tema lain: tentang Tauhid, tentang Thoghut, tentang bagaimana sistem dunia telah menyesatkan umat. Aku mengutip potongan ayat yang dulu dikirimkan Farhan, menegaskan bahwa hukum Allah adalah satu-satunya hukum yang sah, sementara demokrasi adalah sistem kafir buatan manusia. Aku masih ingat kalimat yang sering kuucapkan dengan penuh keyakinan:
“Kalau kita mengakui hukum manusia lebih tinggi dari hukum Allah, berarti kita sudah menjadikan manusia sebagai tuhan selain Allah. Itu artinya kita telah menyembah Thoghut.”
Beberapa teman menatapku heran. Beberapa lain menunduk, mungkin bingung, mungkin tak peduli. Tapi aku tidak gentar. Aku justru merasa seperti sedang menjalankan tugas penting, menyampaikan kebenaran, meski harus sendirian.
Seiring waktu, isi kultumku semakin keras. Aku mulai berani mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kafir, karena berdiri di atas sistem demokrasi yang menolak hukum Allah. Aku juga mengatakan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah menjadi teman bagi orang beriman, bahkan tidak layak untuk mendapat belas kasih. Aku berbicara dengan nada penuh kepastian, seolah-olah aku sedang mengemban misi suci.
Aku tidak sadar, perlahan kata-kataku mulai membuat orang lain menjauh.
Beberapa teman berhenti menyapaku. Beberapa lain hanya tersenyum canggung setiap kali aku lewat. Ada yang berbisik-bisik di belakangku, menyebutku fanatik, aneh, bahkan “terlalu serius sama agama.” Sekarang aku mungkin akan sedih, tapi saat itu aku malah merasa bangga. Aku menganggap diriku berbeda, lebih paham, lebih “benar.”
Di waktu yang sama, penampilanku juga berubah. Aku mulai memakai jilbab lebar, pakaian longgar, dan menutup hampir seluruh wajahku dengan masker karena sekolah melarang cadar. Aku merasa harus menjaga diri dari pandangan dunia, dari fitnah, dari apa pun yang menurutku bisa menodai kemurnian iman.
Suatu pagi, seorang teman yang dulu cukup dekat menatapku ragu dan bertanya pelan,
“Nas, kenapa kamu sekarang beda banget, sih?”
Aku hanya tersenyum.
“Karena aku baru tahu mana yang benar.”
Jawaban itu kuucapkan dengan tenang, tapi sebenarnya di dalam hati aku sedang menutup pintu. Sejak saat itu, aku mulai melihat teman-temanku dengan kacamata baru, kacamata yang membuatku sulit mengenali mereka sebagai manusia yang sama seperti dulu.
Bagi aku yang sedang yakin-yakinnya, mereka semua tampak salah. Mereka masih ikut pemilu, masih nonton konser, masih tertawa di kantin dengan pakaian yang menurutku “tidak syar’i.” Mereka terlihat terlalu duniawi, terlalu nyaman hidup di sistem kufur. Dalam pandanganku saat itu, mereka bukan sekadar berbeda, tapi sudah tersesat.
Dan ketika aku mulai merasa terasing di dunia nyata, dunia maya justru terasa semakin akrab. Di media sosial, aku bertemu dengan banyak orang yang sepemikiran, remaja-remaja lain dari berbagai daerah, yang mengunggah potongan ayat dan tulisan tentang jihad, tentang khilafah, tentang perjuangan menegakkan hukum Allah. Kami saling menyemangati, saling membagikan bacaan, saling meneguhkan bahwa dunia memang tidak akan memahami kami, tapi Allah pasti akan membalas semua pengorbanan kami.
Farhan masih sering mengirimkan pesan. Kali ini bukan sekadar e-book, tapi juga video-video ceramah dari tokoh yang kukenal lewat dunia maya. Ia berkata,
“Jangan berhenti menyampaikan kebenaran, Nasya. Meski mereka menolak, tugas kita hanya menyampaikan.”
Aku menyimpan kalimat itu baik-baik. Setiap kali aku merasa sendirian di sekolah, aku mengulangnya dalam hati. “Tugas kita hanya menyampaikan.” Kata-kata itu menjadi pembenaran untuk semua jarak yang mulai terbentuk antara aku dan dunia di sekitarku.
Lama-lama, aku benar-benar tidak punya teman dekat lagi. Aku berhenti nongkrong di kantin dan berhenti berbincang ringan dengan siapa pun. Setiap kali ada yang mencoba mendekat, aku malah merasa mereka sedang menguji imanku. Aku tidak mau goyah. Aku harus tegas. Aku harus berbeda.
Namun, di balik keyakinan itu, ada sesuatu yang diam-diam tumbuh yaitu rasa sepi.
Aku mulai menghabiskan waktu sendirian, membaca e-book atau menonton video dari akun-akun yang direkomendasikan Farhan. Kadang aku merasa ragu, tapi setiap kali keraguan itu datang, aku buru-buru menepisnya dengan kalimat yang sama: “Keraguan itu dari setan.”
Hari-hari berjalan seperti itu terus. Aku semakin jarang berbicara dengan siapa pun kecuali Farhan. Ia menjadi satu-satunya tempatku bercerita, bertanya, dan merasa diterima. Ia tidak pernah menertawakan pertanyaanku, tidak pernah menolak pandanganku. Ia selalu mengiyakan, seolah setiap kata yang kuucapkan adalah langkah menuju kebenaran.
Sampai suatu hari, aku berdiri di depan cermin di kamar, menatap pantulan wajahku yang nyaris tak kukenal lagi. Wajah yang tertutup masker, mata yang lelah tapi penuh tekad. Aku teringat bagaimana dulu aku sering tertawa bersama teman-temanku, bercanda tentang masa depan, tentang kuliah, tentang hal-hal kecil yang kini terasa jauh.
Aku mencoba mengingat, kapan tepatnya aku mulai menjauh dari mereka. Apakah saat aku mulai percaya pada kata-kata Farhan? Atau saat aku mulai merasa lebih suci daripada orang lain? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, dunia yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi sunyi dan kaku.
Kadang, di malam hari, aku membuka akun media sosial lamaku, akun yang dulu penuh dengan unggahan ringan tentang kehidupan sehari hari. Aku melihat komentar dari teman-teman lama, pesan yang belum kubalas, kenangan yang rasanya seperti dari kehidupan lain. Tapi setiap kali aku hampir meneteskan air mata, aku buru-buru menutup layar dan mengingat pesan Farhan:
“Jangan terikat pada masa lalu. Dunia ini hanya tempat ujian. Mereka yang tidak paham akan meninggalkanmu, tapi Allah akan menggantinya dengan saudara seiman yang sejati.”
Kata-kata itu menenangkan sekaligus menakutkan. Menenangkan karena membuatku merasa tidak benar-benar sendiri. Menakutkan karena membuatku semakin yakin bahwa aku harus menjauh dari semua yang dulu kucintai.
Kini, ketika aku menulis ini, aku menyadari bahwa di masa itu aku sebenarnya sedang kehilangan arah, bukan menemukan kebenaran. Aku merasa berjuang di jalan Allah, padahal perlahan aku sedang kehilangan sisi kemanusiaanku. Aku berhenti mendengarkan, berhenti berdialog, berhenti melihat orang lain sebagai manusia yang sama-sama berjuang.
Dan semua itu berawal dari hal yang tampak sederhana: sebuah kultum pagi di sekolah, beberapa pesan di ponsel, dan keyakinan buta bahwa aku lebih tahu daripada siapa pun. Itulah saat ketika aku mulai menjauh dari dunia yang kukenal dan tanpa kusadari, dunia itu juga mulai menjauh dariku.
Ilustrasi: By AI (Gemini)
Komentar