Saat Jawaban Pasti Menjadi Jebakan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Jejak Pertama: Penasaran, Pertanyaan, dan Pintu Baru

Hari-hari setelah aku mengenal Farhan terasa berbeda. Setiap kali membuka ponsel, selalu ada notifikasi baru darinya: pesan panjang yang berisi penjelasan agama, tautan artikel, atau e-book tentang Tauhid dan Thoghut. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan penuh kesabaran, seolah benar-benar peduli pada pencarianku. Bagiku, itu pengalaman baru—ada seseorang yang mau mendengar, mau menjawab, bahkan memberi bacaan untuk menuntunku.

Aku membaca semua yang ia kirim dengan serius. Bukan sekadar menelusuri, melainkan menyelami setiap kata. Aku mencatat istilah baru, mengulang kalimat yang terasa penting, bahkan terkadang merasa mendapat pencerahan setelah menutup e-book. Rasanya seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang. Ada kepuasan tersendiri ketika pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bergema di kepalaku seolah mendapat jawaban yang jelas.

Namun, di balik rasa puas itu, ada kebingungan yang diam-diam tumbuh. Aku masih ingat betul insiden bom Thamrin pada awal 2016. Saat itu, aku marah, kecewa, dan mengutuk keras pelakunya. Bagiku, kekerasan yang membunuh orang tak bersalah adalah kejahatan. Tapi kini, setelah membaca narasi tentang jihad, tentang perlawanan terhadap Thoghut, aku mulai bingung. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu kejam bisa dipandang mulia dalam sudut pandang lain?

Pertanyaan itu tidak membuatku berhenti, justru membuatku ingin tahu lebih banyak. Rasa penasaran itu seperti api kecil yang terus dipantik. Farhan dengan sabar menjawab: “Itulah jihad. Selama sistem Thoghut berkuasa, umat tidak akan bebas. Perlawanan adalah kewajiban.” Kata-kata itu menohok. Tidak ada keraguan di dalamnya, hanya kepastian yang tegas.

Aku pun bertanya-tanya, apakah aku yang selama ini salah memahami agamaku? Ataukah memang ada kebenaran yang selama ini tersembunyi? Kebingungan itu membuatku semakin terjerat, bukan karena aku sepakat sepenuhnya, melainkan karena aku haus jawaban. Setiap kali aku ragu, Farhan selalu menguatkanku dengan dalil atau kisah. Ia menegaskan bahwa keraguan hanya datang dari kelemahan iman, sementara kebenaran itu pasti dan sederhana: hukum Allah adalah satu-satunya jalan.

Di titik ini, aku menyadari betapa lemahnya posisiku sebagai remaja. Aku masih mencari jati diri, tapi menemukan jalan pintas yang menjerumuskan. Keluargaku tidak cukup religius untuk memberi jawaban, lingkungan sekitarku tidak menyediakan ruang diskusi yang dalam, dan guru di sekolah tidak pernah membahas hal-hal seperti ini. Akhirnya, aku hanya mengandalkan apa yang kutemukan di dunia maya—dari seseorang yang baru kukenal, tapi terasa lebih meyakinkan daripada siapa pun di sekitarku.

Setiap argumen Farhan semakin membentuk caraku memandang dunia. Ia menjelaskan bahwa sistem demokrasi adalah sistem kufur, hukum buatan manusia hanyalah penipuan, dan semua itu adalah bagian dari Thoghut yang menjerumuskan umat. Aku yang awalnya hanya penasaran, perlahan mulai menerima narasi itu sebagai kebenaran. Bukan karena aku benar-benar yakin, melainkan karena aku merasa tidak punya alternatif jawaban lain.

***

Jika kuingat kembali, langkah pertamaku sebenarnya bukan saat membaca komentar di Instagram, tapi ketika aku memilih untuk percaya. Percaya bahwa jawaban tegas lebih meyakinkan daripada keraguan. Percaya bahwa dalil yang dikutip tanpa ruang diskusi adalah kebenaran mutlak. Itulah langkah pertamaku menuju dunia yang salah.

Di balik semuanya, ada sisi diriku yang polos dan rapuh. Aku hanya seorang remaja yang ingin dimengerti, ingin tahu arah, dan ingin merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dan ketika ada seseorang yang menawarkan jawaban pasti, aku menerimanya tanpa banyak bertanya lagi. Aku tidak sadar bahwa di balik kepastian itu, ada jebakan yang membawaku jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang dulu kupegang erat.

Kini, ketika aku menengok ke belakang, aku bisa melihat dengan jelas betapa berbahayanya titik awal itu. Sebuah langkah kecil—sekadar membuka chat, membaca e-book, dan menerima penjelasan tanpa kritis—ternyata bisa menjadi pintu masuk ke jalan panjang yang penuh bahaya. Jalan yang tidak hanya mengubah caraku berpikir, tapi juga caraku melihat dunia dan orang-orang di sekitarku.

Dan begitulah, langkah pertamaku yang tampak sederhana justru menjadi pintu masuk menuju dunia yang salah. Dunia radikalisme yang perlahan, tanpa kusadari, mulai membentuk diriku dari dalam.

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar