Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Ketika Janji Perlindungan Menjadi Jalan Gelap
Sejujurnya pada titik dimana jari jemariku mulai mengetik jawaban untuk membalas pesan Farhan, kepalaku sudah terlalu penuh untuk bisa membedakan mana yang benar-benar berasal dari diriku dan mana yang muncul karena aku terlalu lama berada dalam ruang berpikir Farhan. Semua terasa seperti kabut yang menebal dari hari ke hari. Setelah obrolan panjang yang berkali-kali membuatku kehilangan arah, aku akhirnya mengiyakan ajakan menikah itu, meski dengan satu syarat yang jelas, satu batas yang kupikir masih bisa kujadikan pegangan kecil agar aku tidak benar-benar tenggelam, “tidak ada hubungan intim, tidak ada hubungan suami-istri dalam bentuk apa pun sampai pernikahan kami sah secara negara, orang tuaku tahu dan aku sudah selesai sekolah.” Aku menyampaikan itu dengan hati-hati dan Farhan langsung menjawab seolah ia sudah memikirkan skenario seperti itu dari awal. “Iya, tentu. Kita bisa menjalani semuanya tanpa sentuhan apa pun. Menikah bukan soal itu dulu, tapi soal menjaga kamu dari dosa dan dari keluarga yang… kamu tahu sendiri bagaimana,” katanya. Seolah-olah seluruh batas yang kubuat justru membuatnya semakin yakin, bukan ragu.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu berarti ia bukan tipe yang memaksa. Tapi terselip juga sesuatu yang aneh, karena permintaanku yang mestinya jadi rem justru ia sambut seperti angin kecil yang tak mengubah apa-apa. Tapi aku terlalu jauh untuk berhenti pada saat itu.
Lalu aku bertanya, “Gimana cara menikahnya? Aku gak mungkin datang ke tempat amir jamaah kamu. Apalagi sendirian.” Aku masih memakai logika seadanya, sebisaku, meski sebagian dari diriku sendiri pun sadar bahwa logika itu sudah mulai retak-retak. Farhan menjelaskan bahwa kami bisa menikah secara online. “Cukup aku saja yang hadir di depan amir jamaahku. Kamu nanti yang akan diwakili. Amir jamaah ku akan menikahkan kamu denganku. Nikahnya sah,” balasnya dengan keyakinan yang mantap, seolah hal semacam itu adalah hal biasa dilakukan.
Kalimat itu langsung membuat pikiranku mengerut. “Tapi… nanti ada videonya kan?” tanyaku, mencoba tetap rasional. “Setidaknya biar aku tahu prosesnya beneran terjadi.” Tapi Farhan langsung menjawab, cepat, tanpa jeda: “Gak bisa divideo-in. Demi menjaga kerahasiaan wajah amir jamaah. Itu sudah aturan.” Aku terdiam lama, menimbang. Di satu sisi, aku tidak ingin menyinggungnya. Di sisi lain, aku tidak bisa memaksa diriku untuk menerima semua begitu saja.
“Kenapa harus dirahasiakan? Maksud aku, aku juga gak akan nyebarin kemana-mana,” jawabku. Farhan mengulang lagi, “Ini memang begini aturannya. Kita gak bisa langgar.” Dan aku tahu dari balasan pesannya bahwa jawabanku tidak akan mengubah apa pun. Tapi tetap saja, aku mencoba berpegang pada hal kecil. “Kalau begitu… bukti apa? Foto? Apa pun?” tanyaku. Dan lagi-lagi, jawabannya sama: “Gak bisa. Foto juga gak boleh, karena wajah amir jamaah akan kelihatan.”
Kepalaku mulai terasa hangat, seperti ada suara kecil yang memaksa berkata ini tidak masuk akal, tapi suara itu langsung ditenggelamkan oleh sesuatu yang lebih besar: ketakutanku untuk kehilangan Farhan, untuk kehilangan seseorang yang sudah menjadi tempatku bersandar beberapa bulan terakhir. “Gimana kalau rekaman suara?” tanyaku akhirnya, sebagai jalan tengah terakhir. Farhan diam beberapa detik, lalu membalas, “Oke. Nanti aku kirimkan rekamannya.”
Setidaknya itu membuatku sedikit lebih tenang, meski bukan sepenuhnya.
Lalu ia bertanya, “Mahar apa yang kamu mau dariku?” Dan itu membuatku semakin gugup. Aku bahkan tidak sempat memikirkan mahar. “Kamu punya apa?” jawabku, aku mengetiknya dengan lambat dan setelah pesan itu terkirim, aku menutup mata karena tidak ingin melihat kenyataan. Farhan lalu mengatakan ia akan memberikan sebuah jam sebagai mahar. Jam. Entah mengapa benda sesederhana itu justru membuatku semakin bingung, tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan panjang-panjang karena ia terus menuntut jawaban yang cepat, seperti semua ini harus terjadi malam itu juga, detik itu juga.
Akhirnya aku hanya mengangguk, meskipun Farhan juga tidak dapat melihatnya dan aku mengatakan bahwa aku setuju. Di luar, rumahku sudah sepi. Lampu ruang tamu sudah mati, suara pertengkaran ayah dan ibu yang biasanya mengisi malam juga kebetulan tidak ada. Semua terasa sunyi dan mungkin karena kesunyian itu pula aku semakin sulit membedakan antara keyakinan dan ketakutan yang menyamar sebagai keyakinan.
Waktu menunjukkan hampir jam dua pagi ketika Farhan berkata, “Kamu tidur saja. Besok pagi aku kabarin kalau kita sudah sah menikah.” Aku hanya bisa mengetik, “Iya.” Tidak ada yang lain. Sebagian dari diriku merasa seperti sedang melangkah ke sesuatu yang besar, tapi tidak jelas bentuknya apa. Sebagian yang lain merasa seperti sedang duduk di tepi jurang tapi pura-pura percaya itu taman.
Pagi harinya, sekitar jam lima, ponselku bergetar. Satu pesan dari Farhan muncul di layar. “Kita sudah sah,” tulisnya. “Kita sudah sah menjadi suami istri.”
Dadaku langsung terasa kosong. Bukan lega. Bukan bahagia. Hanya kosong. Lalu muncul sesuatu yang terasa seperti ingin memastikan diriku sendiri tidak sedang tertipu. Aku langsung bertanya, “Mana buktinya? Mana rekaman suaranya?” Jawaban Farhan datang cepat, bahkan lebih cepat dari pesan tentang pernikahan itu sendiri. “Maaf. Aku gak bisa kasih. Aku dilarang oleh amir jamaah untuk merekam apa pun, baik suara maupun video.”
Aku menatap layar lama sekali. Pesannya tidak berubah, tapi dunia di dalam kepalaku berubah pelan-pelan, retak-retak kecil yang baru terasa ketika aku perhatikan. “Jadi… gak ada apa pun?” tanyaku. “Gak ada bukti sama sekali?”
Farhan membalas, “Kita sudah sah. Kamu gak perlu bukti. Yang penting Allah tahu.”
Dan di titik itu, ada jeda panjang. Jeda yang membuatku menatap dinding kamarku seperti sedang mencari jawaban yang tak muncul-muncul. Sesuatu terasa mengganjal, tapi aku belum berani mengakuinya. Belum berani mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang merasa sesuatu tidak beres.
Aku menatap layar sekali lagi, berharap ada pesan susulan yang memberikan kepastian, atau setidaknya membuat semuanya terasa masuk akal. Tapi tidak ada apa-apa. Hanya tanda “online” yang muncul dan hilang dari namanya.
Dan di titik itu, di pagi yang terasa panjang dan ganjil itu, aku tahu satu hal yang sangat jelas: apa pun yang baru saja terjadi, aku akan mengetahui konsekuensinya nanti. Tidak saat itu juga. Tidak dalam hitungan menit.
Tapi nanti.
Dan entah itu membuatku lega atau justru takut… aku belum tahu.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar