Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Pesan yang Mengubah Segalanya: “Bagaimana Kalau Kita Menikah Saja?”
Setelah pesan ajakan menikah itu muncul di layar ponselku, aku hanya terpaku lama… lebih lama dari bagaimana biasanya aku mencerna sesuatu yang mengejutkan. Waktu seakan membentang, seperti ada jeda panjang antara detak jantung pertama yang memburu dan detak berikutnya yang terasa nyaris tidak terdengar.
Aku masih kelas 3 SMA, masih berkutat dengan buku-buku ujian, masih mencoba memahami hidupku sendiri yang bahkan di dalam rumah terasa seperti ladang retak yang tidak pernah benar-benar berhenti bergoyang. Pernikahan tidak pernah ada dalam daftar rencana jangka dekatku. Aku bahkan tidak pernah berani membayangkan diri duduk di pelaminan ketika aku masih bingung mengartikan apa itu ketenangan. Tapi pesan Farhan hadir tanpa memberi kesempatan untuk bernafas, seolah keputusan sebesar itu bisa dibicarakan dengan ringan, seperti membahas jadwal belajar atau memilih buku mana yang harus kubaca dulu malam ini.
Aku tidak langsung membalas. Tanganku hanya menggenggam ponsel erat sekali, sementara pikiranku berjalan zig-zag, mencari pegangan. Tapi tak sampai dua menit setelah diamku, Farhan mengirim pesan lagi. Isinya lebih panjang, lebih terstruktur, dan terasa jelas bahwa ia memilih setiap kata dengan cermat untuk membuatku tetap berada dalam percakapan itu.
Ia menuliskan bahwa menikah bukan soal perasaan semata, tapi soal menyelamatkan iman, soal melindungi diri dari fitnah, dari dosa, dari segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika kami terus berinteraksi tanpa ikatan yang sah. Ia mengatakan bahwa denganku yang sudah mulai memahami jalan ini, pernikahan adalah bentuk penjagaan, sesuatu yang dianggapnya wajar dan bahkan dianjurkan. Katanya, dengan menikah, aku bisa belajar lebih banyak tentang tauhid, tentang manhaj, tentang apa yang disebutnya sebagai jalan kebenaran yang lurus. Semua itu ditulis dengan nada lembut, tenang, tidak berbunyi memaksa namun terasa menekan dalam cara yang hampir tidak terdengar.
Bagian yang membuatku goyah justru ketika ia kembali menyentuh hal-hal yang ia tahu paling sensitif tentang hidupku, tentang rumah yang jarang sekali damai, tentang ayah dan ibu yang berdebat karena hal-hal yang semakin lama tidak lagi bisa kupahami, tentang kebiasaan ayah mengucapkan kata-kata kasar, tentang ketegangan yang membuatku sering memilih mengurung diri di kamar. Aku bukan anak dari keluarga yang berantakan secara legal, tapi suasana yang kutinggali sudah lama tidak terasa seperti tempat untuk pulang. Farhan tahu itu dan di titik itulah ia meletakkan umpannya.
“Kamu gak perlu terus hidup dalam suasana yang berat,” tulisnya. “Kalau kita menikah, kamu punya tempat bernaung. Kamu punya pegangan yang benar. Kamu gak akan sendirian lagi.”
Kalimat itu menyentuh sisi dalam diriku, bagian yang tidak pernah berani kuakui kepada siapa pun. Ada rasa ingin percaya, rasa ingin diambil dari kekacauan itu. Ada juga rasa malu karena membiarkan diriku terpengaruh oleh kata-kata yang seharusnya kuhadapi dengan lebih kritis. Tapi di balik semua itu, ada titik rapuh yang selama ini kusembunyikan dan Farhan menunjuk tepat ke sana.
Meski begitu, aku masih mencoba bertanya dengan suara yang nyaris goyah. “Terus sekolahku bagaimana? Aku gak mau berhenti sekolah.” Itu satu-satunya hal yang masih terasa masuk akal dalam pikiranku yang mulai kabur.
Ia membalas secepat kilat, seperti sudah mempersiapkannya sejak lama. “Kamu tetap bisa sekolah. Nikah gak akan mengganggu apa pun. Kamu tetap belajar, tetap ujian, tetap lulus. Justru kamu akan lebih fokus, karena kamu sudah berada di jalan yang benar.” Kalimat itu seperti menggeser salah satu pagar pertahanan terakhirku. Farhan menawarkan solusi, bukan penghalang. Dan itu cukup membuatku diam lebih lama daripada sebelumnya.
Namun ada satu hal yang tak bisa kuhindari untuk dipertanyakan. “Terus orangtuaku gimana? Aku masih butuh wali.”
Jawabannya panjang dan di situlah arah sebenarnya mulai tampak dengan jelas. “Ayahmu gak bisa jadi wali. Dia kafir. Dia gak berhukum dengan syariat Allah. Ibumu juga sama. Mereka mengikuti sistem demokrasi. Wali yang tidak berada di jalan Allah, gugur otomatis. Kamu gak perlu izin mereka.” Kata-kata itu membuatku mual. Bukan karena yang ia sebut tidak mungkin, tapi karena aku tahu aku nyaris tidak punya lagi orang yang bisa kutanyakan kebenaran pernyataan itu. Aku sudah menjauh dari siapa pun yang mungkin memintaku berhenti. Aku sedang berdiri sendiri, tepat seperti yang membuatku rentan.
“Terus siapa walinya?” tanyaku pelan. Jemariku dingin.
“Amir jamaah” jawabnya. “Pemimpin kami. Dia wali yang sah di sisi Allah. Dia yang akan menikahkan kita. Itu lebih murni daripada orang yang sudah keluar dari hukum-Nya.” Istilah itu ‘amir jamaah’ terasa asing dan jauh, tapi aku terlalu bingung untuk memprosesnya. Seolah-olah ada dunia lain yang selama ini hanya kulihat dari jauh dan kini sedang membuka pintunya sedikit demi sedikit.
“Tapi orangtuaku pasti curiga,” tulisku. “Aku masih sekolah. Masa tiba-tiba nikah?”
“Kamu gak perlu cerita dulu,” balasnya. “Kita nikah dulu. Diam-diam. Sah. Setelah itu, kalau waktunya tepat, kamu bisa bilang. Atau gak usah juga gak apa-apa. Mereka gak bisa jadi wali kamu. Mereka gak di jalan Allah. Jadi kamu gak perlu minta izin.”
Di bagian itu, aku merasa seperti sedang ditarik ke dua arah. Ada logika kecil yang memprotes, berteriak bahwa semua ini tidak benar. Tapi di sisi lain, ada rasa yang sudah lama haus akan ketenangan, haus akan seseorang yang terlihat mau mendengarkan, mau memahami, mau menawarkan tempat yang mungkin tidak kukenal tapi terasa seperti jalan keluar. Farhan menekan titik-titik yang paling rapuh dalam diriku dan ia tahu persis bagaimana cara membuatnya terlihat seperti penyelamatan, bukan jebakan.
“Kamu mau keluar dari rumah yang penuh pertengkaran itu, kan?” tulisnya lagi. “Kamu mau hidup tenang, kan? Kamu mau ada yang membimbing kamu menuju jalan kebenaran, kan?” Kalimat itu menusuk. Bukan karena isinya salah, tapi karena aku tahu, untuk pertama kali dalam waktu yang lama, aku ingin berkata iya. Ingin lari dari rumah tanpa harus benar-benar pergi. Ingin merasa aman tanpa harus meminta siapa pun di rumahku untuk berubah.
Dan Farhan memanfaatkan itu dengan sangat halus, nyaris tidak terlihat. Kata-katanya lembut, tapi efeknya menghantam seperti ombak besar yang menyeret seseorang tanpa sempat mengambil napas.
“Kamu tinggal bilang iya,” tulisnya pada pesan terakhir malam itu. “Setelah itu, amir jamaah ku akan menikahkan kita. Semuanya akan lebih mudah.”
Aku menatap layar ponsel begitu lama, sampai rasanya seluruh ruang kamarku ikut tertahan dalam keheningan yang menggedang. Antara takut dan tertarik. Antara tahu dan pura-pura tidak tahu. Antara ingin menutup percakapan itu selamanya dan ingin melihat apakah benar ada jalan keluar di balik pintu yang sedang ia buka.
Dan pada akhirnya, bukan logikaku yang bergerak. Bukan keberanianku. Yang bergerak adalah rasa kosong yang sudah lama tinggal dalam diriku,rasa yang selama ini hanya menunggu seseorang mengakuinya.
Malam itu, jari-jariku akhirnya mengetik sesuatu.
Sesuatu yang menggeser langkahku dari tepi… ke sebuah tempat yang lebih gelap, lebih dalam dan jauh lebih sulit untuk kembali.
Sesuatu yang menjadi awal dari bab yang bahkan saat ini pun masih terasa menakutkan untuk kuceritakan seluruhnya.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar