Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Sarapan Terakhir dari Tangan Ibu
Kadang, yang paling menyesatkan bukanlah kebencian, tapi kasih sayang yang datang di waktu kita paling rapuh. Seperti pelukan yang kudapat saat itu — hangat, menenangkan, tapi perlahan mengikat tanpa terasa.
Aku masih ingat betul hari itu. Bus berhenti di terminal kecil yang bahkan tak begitu ramai. Seorang perempuan bercadar hitam menungguku di ujung bangku panjang, hanya matanya yang terlihat, tapi sorot itu seakan tahu siapa yang ia cari. “Anti Vania?” tanyanya lembut. Aku mengangguk pelan. Ia tersenyum, lalu menuntunku keluar dari terminal. Tak ada yang terasa aneh saat itu, justru sebaliknya, aku merasa seperti dijemput keluarga yang sudah lama menunggu kepulanganku.
Perempuan itu membawaku ke sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, yang katanya “rumsing (rumah singgah).” Di sana aku melihat beberapa perempuan lain, sebagian muda, sebagian sudah beranak dua atau tiga. Mereka menyambutku hangat. Ada yang menyiapkan teh, ada yang memeluk sambil berbisik, “Selamat datang di jalan ini.”
Aku tak tahu harus menjawab apa. Dalam hati, aku hanya merasa… diterima. Setelah konflik panjang di rumah dan perasaan dikucilkan karena perbedaan pemahaman, kehangatan itu terasa seperti rumah baru. Tapi kini, bertahun-tahun setelahnya, aku tahu, yang menyambutku bukanlah keluarga baru, melainkan lingkar awal dari penjara ideologis yang halus dan nyaris tak terlihat.
Malamnya, aku tidur di ruangan sempit bersama lima perempuan lain. Mereka bercerita lirih, sebagian tentang suami mereka yang sedang “berjihad” dan kini mendekam di penjara. Tak ada air mata di mata mereka. Hanya kalimat yang terus diulang, “Ini ujian dari Allah. Suamiku syahid di jalan-Nya, aku harus kuat.” Saat itu aku terharu, tapi sekarang aku sadar, mereka sedang berusaha menenangkan luka yang disulap menjadi keyakinan.
Anak-anak mereka berlarian di halaman. Lucu, polos, tapi banyak dari mereka yang tak tahu baca tulis. Mereka tidak disekolahkan, karena “sekolah itu sistem kufur.” Sang ibu sibuk bekerja serabutan, menjahit, atau berjualan kecil untuk menghidupi keluarga. Di sela-sela aktivitasnya, mereka masih sempat membimbing halaqah, tapi bukan untuk belajar Al-Qur’an dalam makna yang luas, melainkan untuk mengulang narasi tentang thaghut, jihad, dan kemurnian tauhid versi mereka sendiri.
Aku sempat bertanya, “Kenapa tidak disekolahkan saja anak-anak ini?”
Salah satu ibu tersenyum, “Sekolah itu buatan orang kafir. Kita tidak butuh ijazah, yang kita butuh hanya ridha Allah.”
Jawaban itu membuatku diam lama. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tapi saat itu aku menyingkirkannya. Aku masih terlalu muda untuk berdebat.
Di tempat persinggahan itu, aku mulai paham bahwa struktur mereka terorganisir dengan rapi. Setiap daerah punya koordinator, setiap pergerakan selalu terpantau. Mereka tak sembarangan menerima orang baru, tapi begitu diterima, kau seperti menjadi bagian dari sistem yang tak bisa kau lepaskan. Mereka tahu bagaimana membuatmu merasa aman, berharga, bahkan dibutuhkan.
Kini, ketika aku menulis ini, aku sadar, rumah itu bukan sekadar tempat singgah. Itu adalah gerbang pertama menuju kehilangan: kehilangan arah, pendidikan, dan sebagian besar masa mudaku.
Tapi di balik semua itu, aku juga melihat kenyataan pahit: sebagian besar perempuan di sana bukan pelaku, mereka korban, sama sepertiku. Korban dari keyakinan yang dibungkus cinta, dari ideologi yang disamarkan menjadi kasih sayang.
Dan mungkin, jika kalian membaca ini, kalian akan bertanya: kenapa aku tak kabur saat itu juga?
Jawabannya sederhana, karena ketika seseorang datang padamu dengan kehangatan di saat dunia menjauhimu, kamu akan dengan mudah percaya bahwa merekalah kebenaran itu.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar