Perubahan yang Tak Terlihat: Ketika Keheningan Jadi Tanda Bahaya Radikalisme

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Kupikir Aku Menemukan Kebenaran, Ternyata Aku Kehilangan Arah

Setelah beberapa kali aku mengisi kultum di sekolah dengan isi yang mungkin membuat sebagian teman terdiam, hari-hariku mulai terasa berbeda. Aku masih datang ke sekolah seperti biasa, masih membawa buku, masih ikut membaca Al-Qur’an di pagi hari seperti siswa lainnya. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang perlahan berubah. Dulu, aku termasuk anak yang aktif di kelas. Aku suka pelajaran yang berbau hitungan dan logika seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi. Aku selalu duduk di depan, semangat bertanya atau menjawab pertanyaan guru, bahkan sering kali aku ingin tahu hal-hal kecil yang membuat guru tersenyum sambil berkata, “Kamu penasaran banget ya, Nas.” Aku memang begitu. Ada rasa puas setiap kali bisa memahami sesuatu yang baru, atau berhasil menjelaskan sesuatu yang sulit kepada teman. Tapi setelah aku mulai banyak membaca materi dan menonton video tentang tauhid, jihad, dan thaghut, semangat itu perlahan padam.

Aku mulai merasa pelajaran di sekolah tak lagi penting. Aku melihat semua hal dari kacamata akhirat yang sempit: dunia hanyalah tempat singgah, dan ilmu umum tidak akan berguna jika tidak menegakkan agama. Pelajaran yang dulu terasa menantang kini terasa sia-sia. Aku mulai sering duduk di belakang, tidak lagi berebut menjawab pertanyaan guru, tidak lagi mencatat dengan rajin. Sekalipun aku bertanya, suaraku pelan, seolah kehilangan tenaga untuk terdengar. Lama-lama, aku berhenti mencoba. Aku mulai berpikir bahwa dunia ini fana, dan semua kesibukan di sekolah hanyalah kebisingan yang menjauhkan manusia dari tujuan hidup sebenarnya.

Teman-temanku tentu menyadari perubahanku. Mereka bilang aku sekarang lebih pendiam, jarang ikut bercanda, dan lebih sering menyendiri. Aku juga mulai berpakaian lebih tertutup, menurutku itu bentuk ketaatan, sesuatu yang seharusnya baik. Tapi di mata mereka, mungkin itu terlihat tiba-tiba dan ekstrem. Aku tidak peduli. Dalam pikiranku, mereka hanyalah orang-orang yang belum memahami kebenaran yang aku pahami. Aku mulai menilai mereka dengan cara yang keras: jilbab mereka terlalu pendek, cara mereka berbicara terlalu bebas, tawa mereka terlalu sering. Semua hal kecil yang dulu terasa biasa, kini kulihat sebagai tanda kelalaian. Semakin lama, aku semakin jauh dari mereka.

Sampai suatu hari aku tidak masuk sekolah karena sakit. Aku pikir itu hanya satu hari yang akan lewat begitu saja. Tapi ternyata, waktu aku tidak hadir, guru Biologi yang dulu sering memujiku karena aktif di kelas bertanya kepada teman-temanku, “Kalian sadar nggak kalau Nasya sekarang berubah banget? Ada yang tahu kenapa?” Tidak ada yang menjawab. Kelas hanya diam. Mungkin karena mereka tidak tahu harus menjelaskan apa, atau mungkin mereka sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku.

Beberapa hari kemudian, aku dipanggil ke ruang guru. Wali kelasku memintaku duduk dan menatapku dengan lembut. “Nasya, akhir-akhir ini kamu kelihatan beda. Ada sesuatu yang kamu pikirkan?” Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab pelan, “Enggak, Bu. Saya cuma ingin lebih fokus memperbaiki diri.” Wali kelasku mengangguk, lalu berkata, “Bagus itu. Tapi jangan sampai kamu kehilangan semangat belajar, ya. Allah juga suka orang yang berilmu.” Aku mengangguk lagi, tapi dalam hati aku merasa kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Aku pikir, ilmu dunia tidak penting dibanding ilmu agama. Guru-guruku, sebaik apa pun mereka, menurutku waktu itu hanyalah orang-orang yang belum memahami kebenaran yang sesungguhnya.

Setelah pertemuan itu, tidak ada tindak lanjut. Aku tidak dipanggil ke BK, tidak ada sesi konseling, tidak ada pembicaraan lebih dalam. Mungkin mereka berpikir aku hanya sedang “fase religius”, remaja yang sedang mencari arah hidupnya. Padahal, perubahan yang terjadi di diriku cukup jelas: dari anak yang haus ilmu menjadi anak yang menolak ilmu. Dari yang selalu bersemangat, menjadi pasif dan apatis. Dari yang terbuka, menjadi tertutup. Dan yang paling penting, dari yang dulu berpikir dengan logika, menjadi seseorang yang menolak berpikir di luar teks.

Teman-temanku juga tidak ada yang melapor ke guru tentang isi kultum yang dulu sempat kusampaikan, tentang tauhid, tentang negara kafir, tentang pembatal keislaman. Mungkin mereka tidak berani, mungkin juga mereka menganggap itu hal biasa. Bisa jadi mereka tidak paham kalau yang aku sampaikan sebenarnya termasuk narasi yang berbahaya. Tapi aku pun tidak bisa menyalahkan mereka. Siapa yang mengira bahwa ucapan-ucapan yang dibungkus dengan dalil bisa menyimpan makna yang keliru di dalamnya?

Kini ketika aku mengingat masa itu, aku merasa seperti sedang melihat dua diriku berdiri di ruang kelas yang sama. Satu duduk di depan, penuh semangat, mencatat dan bertanya, sementara yang lain duduk di belakang, diam, menatap papan tulis tanpa cahaya di matanya. Mungkin kalau waktu itu ada satu orang saja, entah guru atau teman yang benar-benar peka dan mau bertanya lebih jauh, “Kamu kenapa, Nas?”, ceritanya akan berbeda. Bukan berarti mereka salah, tapi sekarang aku tahu betapa pentingnya kepekaan itu.

Kadang perubahan seseorang memang tidak datang dengan suara keras, tapi dengan keheningan. Dengan pindahnya tempat duduk, dengan berkurangnya senyum, dengan mata yang tidak lagi berbinar saat belajar. Hal-hal kecil yang tampak sepele, tapi sebenarnya adalah tanda bahwa seseorang sedang menjauh dari dunia yang dulu membuatnya hidup. Aku tahu, tidak mudah bagi sekolah untuk membaca tanda-tanda semacam itu. Guru-guru juga punya banyak murid lain yang harus diperhatikan. Tapi aku percaya, pendidikan bukan hanya tentang nilai dan rumus, melainkan tentang mengenali manusia di balik seragamnya.

Andai waktu itu ada edukasi tentang radikalisme dan bagaimana mengenali tanda-tandanya, mungkin guru-guruku bisa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dan mungkin, aku bisa diselamatkan lebih cepat sebelum keyakinan yang keliru itu menancap terlalu dalam. Tapi di atas semua itu, aku juga menyadari bahwa aku sendiri yang menutup diri. Aku menolak nasihat karena merasa paling benar. Aku menolak perhatian karena menganggapnya ujian iman. Sekarang aku paham, kepekaan tidak hanya perlu datang dari orang lain, tapi juga dari diri sendiri, kepekaan untuk menyadari ketika sesuatu yang tampak seperti “pencerahan” sebenarnya sedang menyesatkan langkah kita perlahan-lahan.



Ilustrasi: By AI (Gemini)

Komentar

Tulis Komentar