Ruang yang Semakin Mengecil: Bagaimana Kebebasan Kami Dikikis Perlahan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Redaksi

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Rumah Singgah atau Rumah Kendali? Ketika Keikhlasan Dipakai untuk Mengikat

Jika dihitung kembali, hampir satu tahun aku hidup di tempat itu, sebuah tahun yang terasa sunyi, melelahkan, dan tidak nyata. Jumlah penghuninya naik turun, rata-rata tiga belas sampai lima belas orang. Hampir semuanya perempuan. Wajah-wajah muda dengan riwayat luka yang berbeda, namun pola masuknya sama: rapuh, terdesak, tidak merasa aman di rumah sendiri, dan sedang mencari arah. Mereka datang membawa harapan untuk memulai hidup baru, namun tanpa sadar perlahan terjerat sistem yang dibangun dengan sangat rapi.

Setiap bulan, selalu ada tamu dari jaringan yang sama. Dari merekalah aku tahu bahwa Rumah Singgah seperti ini tersebar di berbagai daerah: satu wilayah bisa memiliki satu hingga dua rumsing khusus untuk perempuan. Fungsinya sama, menampung gadis remaja yang kabur, istri para narapidana terorisme, janda yang ditinggalkan atau memisahkan diri karena perbedaan pemahaman, hingga anak-anak kecil yang tumbuh tanpa perspektif lain di luar narasi “jihad” dan “loyalitas kepada agama versi mereka”. Keragaman latar belakang itu justru membuat tempat ini terlihat seolah aman dan penuh solidaritas, padahal itu bagian dari cara mereka memperluas lingkaran pengaruh.

Pada awalnya, kegiatan kami tampak tidak bermasalah. Rutinitas sederhana, bangun pagi, bersih-bersih rumah, mengaji sedikit, memasak, dan shalat berjamaah. Kami bahkan membuka usaha warung kecil di depan gedung, meski asal modalnya tidak pernah dijelaskan. Pemilik rumah dan orang-orang yang berwenang di dalam struktur itu selalu menekankan bahwa “keamanan” adalah prioritas, hingga kami terbiasa menyerahkan KTP dan ponsel tanpa pertanyaan. Hubungan kami dengan dunia luar diputus perlahan, bukan dengan ancaman, tetapi dengan narasi bahwa dunia luar tidak menginginkan kami, dan bahwa keluarga hanyalah tempat luka yang tidak layak untuk kembali.

Namun seiring waktu, kecurigaan dalam diriku tumbuh. Banyak yang menyebut diri mereka ustadz atau ustadzah, tetapi kemampuan membaca Al-Qur’an mereka terbata-bata, dan pemahaman agamanya dangkal. Kitab-kitab diberikan, tapi tidak pernah benar-benar mereka ajarkan. Kajian yang disampaikan lebih banyak berisi doktrin hitam-putih, bahwa yang tidak sefaham adalah kafir, bahwa kerajaan manusia harus dilawan, bahwa pemerintahan ini thaghut. Tidak ada ruang dialog. Tidak ada ruang bertanya. Bertanya dianggap sebagai tanda lemahnya iman.

Beberapa bulan kemudian, seorang ustadz didatangkan khusus untuk membina kami. Aneh sekali, seketika jadwal harian menjadi rapi, mirip pondok pesantren formal. Ada jadwal belajar, ada setoran hafalan, dan kajian intensif. Namun isi kajian justru semakin mengarah kepada pengkafiran dan glorifikasi kekerasan. Ustad ini membawa banyak video dari pusat IS: pemenggalan, pembakaran, eksekusi brutal, dan kami diwajibkan menontonnya hampir setiap hari. Video-video itu tidak lagi diperlakukan sebagai kejahatan, tetapi sebagai “hukuman syar’i bagi musuh Allah.”

Puncaknya, ketika pemimpin kala itu meninggal, kami diminta mengikuti baiat baru. Kami harus menyatakan janji setia kepada pemimpin yang bahkan tidak pernah kami lihat wajahnya. Sebagian dari kami mengucapkannya dengan suara gemetar, bukan karena yakin, tetapi karena takut. Ketika seseorang sedang rapuh dan tidak percaya pada dirinya sendiri, ia bisa mengiyakan apa pun yang dianggap memberi rasa aman.

Pada periode itu, doktrin semakin menguat. Kami diajari untuk melawan jika suatu hari polisi menggerebek rumah. Bukan melarikan diri tapi melawan. Dengan apa pun yang ada. Kami diajari memanah. Kami diperlihatkan pistol. Kami diberi arahan bagaimana menggunakan pisau jika benar-benar terdesak. Sebagian besar dari kami adalah perempuan muda yang belum pernah mengurus hidup sendiri, apalagi memahami hukum syariat dengan benar. Namun doktrin yang diberikan membuat kami merasa seolah tindakan itu bagian dari iman.

Seiring bertambahnya waktu, pola di Rumah Singgah semakin jelas, ruang ini tidak pernah benar-benar diniatkan sebagai tempat pemulihan. Ini adalah ruang pembentukan, bagian dari sistem yang ingin memisahkan kami dari keluarga, dari pendidikan, dari kehidupan normal, dari pilihan-pilihan sehat yang seharusnya masih bisa kami ambil. Yang paling menyesakkan adalah bagaimana semua itu dibungkus dengan kalimat lembut: “Kami melindungi kalian,” “Kami keluargamu sekarang,” “Kami ingin kalian selamat di akhirat.”

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah penghilangan identitas secara perlahan.
Kami tidak dimarahi, tetapi diarahkan.
Tidak dikurung, tetapi dibatasi.
Tidak diancam, tetapi ditanamkan rasa takut kepada dunia luar.

Dan ketika aku mulai melihat semua itu dengan mata yang lebih jernih, aku sadar satu hal, tempat ini bukan rumah singgah. Bukan tempat aman. Ini adalah ruang yang sengaja didesain untuk mempersempit dunia kami, sampai hanya tersisa satu pilihan, patuh kepada kelompok, meski itu berarti mengorbankan diri sendiri.



Ilustrasi: By AI (Canva)

Komentar

Tulis Komentar