Rumah Singgah atau Rumah Kendali? Ketika Keikhlasan Dipakai untuk Mengikat

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Persinggahan Sebelum Luka yang Lebih Dalam

Minggu pertama di tempat itu (rumah singgah), aku mulai beradaptasi dengan ritme barunya. Segalanya diatur dengan rapi, kapan bangun, kapan makan, kapan boleh berbicara, bahkan kapan harus diam. Tak ada yang terasa mencurigakan di awal; hanya kedisiplinan yang tampak seperti bagian dari kehidupan yang tertata.

Berita baru datang hari itu: akan ada seorang perempuan lain yang seumuran denganku. Katanya, dia juga sedang “dalam proses pembinaan.”
Namanya Indah. Usianya sama denganku, tujuh belas. Ia kabur dari rumah setelah kedua orang tuanya bercerai. Kondisinya rapuh, dan itu, aku sadari belakangan, adalah jenis rapuh yang paling mereka cari.

Kamar Indah berada tepat di seberang kamarku. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa punya teman. Ia pendiam, tapi matanya jujur. Kami sering berbagi cerita lewat bisikan, di sela waktu istirahat. Ia bercerita tentang ibunya yang menikah lagi, tentang ayah yang menghilang, dan tentang keinginannya untuk menemukan “keluarga baru” yang tidak saling menyalahkan.
Dan ya, tempat ini tampak seperti keluarga yang ia cari.

Beberapa minggu berikutnya, semuanya berjalan baik-baik saja, atau setidaknya begitu tampaknya. Penghuni rumah semakin banyak, hampir semuanya perempuan. Jika dihitung, mungkin tujuh puluh lima persen dari mereka adalah gadis muda, sebagian besar datang dengan luka yang serupa: keluarga yang berantakan, kehilangan arah, dan haus akan bimbingan spiritual.

Rutinitas kami sama setiap hari.
Bangun sebelum subuh, shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memasak bergantian, lalu membersihkan seluruh ruangan. Siang kami diisi dengan
kajian tauhid, dan sore kembali diisi dengan kegiatan rumah tangga. Tidak ada kegiatan produktif lain seperti belajar atau menulis.
“Semua harus dimulai dari penyucian hati,” kata ustadzah. “Kalau hati belum bersih, ilmu dunia tidak akan berguna.”

Kami menurut. Bukan karena percaya sepenuhnya, tapi karena tak ada pilihan lain.
Dinding gedung itu tinggi, mungkin lebih dari tiga meter. Jumlah kamar lebih dari tiga puluh, berjejer seperti sel-sel sunyi yang dihuni oleh wajah-wajah yang kehilangan arah.

Kami tidak boleh keluar tanpa izin. Sekalipun hanya ingin pergi berbelanja, harus menunggu jadwal dan pendamping. Aku mulai merasa tempat ini bukan rumah singgah, lebih seperti benteng. Namun anehnya, suasananya tetap hangat. Mereka pandai menciptakan rasa aman. Setiap peraturan dibungkus dengan alasan keagamaan. Setiap pembatasan diberi label “perlindungan.”
Dan bagi kami yang sudah kehilangan arah, semua itu terdengar meyakinkan.

Kajian-kajian yang diadakan pun terasa janggal.
Ustadz dan ustadzah yang mengajar sering salah membaca ayat, tapi tetap berbicara dengan penuh keyakinan. Ketika ada yang bertanya, mereka menjawab dengan nada menggurui, seolah keraguan adalah tanda lemahnya iman.
“Yang penting niatmu lurus,” kata mereka.
“Ayat bisa dibaca salah, tapi kalau hati benar, Allah tetap terima.”

Aku menelan kata-kata itu dalam diam, tapi di dalam hati muncul pertanyaan yang tak bisa kutahan: bagaimana mungkin mereka yang tidak mampu membaca wahyu dengan benar, berani menafsirkan kehendak Tuhan untuk hidup orang lain?

Namun aku tak berani mengatakannya.
Suasana di tempat itu membuat siapa pun belajar membungkam pikirannya sendiri.

Hari-hari berikutnya, aku melihat mereka mulai merekam beberapa kegiatan kami: kajian, kegiatan masak, anak-anak yang tertawa. Katanya, video itu untuk “dokumentasi dakwah.” Tapi dari cara mereka berbicara, aku tahu video itu juga berfungsi lain, sebagai promosi tersembunyi agar semakin banyak perempuan tertarik datang ke tempat ini.
“Semakin banyak yang hijrah, semakin luas pahala kita,” kata salah satu dari mereka sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk. Tapi di dalam hati, aku mulai merasa ada yang tidak beres.
Mengapa sebuah “rumah perlindungan” begitu sibuk membangun citra?
Dan mengapa tak ada satu pun dari kami yang tahu ke mana sebenarnya semua dana sumbangan itu mengalir?

Setiap minggu, truk kecil datang membawa bahan makanan, pakaian, bahkan perlengkapan dapur baru. Renovasi terus dilakukan. Tembok dicat ulang, kamar ditambah. Aku tak tahu siapa yang membiayai semua itu. Tapi dari caranya para ustadz dan ustadzah berbicara tentang “donatur”, aku bisa menebak arah yang samar tapi berbahaya.

Hari demi hari, aku semakin paham: tempat ini bukan sekadar tempat biasa. Ini adalah pusat rekrutmen yang halus, dibungkus dalam bahasa kasih sayang dan pembinaan iman.
Dan kami, para gadis muda yang hanya ingin diterima, menjadi wajah dari propaganda yang lebih besar, dipoles dengan narasi hijrah dan kesalehan perempuan.

Namun pada waktu itu, aku belum berani menyimpulkan apa pun.
Aku hanya tahu bahwa di balik semua rutinitas yang tampak suci, ada rasa hampa yang perlahan menekan dadaku.
Aku mulai kehilangan tidur, tapi tidak tahu mengapa.
Mungkin karena di tempat ini, aku diajarkan untuk percaya sepenuhnya, bahkan ketika hatiku tahu ada sesuatu yang salah.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar