Baca kisah sebelumnya: Ketika Musuh Jadi Saudara: Kisah Mantan Napiter dan Perwira Densus di Balik Jeruji
Aku lupa tanggal dan bulannya. Tapi yang aku ingat, saat itu awal tahun 2016, setelah tragedi bom di Sarinah–Thamrin, Jakarta. Saat itu aku sedang bekerja di sebuah perusahaan EPC Migas yang jadi subcont Pertamina untuk membangun beberapa tangki minyak di sebuah pulau di antara Batam dan Singapura. Melalui telepon, aku berbicara dengan teman karibku, Bahrun Naim, sosok yang saat itu dikenal sebagai salah satu tokoh teroris asal Indonesia yang berada di Suriah. Dalam percakapan itu, kami mengeluhkan banyak hal. Tentang sekitar lima puluhan orang kawan-kawan kami yang ditangkap Densus pasca tragedi Thamrin, dan rasa kecewa kami karena sebagian orang yang dulu bersemangat dengan ideologi perjuangan tiba-tiba tiarap, dan takut ditangkap. Kami merasa perjuangan ini mulai kehilangan nyalinya.
Dari obrolan itulah muncul satu gagasan yang sekarang membuatku ngeri dan muak jika mengingatnya. Saat itu aku berpikir bagaimana kalau perempuan tidak lagi hanya menjadi pendukung di belakang layar, tapi juga dijadikan pelaku, pengantin?
Aku pernah membaca kisah para perempuan Chechnya, para black widow, atau shahidka, begitu dunia menyebutnya. Mereka tampil dengan gagah seperti layaknya pria, bahkan hingga meledakkan diri. Dan dalam pikiranku yang sempit waktu itu, mereka tampak seperti pejuang yang heroik. Aku terinspirasi. Maka aku dan Bahrun sepakat, kami harus mulai merekrut perempuan. Saat itu, aku tak menyadari bahwa gagasan yang kami bicarakan lewat sambungan telepon itu akan menimbulkan luka yang panjang, bukan hanya bagi korban, tapi juga bagi diriku sendiri.
Bayi-Bayi dari Luka dan Penjara
Tanggal 17 Agustus 2016, aku ditangkap dan dijebloskan ke Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Tak lama setelah itu, aku mendengar kabar dari para petugas, bahwa di Poso, Sulawesi Tengah, ditangkap seorang perempuan yang merupakan istri salah satu pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafiliasi dengan ISIS. Aku kaget ketika tahu perempuan itu ditempatkan di blok yang sama denganku, meskipun berbeda sel. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, dia ditangkap dalam keadaan hamil.
Empat bulan kemudian, sekitar Desember 2016, ditangkap lagi beberapa orang yang terlibat dalam aksi terorisme. Dua di antaranya perempuan. Mereka ternyata bagian dari kelompok yang masih terkait dengan Bahrun Naim. Rupanya, dari Suriah yang jauh di sana, Bahrun masih melanjutkan rencana kami yang dulu untuk merekrut perempuan untuk aksi bom bunuh diri. Salah satu dari mereka, seorang buruh migran, bahkan menikah dengan orang suruhan Bahrun itu. Dan yang paling menyedihkan, ketika mereka ditangkap, perempuan itu juga sedang hamil. Akhirnya, aku satu blok dengan dua perempuan hamil.
Waktu itu aku masih keras kepala, aku masih berpikir bahwa semua ini adalah “resiko perjuangan”. Tapi nuraniku mulai bergetar. Setiap kali aku melihat mereka, aku teringat istriku di rumah, dan hatiku bertanya pelan, “Gimana kalau istri gue yang di posisi mereka?”
Perang Batin di Balik Jeruji
Tak lama, satu per satu bayi itu lahir. Negara sebenarnya memberi kesempatan agar bayi-bayi itu diasuh oleh keluarga mereka di luar penjara. Tapi dua perempuan itu bersikeras ingin merawat anak-anaknya sendiri. Densus akhirnya mengambil langkah cepat. Mereka menugaskan beberapa anggota polisi perempuan khusus untuk membantu para ibu itu. Bahkan, mereka diberi kelonggaran untuk membawa bayi mereka keluar sel agar tidak kegerahan. Tapi tentu tak setiap saat mereka bisa keluar. Kadang, saat ibu-ibu itu kembali ke sel, bayi-bayi itu menangis karena udara di dalam yang pengap dan lembab. Maka para tahanan pria yang mendapat jadwal piket blok pun bergantian membantu menjaga bayi-bayi itu. Termasuk aku.
Awalnya aku canggung, tapi lama-lama, setiap kali aku mengayun tubuh mungil itu, ada sesuatu dalam diriku yang luluh. Di tengah panas dan bau lembab penjara, suara tangis bayi-bayi itu seperti mengetuk sisi kemanusiaanku yang sudah lama terkubur. Aku mulai berpikir, bagaimana kalau anak ini adalah anakku, apakah aku rela mereka hidup seperti ini? Bayi-bayi itu tidak salah, mereka tidak tahu apa-apa. Tapi tragisnya, mereka harus tumbuh di balik jeruji karena kesalahan orang-orang dewasa seperti kami. Perang batin itu makin berkecamuk. Kelamaan aku mulai bimbang, sesekali terbersit di kepala kalau ini bukan perjuangan, tapi kesesatan. Perjuangan seharusnya menegakkan kehidupan, bukan menghancurkannya. Pengorbanan bukan berarti mengorbankan orang lain, apalagi anak-anak yang belum tahu apapun. Saat itu aku merasa ditampar keras oleh kenyataan bahwa ideologi yang dulu kuanggap suci, ternyata membuatku mati rasa sebagai manusia.
Mereka Mengajariku Tentang Cinta
Hari-hari di blok itu yang terus kuingat, mengubah caraku memandang dunia. Bayi-bayi yang lahir di penjara, dari rahim perempuan-perempuan yang dulu juga tersesat oleh ideologi yang sama denganku itu, membukakan mataku. Setiap kali aku membayangkan bayi-bayi itu tersenyum, aku seperti belajar ulang tentang makna cinta. Cinta yang tidak menghakimi, cinta yang tidak mengenal sekat ideologi, cinta yang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan kasih sayang , bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun. Mereka lahir di tempat yang seharusnya tak layak disebut rumah. Tapi dari mereka, aku menemukan rumah yang sesungguhnya — rumah di dalam hati, tempat cinta, penyesalan, dan harapan tumbuh berdampingan. Mungkin itulah ironi terbesar dalam hidupku, bahwa aku belajar tentang cinta dan kemanusiaan justru dari bayi-bayi yang lahir karena kesalahanku.
Ketika akhirnya aku bebas, dunia di luar mungkin terasa asing. Tapi ada satu hal yang tetap, rasa tanggung jawab. Aku sadar bahwa penyesalan saja tidak cukup. Aku harus mulai bekerja untuk sesuatu yang dulu kuanggap musuh, membantu korban, menceritakan kisah para mantan tahanan agar tak lagi disesatkan ideologi kebencian, dan menggaungkan perdamaian. Aku bertemu banyak orang yang dulu sama kerasnya denganku, dan di mata mereka, aku melihat diriku dulu yang penuh amarah, curiga, dan haus makna. Aku tak lagi ingin menang berdebat. Aku hanya ingin mereka melihat bayi-bayi itu dalam ingatan mereka agar mereka tahu bahwa setiap keyakinan yang membuat anak menangis di balik jeruji adalah keyakinan yang salah arah.
Kini, setiap kali aku mendorong kereta bayi anakku yang paling kecil, aku selalu teringat wajah-wajah itu. Bayi-bayi yang lahir di penjara, menangis di tengah panas, dan tertidur di pelukan para tahanan. Mereka mungkin tak akan pernah mengingat kami, tapi mereka telah menyelamatkan kami, karena melalui mereka, kami belajar arti menjadi manusia. Di balik jeruji, aku memang kehilangan kebebasan, tapi justru di sanalah aku menemukan makna kemerdekaan sejati. Kemerdekaan dari kebencian, dari rasa benar sendiri, dan dari kebutaan ideologis. Aku belajar bahwa menjadi manusia berarti berani menanggung luka, tapi tidak membiarkan luka itu menular menjadi kekerasan. Aku tidak ingin menghapus masa laluku, aku hanya ingin memastikan tak ada lagi anak yang lahir di balik jeruji karena kebodohan orang-orang dewasa yang menganggap diri mereka pejuang. Aku ingin mengingat setiap tangisan bayi sebagai pengingat, bahwa sebelum menjadi apa pun—ulama, ideolog, atau pemimpin—kita pertama-tama adalah manusia. Dan dari situ, segala perjuangan seharusnya dimulai.[]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar