Baca kisah sebelumnya: Belajar Menjadi Anak dari Balik Jeruji
Enam bulan pertama di Rutan Mako Brimob adalah waktu yang terasa beku.
Hari-hari di dalam sana seperti berhenti berputar. Dinding-dinding dingin itu memantulkan suara langkah yang keras, gema yang membuat siapa pun merasa terpenjara bukan hanya secara tubuh, tapi juga secara jiwa. Aku menempati ruang nomor satu di blok A, tempat di mana sunyi menjadi teman, dan pikiran menjadi musuh yang selalu siap menyerang setiap malam.
Suatu siang, aku mendengar suara langkah sepatu berat di lorong. Tak lama kemudian, seorang petugas Tahti memanggil dari balik jeruji,
“Munir, dibon.”
Aku tahu arti kata itu — aku akan dibawa keluar untuk sesuatu. Entah pemeriksaan, interogasi, atau mungkin sesuatu yang lebih buruk dalam bayanganku.
Saat aku keluar, di depan sudah berdiri seorang perwira Densus. Tubuhnya tinggi, tegap, kulitnya putih, rambutnya dipotong pendek, rahangnya kokoh. Sosok yang, dalam bayanganku selama ini, mewakili semua hal yang paling kutakuti sekaligus kubenci. Dalam benakku yang masih keras dan dipenuhi dendam ideologis, aku berkata pada diri sendiri, “Waduh, aku bakal digebukin, nih.”
Tapi yang keluar dari mulutnya justru sesuatu yang tak pernah kuduga,
“Assalamu’alaikum,” katanya sambil tersenyum.
Aku diam tak menjawab. Dalam pikiranku, dia kafir-murtad yang tak pantas kujawab salamnya. Namun ia tak menunjukkan wajah kecewa, apalagi marah. Dengan nada lembut, ia justru bertanya,
“Bagaimana kabarnya, Mas Munir? Keluarga sudah menjenguk? Anak-anak bagaimana?” rentetan pertanyaan muncul dari mulutnya, lembut.
Aku menunduk, bingung, tak siap menghadapi kelembutan yang datang dari arah yang selama ini kuanggap musuh. Biasanya aku siap dengan perdebatan, dengan kemarahan, bahkan dengan kekerasan. Tapi sikapnya hari itu membuatku kehilangan pegangan.
Itulah pertemuan pertamaku dengan perwira Densus 88 yang pada akhirnya mengubah pandanganku tentang banyak hal — termasuk tentang makna persaudaraan.
Dari Musuh ke Kawan Bicara
Hari itu kami berbicara lama. Awalnya hal-hal ringan, seputar kabar keluarga, tentang rutinitas di dalam sel. Namun lambat laun, obrolan itu mulai menyinggung hal-hal yang lebih berat. Ia menanyakan pandanganku tentang negara, tentang jihad, tentang hubungan antara agama dan kemanusiaan. Tapi yang menarik, ia tak pernah menekan, apalagi memojokkanku. Ia mendengar, benar-benar mendengar.
Beberapa hari kemudian, ia datang lagi. Kali ini membawa beberapa buku.
Ada al-Qur’an, buku humor, ada juga buku sejarah Islam yang ditulis Buya Hamka.
Ia meletakkannya di meja, sambil berkata, “Baca kalau kamu mau. Tak apa kalau nanti mau kita diskusikan.”
Aku heran. Seumur hidupku, belum pernah ada “musuh” yang memberiku buku untuk dibaca. Tapi aku menerimanya. Bukan karena percaya, tapi karena rasa ingin tahu.
Hubungan kami pun perlahan berubah. Dari sekadar perwira dan tahanan, menjadi dua manusia yang saling menguji pandangan. Dalam obrolan-obrolan itu, tak jarang kami tertawa bersama. Dan di tengah tawa itu, sesuatu di dalam diriku mulai retak — kebencian yang dulu begitu kukuh.
Namun perubahan kecil itu tidak diterima semua orang. Beberapa teman tahanan memandangku dengan sinis. Mereka menuduhku bermudahanah — berbaik muka dengan musuh.
Mereka menyita buku-buku pemberian Densus, bahkan membuang makanan ringan yang diberikannya dengan alasan, “Itu barang haram, pemberian musuh, orang kafir.”
Aku hanya bisa menggeleng. “Apa yang salah dari buku? Dari makanan? Dari tawa?” pikirku waktu itu.
Apakah menjadi keras hati harus berarti menutup diri dari kebaikan? Dan apakah senyum pada musuh adalah dosa yang lebih besar daripada kebencian?
Yang Tidur di Kardusku
Ada satu peristiwa yang sampai kini tak pernah kulupakan. Hari itu, seperti biasa, aku dipanggil keluar dari sel. Setelah berbincang di ruangan kecil di sisi blok, ia berjalan bersamaku kembali ke pintu sel. Tapi alih-alih berhenti di depan jeruji, ia melangkah masuk ke dalam.
Aku tertegun. Bahkan sipir yang berjaga tampak kebingungan. Ia menatap ke arah gulungan kardus di pojok ruangan — alas tidurku setiap malam — lalu mengambilnya, menghamparkannya di lantai, dan… berbaring.
Awalnya aku pikir dia hanya bercanda. Tapi lima menit berlalu, sepuluh menit, dua puluh menit.
Dia sepertinya benar-benar tertidur.
Aku duduk di depan pintu sel, gelisah. Karena di luar sana, ada puluhan tahanan yang mungkin saja membencinya. Seandainya mereka tahu seorang perwira Densus tidur di dalam kamar tahanan, bisa saja mereka datang menyerang. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya duduk di depan pintu, berjaga. Menjaga seseorang yang dulu kuanggap musuh.
Tiga puluh menit kemudian, ia bangun, meregangkan tubuh, dan bersiap keluar. Sebelum pergi, aku memberanikan diri bertanya, “Pak, apa nggak takut dikeroyok atau dibunuh tadi?”
Ia tersenyum, jawabnya tenang,
“Saya cuma menjalankan tugas sebaik-baiknya, Nir. Yang lain, sudah takdir Allah. Sudah tercatat di Lauh Mahfuz. Ngapain takut?”
Aku hanya bisa menatapnya.. Dalam hatiku berkata,
“Ini bukan nyali babi hutan, ini keberanian yang lahir dari pemahaman.”
Ketika Ia Datang untuk Orang Tuaku
Waktu berlalu. Tahun 2018 menjadi tahun yang penuh duka dan titik balik bagiku.
Idul Fitri tahun itu, orang tuaku datang menjengukku ke Lapas Purwakarta. Mereka sudah tua, tubuhnya ringkih. Ibu menderita stroke, sulit berjalan. Ayah harus menjalani tiga kali operasi mata karena retina kirinya sobek.
Ketika kulihat mereka datang dari jauh, berjalan saling menuntun, aku menangis.
Selama ini aku menganggap ayahku yang keras, bahkan sering kubenci karena caranya mendidik. Tapi justru di masa sulitku, dialah yang menanggung hidup keluargaku. Air mata itu jatuh bukan karena rindu semata, tapi karena penyesalan.
Beberapa hari setelah Idul Fitri, perwira itu datang menemuiku. Kami berbicara tentang banyak hal. Tentang tragedi Mako Brimob 8 Mei 2018 yang menewaskan empat anggota Densus dan satu tahanan, tentang luka dan makna di balik kejadian itu. Di sela obrolan itu, aku bercerita tentang orang tuaku — tentang penyakit mereka, tentang bagaimana aku tak bisa berbuat apa-apa dari balik jeruji.
Aku memberanikan diri berkata, “Pak, kalau boleh… tolong mampir ke rumah. Tolong lihat kondisi orang tua saya.”
Aku tak tahu apakah ia benar-benar akan melakukannya. Tapi beberapa minggu kemudian, aku dapat kabar, jika Ia datang. Ia menjenguk orang tuaku, bahkan mengantar mereka kontrol ke rumah sakit. Ia membantu mengurus sekolah anak-anakku. Bukan karena kewajiban, tapi karena empati.
Berita itu membuatku terdiam lama malam itu.
Kupandangi langit-langit kamar sel, mencoba memahami sesuatu yang selama ini tak kusadari, bahwa ajaran agama dan nilai kemanusiaan tidak mungkin bertentangan. Nabi datang membawa keduanya dalam satu napas. Tapi dalam pemahaman sempit, aku pernah memisahkannya.
Dari Dialog ke Kontemplasi
Kunjungan demi kunjungan berikutnya selalu penuh dengan diskusi. Kadang ia datang sendirian, kadang bersama rekan, akademisi, atau ulama. Kami berbicara tentang tafsir agama, tentang negara, tentang makna jihad yang sesungguhnya. Dari pertemuan-pertemuan itulah aku belajar bahwa Islam bukan hanya satu warna, bahwa pemahaman bisa beragam tanpa saling meniadakan.
Sementara itu, di sisi lain, aku mulai melihat kebrutalan di antara sebagian tahanan terorisme lain.
Mereka menganggap kekerasan sebagai jalan kemuliaan, padahal yang mereka lakukan tak ubahnya perilaku preman. Tragedi Mako Brimob 2018 menjadi puncak perenunganku — ketika kekerasan yang dibungkus ideologi justru memakan manusia itu sendiri.
Semua proses itu pelan-pelan menuntunku pada keputusan besar: aku menyatakan ikrar kembali kepada NKRI. Bukan karena tekanan, tapi karena kesadaran. Karena aku belajar bahwa keyakinan sejati justru membuat manusia mampu menghormati kehidupan.
Saudara dari Sisi Lain
Setelah aku bebas, perwira itu tidak hilang begitu saja dari hidupku. Beberapa kali ia datang ke rumahku. Ia adalah salah satu orang yang mendorongku untuk terus melanjutkan perubahan. Ketika aku menyampaikan niat untuk membangun perpustakaan dan taman bacaan bagi anak-anak muda di lingkungan tempat tinggalku, ia mendukung penuh. Ia membantu mencari buku, bahkan mengajak rekan-rekannya untuk ikut menyumbang.
Ia juga menyemangatiku untuk kembali kuliah. “Kamu pintar, kamu punya potensi, Nir,” katanya, “ilmu itu jalan pulang bagi siapa pun yang pernah tersesat.” Kalimat itu masih kuingat sampai sekarang.
Banyak tokoh yang berperan dalam perubahanku — dari aparat, pembimbing agama, teman sesama eks-napiter, hingga para ulama. Tapi di antara semua itu, sosok AKBP Vanggivantozy Praduga Satria, S.I.K., M.I.K., menempati salahsatu tempat khusus di hatiku. Bukan karena pangkat atau seragamnya, tapi karena kemanusiaannya.
Kini ia menjabat sebagai Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Kalimantan Utara Densus 88 AT Polri. Jarak dan tugas memisahkan kami. Tapi bagiku, ia lebih dari sekadar perwira. Ia adalah seseorang yang dulu datang dari sisi lain jeruji, membawa buku, membawa empati, dan pada akhirnya — membawa cahaya.
Epilog: Tentang Sebuah Salam
Aku masih ingat pertemuan pertama kami. Saat itu aku menolak menjawab salamnya, karena kesombongan, keyakinanku menutup hati dari kemanusiaan. Kini, jika ia datang, aku yang lebih dulu mengucap salam. Dan di setiap salam yang keluar dari mulutku, aku tahu — itu bukan hanya sapaan, tapi simbol rekonsiliasi dengan masa laluku.
Dari balik jeruji besi, aku belajar bahwa persaudaraan bisa lahir dari dua orang yang seharusnya saling memusuhi. Bahwa kebaikan tak pernah mengenal seragam. Dan bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang bisa dimengerti siapa saja — bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun.
Aku bersyukur, karena Tuhan menuliskan takdirku untuk bertemu dengannya.
Dari dialah aku belajar, bahwa di sisi lain penjara, ternyata ada banyak saudara.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar