Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Mencari Kepastian di Lingkaran yang Sama
Beberapa hari setelah semua pertanyaan itu berputar tanpa pernah benar-benar menemukan jawaban yang menenangkanku, aku mulai menyadari sesuatu yang pelan-pelan menggerogoti dari dalam… aku kelelahan. Pelan-pelan, kelelahan itu mengambil alih. Bukan kelelahan fisik, tapi lelah yang muncul karena terlalu lama dipaksa berpikir, menimbang, dan meragukan sesuatu yang terus didorong agar terlihat pasti.
Setelah bertanya ke beberapa ummahat dan menerima jawaban yang seragam, ada bagian dalam diriku yang seperti menyerah. Bukan karena semua pertanyaanku benar-benar terjawab, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk terus bertanya. Di satu sisi, aku baru mengenal ajaran yang selama ini terasa asing bagiku, ajaran yang dibungkus dengan dalil, keyakinan, dan bahasa agama yang terdengar mutlak. Dan entah sejak kapan, aku memegang satu anggapan sederhana bahwa: jika ini agama, jika ini dibicarakan atas nama kebenaran, maka pasti benar. Pikiran itu terasa lebih ringan dibanding harus terus hidup dalam keraguan. Aku lelah mempertanyakan apakah pernikahanku sah atau tidak, lelah berada di ruang abu-abu yang tidak memberiku pegangan apa pun. Jadi aku memilih satu hal yang terasa paling mudah saat itu. Ya… aku menerima bahwa pernikahan itu sah.
Keputusan itu tidak datang dengan rasa lega yang besar, lebih seperti menarik napas panjang setelah menahan terlalu lama. Aku berpikir, kalau memang aku sudah menikah, maka lebih baik aku berhenti melawan kenyataan itu. Menerimanya berarti memberiku satu tempat baru untuk bersandar, satu ruang untuk bercerita, satu perasaan bahwa aku tidak lagi sendirian. Dalam pikiranku yang saat itu sudah kelelahan, kenyamanan terasa jauh lebih mendesak daripada kebenaran. Aku tidak sedang memilih yang paling tepat, aku hanya memilih yang membuatku bisa bertahan hari itu. Maka aku membuka kembali percakapan yang sudah berhari-hari kudiamkan. Aku membalas pesan Farhan. Tidak dengan kalimat panjang, tidak dengan tuntutan atau pertanyaan. Hanya sebuah balasan sederhana yang menandai bahwa aku akhirnya berhenti menjauh.
Hari-hari setelah itu berjalan dengan ritme yang aneh. Secara lahiriah, hidupku terlihat sama. Aku masih tinggal di rumah orang tuaku, masih berangkat sekolah, masih menjalani rutinitas seperti biasa. Farhan juga tetap tinggal di rumah orang tuanya. Kami belum pernah bertemu sama sekali sejak “akad” itu terjadi. Tidak ada perubahan fisik, tidak ada kehidupan bersama, tidak ada momen yang biasanya melekat pada kata pernikahan. Yang berubah hanya status, dan mungkin cara pandangku terhadap diriku sendiri. Dalam percakapan-percakapan kami, Farhan mulai sering menekankan satu hal, bahwa keputusanku menikah dengannya adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil.
Ia membingkainya dengan narasi besar. Dengan aku menikah dengannya, aku sedang ikut membangun generasi emas, generasi Islam yang kuat, generasi yang mencintai jihad dan tidak terikat pada dunia. Kata-kata itu diulang berkali-kali, dengan variasi yang berbeda, seolah ditanamkan perlahan. Pernikahan kami bukan sekadar hubungan dua orang, katanya, tapi bagian dari perjuangan yang lebih besar. Ada tujuan mulia di dalamnya, tujuan yang membuat keraguan-keraguanku terdengar kecil dan egois. Setiap kali aku mencoba menceritakan kegelisahanku, ia selalu kembali pada hal yang sama, bahwa ini semua adalah jalan yang benar, jalan yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk memasukinya.
Dalam narasi itu, hidup sederhana bahkan kekurangan dibungkus sebagai bentuk ketaatan. Farhan sering mengatakan bahwa seorang perempuan tidak seharusnya menuntut laki-laki dengan urusan harta. Bahwa zuhud adalah bagian dari perjuangan. Bahwa harta seorang laki-laki yang benar-benar berjuang di jalan Allah bukan lagi miliknya, melainkan untuk kepentingan yang lebih besar. Dan tanpa kusadari, kalimat-kalimat itu mulai menjadi kerangka berpikirku sendiri.
Selama beberapa waktu menikah dengan Farhan, aku tidak pernah benar-benar merasakan apa yang disebut nafkah yang layak. Kadang Farhan mengirimkan uang, tapi tidak rutin, dan jumlahnya pun tidak besar. Seratus ribu, dua ratus ribu. Ia menyebutnya uang jajan, bukan nafkah. Dan ketika aku bertanya, atau sekadar menunjukkan kebingungan, ia selalu kembali pada narasi yang sama. Tentang perjuangan, tentang tidak menuntut dunia, tentang keikhlasan.
Ia juga mengingatkanku pada satu hal lain, bahwa aku tidak memberikan haknya sebagai suami, aku juga tidak menjalani kewajibanku sebagai istri untuk melayaninya. Maka menurutnya, ia pun tidak memiliki kewajiban penuh untuk memberiku nafkah. Semua itu terdengar seperti penjelasan yang logis di dalam kerangka yang ia bangun sendiri, kerangka yang perlahan kuterima tanpa benar-benar menyadari bagaimana aku sampai di sana.
Padahal sejak awal, ada kesepakatan yang jelas di antara kami. Aku menyetujui pernikahan itu dengan syarat tidak ada “hubungan suami-istri” dalam bentuk apa pun sampai pernikahan sah secara negara dan orang tuaku tahu. Dan kesepakatan itu masih berjalan. Pernikahan kami berlangsung sepenuhnya jarak jauh. Tidak ada pertemuan, tidak ada sentuhan, bahkan tidak ada ruang fisik yang kami bagi. Aku tetap menjadi anak di rumah orang tuaku, menjalani hari-hari seperti sebelumnya. Yang berbeda hanya satu, aku kini disebut istri, meski aku sendiri sering bertanya-tanya, istri dalam makna yang seperti apa.
Kadang aku merasa seperti hidup di dua dunia yang tidak saling bertemu. Di dunia nyata, aku adalah siswi sekolah yang pulang ke rumah, makan bersama keluarga, dan menyembunyikan begitu banyak hal di dalam kepalanya. Di dunia percakapan dengan Farhan, aku adalah bagian dari perjuangan, calon ibu generasi yang katanya akan mengubah dunia, perempuan yang diuji keimanannya melalui kesabaran dan keterbatasan. Dua dunia itu berjalan berdampingan, tapi tidak pernah benar-benar menyatu. Dan aku, entah sejak kapan, belajar untuk tidak terlalu banyak bertanya agar keduanya bisa terus berjalan.
Namun seiring waktu, ada sesuatu yang mulai bergeser. Percakapan kami perlahan berubah arah. Jika sebelumnya Farhan banyak berbicara tentang pernikahan dan kesabaran, kini ia mulai masuk ke hal-hal yang lebih keras, lebih hitam-putih. Tentang siapa yang benar-benar berada di jalan yang lurus dan siapa yang sesat. Tentang dunia yang katanya penuh dengan sistem kafir yang harus ditinggalkan. Tentang keluarga, masyarakat, bahkan negara yang mulai digambarkan sebagai bagian dari masalah, bukan tempat untuk kembali. Ia menyampaikannya tidak sekaligus, tapi bertahap, seperti seseorang yang sedang membuka pintu sedikit demi sedikit, memastikan aku siap sebelum melihat apa yang ada di baliknya.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar