Ada masa ketika aku berpikir bahwa penjara adalah akhir dari segalanya. Bahwa ketika pintu besi itu menutup, hidupku pun ikut selesai. Tapi ternyata aku keliru.
Penjara bukan akhir.
Penjara hanya jeda.
Yang sesungguhnya jauh lebih sulit adalah apa yang datang setelahnya, yaitu kembali ke dunia yang tidak sepenuhnya siap menerima orang sepertiku.
Aku bebas dengan satu tekad sederhana, aku ingin hidup normal, aku ingin kembali menjadi manusia biasa, aku ingin membangun ulang diriku, bukan dengan cara menghapus masa lalu, tapi dengan cara menebusnya lewat langkah-langkah kecil yang nyata.
Sejak dulu, aku bukan tipe orang yang suka menutup diri. Bahkan ketika hidupku pernah terseret ke jalan yang gelap, aku tetap manusia yang punya naluri untuk berada di tengah orang lain. Dan setelah bebas, keinginan itu justru semakin besar.
Aku ingin bermasyarakat.
Aku ingin ikut terlibat dalam kegiatan lingkungan.
Aku ingin membuktikan bahwa mantan narapidana terorisme pun bisa berubah, bisa tumbuh, dan bisa berperan.
Bukan sekadar untuk “membayar dosa”, bukan pula untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Tapi karena aku benar-benar ingin memajukan lingkungan tempat tinggalku. Ada semacam dorongan yang lahir dari penyesalan, kalau dulu aku pernah menjadi bagian dari masalah, maka hari ini aku ingin menjadi bagian dari solusi.
Namun ternyata, hidup setelah bebas tidak sesederhana itu.
Yang mengganjal bukan lagi jeruji.
Yang membatasi bukan lagi sel.
Tapi sesuatu yang lebih halus dan lebih sulit dilawan. Stigma, ketakutan, dan aturan-aturan yang diam-diam membentuk pagar di sekeliling hidupku.
Aku ingat salah satu momen yang cukup menohok terjadi menjelang Pemilihan Presiden tahun 2024.
Ketua PPS di desaku ingin mengajakku untuk menjadi petugas pantarlih dan KPPS. Bagiku, itu bukan soal honor. Itu juga bukan soal uang. Itu soal kesempatan.
Kesempatan untuk terlibat.
Kesempatan untuk membuktikan bahwa mantan teroris juga bisa ikut berperan dalam menyukseskan Pemilu, ikut menjaga demokrasi, ikut menjadi warga negara yang utuh.
Aku membayangkan, mungkin inilah salah satu bentuk reintegrasi sosial yang nyata. Aku bisa menyapa warga, mendata pemilih, bekerja bersama orang-orang kampungku. Pelan-pelan membangun kembali kepercayaan yang dulu runtuh.
Tapi langkah itu berhenti bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Anggota Panwas menghentikannya.
Aku tidak bisa menjadi pantarlih atau KPPS karena aturan yang berlaku tidak memungkinkan aku terlibat di dalamnya.
Aku mengerti. Aku paham negara punya mekanisme dan aturan.
Tapi tetap saja, ada rasa yang sulit kujelaskan.
Rasanya seperti berdiri di depan pintu rumah sendiri, mengetuk dengan sopan, membawa niat baik, lalu pintu itu tidak dibuka bukan karena aku berbuat salah hari ini, tapi karena aku pernah salah di masa lalu.
Hal serupa juga terjadi ketika aku mengutarakan niat untuk menjadi anggota BPD desaku.
Aku ingin ikut musyawarah desa.
Ikut menyuarakan aspirasi warga.
Ikut terlibat dalam pembangunan.
Tapi lagi-lagi, aturan menjadi pagar yang tak bisa kulewati.
Aku tidak patah arang.
Aku tidak marah.
Aku hanya… belajar menerima bahwa menjadi “mantan” berarti hidup dengan batas-batas yang tidak dialami orang lain.
Dan ternyata, ganjalan itu tidak hanya menimpaku.
Ia juga menyentuh keluargaku.
Istriku dulu seorang guru TK. Ia terbiasa berkegiatan dengan ibu-ibu, terbiasa berada di ruang sosial yang hangat. Bahkan setelah aku bebas, aku mengajaknya kembali bermasyarakat. Aku ingin kami sama-sama pulih, sama-sama berjalan ke depan.
Sampai suatu hari, ajakan untuk menjadi kader posyandu pun datang kepadanya.
Aku memotivasinya.
Aku bilang, ini baik.
Ini kegiatan mulia.
Ini ruang untuk bertemu orang-orang, untuk merasa hidup normal kembali.
Apalagi kami punya anak balita. Rasanya itu seperti kesempatan untuk kembali menjadi keluarga biasa.
Istriku sempat bersemangat.
Tapi lagi-lagi, aturan muncul seperti tembok yang tidak terlihat sebelumnya.
Istriku yang bergamis panjang—meskipun tidak bercadar—berhadapan dengan aturan keharusan berpakaian menggunakan celana atau rok.
Hal yang bagi sebagian orang mungkin tampak sederhana.
Tapi baginya itu seperti penolakan halus.
Seolah tubuh dan penampilannya harus diubah dulu agar ia dianggap layak hadir di ruang sosial.
Akhirnya ia mundur.
Dan aku melihat sorot matanya berubah.
Bukan karena ia tidak mau berkontribusi.
Tapi karena ia lelah merasa harus selalu menyesuaikan diri agar dianggap pantas berada di tengah masyarakat.
Di titik-titik seperti itulah, pikiran gelap kadang datang mengetuk.
Terkadang muncul dalam benakku sebuah kalimat yang pahit:
“Dunia memang sudah tidak menginginkan kami, sejauh apa pun kami berusaha untuk ikut terlibat di dalamnya.”
Aku tahu itu bukan sepenuhnya benar.
Masih ada orang-orang baik.
Masih ada ruang-ruang yang menerima.
Masih ada teman-teman yang memeluk tanpa bertanya terlalu banyak.
Masih ada keluarga yang tetap bertahan.
Tapi ada juga kenyataan bahwa penerimaan itu sering bersyarat.
Sering setengah hati.
Sering penuh kehati-hatian.
Dan aku tidak bisa memaksa siapa pun.
Mungkin memang begitulah harga dari masa lalu.
Mungkin memang beginilah konsekuensi dari jalan yang pernah kupilih.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang terus kupegang,
Aku tidak mungkin kembali menjadi orang yang dulu.
Sejahat apa pun dunia memperlakukan kami saat ini sebagai balasan, sekeras apa pun pintu itu ditutup, aku tidak ingin kembali ke jalan gelap itu.
Aku sudah terlalu jauh berjalan untuk pulang.
Dan mungkin inilah ujian sesungguhnya setelah penjara, bukan lagi soal meninggalkan radikalisme, tapi soal bertahan dalam kesepian sosial, soal tetap memilih kebaikan meski tidak selalu diberi ruang, soal terus berjalan meski dunia belum sepenuhnya siap menerima kita.
Karena ada orang-orang sepertiku yang pada akhirnya kembali ke dunia kelamnya.
Bukan karena betah dalam kegelapan.
Bukan juga karena masih keras kepala dengan pemahaman radikalnya.
Tapi karena mereka gagal menemukan jalan pulang.
Gagal mendapatkan support system yang bisa merangkul.
Mereka hidup dalam stigma, teralienasi, dan akhirnya menyerah.
Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka.
Aku ingin tetap berjalan.
Pelan-pelan.
Tertatih.
Kadang sendiri.
Kadang ditutup beberapa pintu.
Tapi tetap ke arah yang benar.
Dan mungkin, pada akhirnya, yang paling penting bukan apakah dunia benar-benar menerima kita.
Tapi apakah kita cukup kuat untuk tetap memilih menjadi manusia yang lebih baik, bahkan ketika dunia ragu.[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar