Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Ibu yang Kucintai, Narasi yang Kutakuti
Setelah semua perubahan yang terjadi di sekolah dan di rumah, hari-hariku mulai terasa semakin sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang membuat langkah terasa semakin berat. Aku sudah tidak sedekat dulu dengan teman-temanku dan dengan ibu pun aku mulai menjaga jarak. Rasanya seperti sedang berjalan di ruangan yang perlahan kehilangan furnitur: kosong, tapi aku tidak tahu apa yang hilang duluan. Di tengah kekosongan itu, satu-satunya suara yang masih terdengar setiap hari adalah pesan dari Farhan. Awalnya semua percakapan berjalan singkat dan formal, pertanyaan tentang materi, pemahaman, dalil, atau pendapatnya tentang kondisi umat. Tapi lama-kelamaan, bentuk percakapan itu berubah dan tanpa kusadari, hanya dialah yang menjadi tempatku bercerita.
Pola itu berlangsung selama sekitar tiga bulan. Setiap malam selalu ada pesan darinya, kadang panjang, kadang hanya satu kalimat seperti, “Sudah tidur?” atau “Bagaimana harimu?” Pesan-pesan yang sederhana, tapi terasa dekat. Di saat aku mulai menjauh dari dunia luar, Farhan seperti pintu kecil yang masih terbuka, meski hanya sedikit. Jika dulu aku merasa koneksi kami adalah tentang ilmu dan dakwah, kini batas itu mulai kabur. Kadang kami membahas tafsir, tapi lima menit kemudian dia bertanya aku sedang apa. Kadang dia mengirimkan e-book berisi penjelasan panjang, tapi setelah itu dia menanyakan apakah aku sudah makan siang. Aku tahu polanya tidak seharusnya begitu, aku tahu ada sesuatu yang bergerak ke arah yang semestinya kuhindari, tapi aku juga tahu… aku tidak sepenuhnya menolak.
Padahal alasan awal aku berhijrah adalah untuk menjaga diri, terutama dari interaksi berlebih dengan laki-laki. Aku ingin menutup auratku dengan baik, ingin menjaga pandanganku, ingin menjaga jarak dari hal-hal yang membuatku jauh dari Allah. Tapi tanpa kusadari justru Farhan, orang yang mengajariku tentang batas itu, dia jugalah yang paling sering menembusnya. Dan aku yang seharusnya bisa menjaga diri, justru membiarkan percakapan kami bertambah intens hari demi hari.
Hingga pada bulan April, aku mulai merasakan sesuatu yang mengganggu pikiranku. Rasanya aneh, seperti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Aku tidak tahu apakah ini yang disebut rasa nyaman atau hanya kebiasaan yang terlalu sering terjadi, tapi yang jelas, ada perasaan yang tumbuh tanpa izin. Setiap kali ponselku berbunyi, aku langsung tahu itu darinya. Dan ketika pesan itu tidak datang, aku merasa ada yang hilang. Aku tidak suka perasaan itu. Bukan hanya karena aku takut salah, tapi juga karena aku tahu Farhan bukan laki-laki yang seharusnya kutaruh di dalam ruang perasaan seperti itu karena kami bahkan tidak pernah bertemu.
Sejak menyadari hal itu, aku mulai gelisah. Di satu sisi aku takut melukai perasaannya. Di sisi lain, aku takut melukai diriku sendiri. Aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan sampai akhirnya aku memutuskan bahwa hubungan kami harus dihentikan sementara atau setidaknya diberi jarak. Itu keputusan yang terasa berat, tapi aku tahu itu perlu dilakukan. Jadi pada suatu malam, setelah menimbang lama sekali, aku menulis pesan panjang untuk Farhan.
Bahasaku formal, hati-hati, tapi tegas. Aku bilang bahwa komunikasi kami sudah terlalu jauh dari tujuan awal, bahwa aku merasa hubungan kami mulai masuk ke wilayah yang rawan fitnah, bahwa aku ingin menjaga diri, dan karena itu aku pikir sebaiknya kami berhenti berbicara dulu. Aku juga mengucapkan terima kasih, karena bagaimanapun, semua materi, e-book, video, dan diskusi panjang tentang ajaran yang ia sebut sebagai “jalan kebenaran”, semua itu memang membentuk diriku pada masa itu. Aku bilang bahwa aku akan tetap membaca materi darinya dan aku menghargai semua waktu yang sudah ia berikan. Tapi komunikasi dengan dia harus dihentikan.
Farhan membaca pesanku dengan cepat. Tidak lama kemudian, dia membalas, terlihat bingung dan tidak setuju. Dia menanyakan alasannya lagi, seolah penjelasanku belum cukup. Aku mengulangi semuanya. Aku bilang bahwa aku tidak ingin perasaan atau perhatian yang tidak seharusnya berkembang di antara kami. Aku ingin menjaga batas, menjaga niat, menjaga hijrahku. Butuh beberapa pesan panjang sebelum akhirnya dia menerima keputusanku.
Setelah hari itu, kami berhenti berbicara. Tidak ada lagi pesan masuk. Tidak ada lagi pertanyaan tentang hari-hariku. Tidak lagi ada diskusi panjang. Sunyi… untuk pertama kalinya setelah tiga bulan.
Minggu pertama terasa aneh. Aku tidak tahu apakah aku merindukan percakapannya atau hanya merindukan rutinitasnya. Tapi aku bertahan dengan keputusanku. Dan selama beberapa hari, semuanya tenang.
Sampai tiba-tiba, pada suatu sore yang biasa-biasa saja, ketika aku baru pulang sekolah, ponselku berbunyi. Nama Farhan muncul di layar. Jantungku sempat berhenti sepersekian detik. Aku berpikir mungkin dia ingin mengirimkan satu materi terakhir, atau sekadar menanyakan kabar sebagai penutup. Tapi ternyata bukan itu.
Pesan pertama hanya berisi namaku. Lalu pesan kedua muncul beberapa detik kemudian, sedikit lebih panjang, tapi membuat napasku tercekat.
"Kamu bilang kamu takut hubungan kita melampaui batas. Kamu takut ada fitnah. Kamu takut hati kita pergi ke tempat yang tidak benar. Kalau begitu… bagaimana kalau kita menikah saja?"
Kalimat yang sama sekali tidak pernah kubayangkan. Kalimat yang tiba-tiba menutup hari itu dengan cara yang tidak pernah kuduga. Kalimat yang… entah bagaimana, justru membuka pintu cerita yang lebih panjang, pintu yang belum berani kusentuh pada saat itu.
Dan tepat di situlah semuanya masuk semakin jauh, semakin dalam dan menarikku masuk tanpa sisa…
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar