Baca kisah sebelumnya: Aku Memilih Pulang, Ia Memilih Pergi
Dikenal sebagai mantan narapidana terorisme, tentu bukan sebuah kebanggan. Namun jauh sebelum semua label itu dilekatkan, mungkin hanya sedikit orang yang tahu kalau aku adalah seorang anak yang tumbuh di rumah yang menormalisasi kekerasan. Kekerasan bukan sesuatu yang luar biasa, ia adalah bagian dari disiplin, bagian dari cara mendidik, bahkan bagian dari yang katanya cinta. Saat aku kecil, Bapak biasa menghukumku dengan hukuman fisik ketika aku berbuat salah. Sebuah ironi yang baru kupahami bertahun-tahun kemudian, saat kekerasan dijadikan alat untuk menghentikan kesalahan. Saat itu aku tidak tahu bahwa tubuhku sedang belajar satu pelajaran penting bahwa pukulan adalah bahasa yang sah. Ingatan ini sebetulnya memalukan untuk kuceritakan, tetapi kejujuran menuntutku untuk mengakuinya. Dari situlah pola hidupku mulai terbentuk.
Aku tumbuh menjadi remaja yang mudah marah, impulsif, dan merasa dunia selalu menantangku lebih dulu. Tawuran menjadi pelampiasan, narkotika menjadi cara menenangkan kegelisahan. Aku tidak merasa jahat. Aku hanya merasa hidupku keras, dan aku menyesuaikan diri dengan kekerasan itu. Tahun 1997 aku masuk SMA. Masa itu bukan sekadar fase pendidikan, tapi juga fase politik yang panas. Indonesia sedang menuju reformasi. Jalanan bergolak, wacana perlawanan beredar di mana-mana, dan aku remaja yang berpeluh dan penuh luka, menemukan resonansi. Aku bertemu dengan kelompok-kelompok yang keras terhadap negara. Dari mereka aku membaca buku-buku yang mengulang satu narasi besar tentang negara yang kapitalis, tidak berpihak pada rakyat kecil, dan dipimpin oleh rezim diktator yang harus dijatuhkan.
Saat itu, tanpa kusadari, ada jembatan psikologis yang terbangun. Kebencianku pada ayah yang kuanggap diktator di rumah, berpindah ke negara sebagai diktator yang lebih besar. Dari ruang kebencian privat pada kemarahan di ruang publik. Dari luka personal ke ideologi politik. Negara menjadi simbol dari semua ketidakadilan yang pernah kurasakan.
Ketika kemudian aku bertemu kelompok radikal berbalut agama, peralihannya terasa mulus. Agama tidak datang sebagai sumber kedamaian, tetapi sebagai alat justifikasi. Dalil-dalil disusun untuk membenarkan kemarahan. Kekerasan diberi makna suci. Pemerintah menjadi thaghut, dan darah dianggap harga yang sah untuk perubahan. ISIS hanyalah nama dari kemarahan lama yang akhirnya menemukan wadahnya. Baru setelah aku menjalani hukuman dan mengalami proses panjang di dalam penjara, aku mulai memahami satu hal penting. Radikalisme tidak lahir dari kekuatan, tetapi dari marah, pengap dan kehampaan. Dari kesepian, dari rasa tidak dianggap, dari kebutuhan untuk diakui. Ideologi ekstrem menawarkan kepastian di tengah dunia yang kompleks. Ia memberi identitas pada orang-orang yang merasa tak punya apa-apa. Di dalam kelompok itu, aku merasa berarti. Ada peran, ada misi, ada kepastian tentang siapa kawan dan siapa lawan. Sesuatu yang tidak pernah kutemukan di rumah, di sekolah, bahkan di negara yang kuanggap jauh dan dingin. Kini aku sadar, yang kucari bukanlah jihad atau revolusi. Yang kucari adalah makna hidup dan rasa diterima.
2025: Bukannya Maju Tapi Mengingat Masa Lalu
Tahun 2025 membuatku kembali teringat masa lalu itu. Aku melihat pola yang serupa, meski wajahnya berbeda. Pemerintah dan rakyat tampak berjalan ke arah yang berlawanan. Ketidakpercayaan tumbuh subur, media sosial dipenuhi kemarahan, kecurigaan, dan narasi kehancuran. Hari ini, radikalisme tidak lagi tunggal dan berbasis agama semata. Ada paham impor baru yang pada awalnya sangat aku ragukan bisa tumbuh di negeri ini. Seperti neo-Nazi, dan True Crime Community (TCC) yang mengagungkan kekerasan, dan menormalisasi kehancuran dengan dalih “kebenaran”. Dan yang paling mengkhawatirkanku tentulah para generasi muda. Mereka tumbuh di ruang digital yang bising, cepat, dan kejam. Algoritma tidak memberi ruang untuk berpikir pelan dan hanya memperkuat emosi paling ekstrem. Dalam ruang seperti itu, kekerasan bukan lagi tabu, namun menjadi tontonan, bahkan hiburan. Di saat yang sama, aku juga melihat lahirnya generasi yang memikul beban yang jauh lebih kompleks daripada yang pernah kuhadapi. Generasi dengan berbagai persoalan kesehatan mental seperti kecemasan kronis, depresi, dan kelelahan emosional yang sering kali tidak terlihat, tidak ditangani, dan justru diremehkan.
Banyak juga dari mereka yang tumbuh sebagai generasi sandwich, terhimpit di antara tanggung jawab menanggung orang tua yang menua dan kebutuhan membangun hidupnya sendiri yang semakin mahal dan tidak pasti. Tekanan ekonomi, tuntutan sosial, ekspektasi kesuksesan, dan kesepian digital bertemu dalam satu tubuh yang lelah. Dalam kondisi seperti itu, kemarahan mudah menemukan sasaran, dan ideologi ekstrem dalam berbagai rupa, menjadi pelarian yang tampak sederhanadengan menawarkan musuh yang jelas, jawaban instan, dan ilusi kendali atas hidup yang terasa kacau.
Di tahap itu, aku melihat bayangan diriku di masa lalu pada wajah-wajah itu. Sama-sama marah, sama-sama merasa ditinggalkan, sama-sama ingin dunia runtuh agar rasa sakit di dalam diri terasa adil. Karena itu aku percaya, penanganan ekstremisme tidak bisa hanya dengan penindakan. Negara tidak cukup hadir sebagai aparat dan hukum. Negara harus hadir sebagai pendengar, sebagai pendidik, dan sebagai ruang pemulihan. Di titik ini, aku juga mulai berdamai dengan masa kecilku. Aku tidak bisa mengubah cara Bapak mendidikku, tetapi aku bisa menghentikan rantai itu. Kekerasan yang diwariskan tidak harus diteruskan. Trauma tidak harus menjadi takdir. Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi identitas seumur hidup.
Harapan di Tahun depan
Tahun depan, 2026, aku ingin hidup lebih jujur. Jujur pada luka-lukaku, pada kesalahanku, dan pada tanggung jawabku sebagai warga negara. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam narasi besar yang mengorbankan manusia kecil. Aku ingin berpihak pada kehidupan yang konkret, keluarga, komunitas, dan dialog. Aku sadar, kepercayaan tidak bisa dituntut. Ia harus dibangun perlahan, melalui konsistensi dan kerja sunyi. Mungkin aku akan selalu membawa label “mantan”, tapi aku menolak dikurung olehnya. Aku ingin membuktikan, terutama pada diriku sendiri, bahwa perubahan itu mungkin, bukan karena paksaan, tetapi karena keberanian untuk berpikir ulang. Salahsatunya dengan “perang” yang kuhadapi saat ini dengan berusaha menyelesaikan studi magisterku.
Jika masa laluku adalah tentang kehancuran, maka masa depanku adalah tentang merawat. Merawat nalar agar tidak tergelincir pada kebencian. Merawat empati agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Merawat harapan, meski kecil dan rapuh. Karena aku percaya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak, tetapi oleh siapa yang paling berani belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya. Dan aku memilih untuk terus belajar, satu tahun, satu langkah, satu manusia pada satu waktu. Kepada siapapun yang tetap hadir, kepada siapapun yang tetap berjalan bersamaku, kepada siapapun yang memberikan kesempatan kedua buatku, dan kepada siapapun yang tidak meninggalkanku, atau mendiskriminasikan aku, terima kasih.[]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar