Aku mengenalnya dari tempat yang sunyi dan gelap, sebuah grup Telegram, sekitar tahun 2014. Bukan ruang yang hangat, bukan ruang yang ramah. Tapi saat itu, bagiku, ruang itu terasa seperti rumah dengan penerimaan yang mewah. Kami berada di sana sebagai sesama pendukung ISIS, sesama orang yang merasa sedang berada di barisan kebenaran, sesama manusia yang mengira dunia bisa diringkas menjadi dua warna saja, kami dan mereka.
Di ruang itu, aku mengenalnya sebagai sosok perempuan yang dalam logika ideologi yang saat itu kuanut terlihat sangat kuat. Ia telah meninggalkan keluarga besarnya. Ia meninggalkan anak-anaknya. Ia meninggalkan mantan suaminya. Semua demi sesuatu yang dulu kami yakini sebagai puncak pengorbanan, akidah dan tauhid.
Saat itu, aku menjadi pengagum beratnya.
Bukan sebagai manusia seutuhnya, tapi sebagai simbol.
Dan di situlah kesalahanku yang pertama.
Awal 2015, aku menikahinya. Pernikahan yang sederhana, tanpa kemeriahan, tanpa restu dunia, dan nyaris tanpa saksi. Peristiwa dengan sebuah ketertutupan yang menyertainya. Saat aku menikahinya, aku sudah memiliki istri dan anak. Dan istri pertamaku tidak mengetahui apa-apa tentang pernikahan tersebut. Saat itu aku merasa sedang berjuang di jalan Tuhan, tapi aku lupa satu hal paling mendasar, kejujuran. Aku bicara tentang iman, tapi mengabaikan keadilan. Aku bicara tentang tanggung jawab, tapi menutup mata dari luka yang akan kutinggalkan.
Namun kebersamaan kami terlalu singkat. Bahkan terlalu singkat untuk disebut rumah. Agustus 2015, aku ditangkap. Penjara datang seperti palu yang memukul hidupku dari segala arah. Kami terpisah. Kontak terputus. Sunyi.
Aku masih ingat rasa hampa itu. Bukan hanya karena kehilangan kebebasan, tapi karena kehilangan arah.
Beberapa waktu kemudian, aku mendapat kabar darinya lewat pesan titipan. Ia masih mendukungku. Di tengah segala kekacauan, itu terasa seperti seutas benang tipis yang menahan aku agar tidak sepenuhnya tenggelam. Aku bersyukur, meski aku tahu, aku tak lagi mampu menjalankan peranku sebagai suami.
Namun penjara perlahan mengubahku. Diskusi demi diskusi. Perdebatan demi perdebatan. Bukan hanya dengan orang lain seperti Densus, BNPT dan para experts, tapi dengan diriku sendiri.
Aku mulai melihat retakan di keyakinanku. Aku mulai menyadari betapa banyak kekerasan yang kusebut kebenaran. Hingga akhirnya aku memilih jalan yang paling sulit, bertaubat, dan mengikrarkan kesetiaanku kepada NKRI.
Dari balik jeruji, aku menghubunginya. Aku masih berharap dan ingin menyelamatkan sesuatu. Tapi ketika aku mengatakan bahwa aku telah ikrar NKRI, aku bisa merasakan jarak itu mengeras. Suaranya berubah. Ada kaget, ada kecewa, ada tembok yang tiba-tiba berdiri di antara kami.
Aku membujuknya. Berkali-kali. Aku memintanya meninggalkan kelompok itu, meninggalkan pemikiran radikal, dan berjalan bersamaku ke jalan baru yang sedang kuusahakan.
Ia menjawab pelan, tapi tegas:
“Sejak aku meninggalkan rumah, mereka adalah keluargaku. Saat kamu ditangkap, mereka yang mendukungku. Aku tidak bisa meninggalkan mereka.”
Aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya juga menakutiku sendiri. “Kelompok itu tidak akan pernah menerima aku. Jika kamu tetap di sana, suatu hari pernikahan kita akan berakhir.”
Aku memikirkan segalanya. Aku siap menghadapi keluargaku, siap berhadapan dengan istri pertama dan anak-anakku. Dan harus siap juga menanggung malu dan konflik. Karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin bertanggung jawab. Sesuatu yang ironisnya baru kupikirkan setelah semuanya terlanjur rusak.
Lalu hari itu datang.
Hari yang tak pernah benar-benar siap kuterima.
Saat aku menghubunginya lagi, ia berkata singkat, “Tolong, ini terakhir kali kamu menghubungi saya. Malam ini akan ada seorang ikhwan yang datang meminang saya.”
Aku terdiam lama.
Aku kaget, tapi aku juga paham.
Dalam pemahaman kelompok itu, aku telah murtad.
Dan dalam logika itu, pernikahan kami selesai bahkan sebelum aku sempat berpamitan.
Aku dikafirkan.
Aku ditinggalkan.
Ia memilih pergi demi sesuatu yang ia yakini sebagai tuntutan iman.
***
Jika disebut duka, bagiku tentu itu adalah duka. Bukan duka yang meledak-ledak, tapi duka yang sunyi.
Duka yang datang di malam hari, saat lampu sel sudah padam, dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri. Sebagai seorang suami, meski dengan segala kekeliruan dan dosa, aku merasa telah berusaha. Aku membuka pintu dari tempat tersempit yang kumiliki. Aku mengajaknya keluar. Tapi aku belajar satu hal yang sangat pahit, tidak semua orang bisa atau mau berjalan keluar bersamamu.
Ia memilih jalannya.
Dan aku memilih jalanku.
Kini aku tak tahu ia di mana.
Tak tahu hidupnya seperti apa.
Yang aku tahu, perubahan sering kali tidak hanya menuntut keberanian, tapi juga kesiapan untuk kehilangan. Kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan ilusi tentang kebenaran. Kehilangan versi diri kita yang lama.
Aku memilih untuk tidak larut. Bukan karena aku kuat, tapi karena aku harus bertahan. Aku tidak menulis ini untuk menyalahkannya. Aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri, bahwa iman tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan luka, dan bahwa pertobatan sejati hampir selalu sunyi, mahal, dan menyakitkan.
Aku berjalan ke depan dengan tertatih.
Membawa penyesalan.
Membawa tanggung jawab.
Dan membawa satu tekad kecil, aku tidak ingin kembali menjadi manusia yang mengorbankan cinta atas nama keyakinan, dan mengorbankan manusia atas nama Tuhan.[]
Ilustrasi: By ChatGPT
Komentar