Puasa Ramadhan, Penjara, dan Jalan Pulang yang Pelan

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Baca kisah sebelumnya: Kami Sudah Berubah, Tapi Dunia Masih Ragu

Ada jeda aneh antara kebebasan dan Ramadan pertamaku di penjara. Aku ditangkap sekitar sebulan setelah Lebaran berlalu. Ketika suasana hangat keluarga dalam Idul Fitri sudah menjadi kenangan. Maka ketika Ramadan datang kembali setahun kemudian, aku menyambutnya dengan hati yang gamang. Dalam benakku, puasa di balik jeruji adalah soal kehilangan, kehilangan yang tak bisa ditambal oleh apa pun.

Ramadan, bagiku, selalu identik dengan rumah. Dengan tepukan lembut istri untuk membangunkan sahur. dengan suara anak yang mengantuk, setengah merengek, setengah memaksa ikut makan, dengan meja sederhana yang tak pernah benar-benar penuh, tapi selalu hangat. Semua itu seketika hilang ketika pintu besi menutup di belakangku.

Di dalam rutan, aku membayangkan puasa hanya akan memperpanjang rasa sepi. Tak ada keluarga, tak ada kebersamaan, tak ada ruang untuk berpura-pura baik-baik saja. Aku membayangkan sahur akan menjadi ritual sunyi, dan berbuka akan terasa seperti hukuman tambahan.

Ternyata, kenyataan tidak sepenuhnya seperti itu.

Bukan berarti kehilangan itu lenyap. Kehilangan itu tetap ada, keheningan pun menetap, dan kadang datang tanpa permisi. Tapi Ramadan 2017 di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua tidak seburuk yang aku bayangkan. Dalam banyak hal, ia justru menjadi ruang belajar yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kekhawatiran pertamaku adalah soal sahur dan berbuka. Bagaimana kami akan makan? Apakah kami akan diperlakukan seadanya? Apakah ibadah akan dibatasi?

Kekhawatiran itu perlahan runtuh. Densus 88 mengatur ulang jam makan kami. Makan pagi dimajukan ke waktu sahur. Jatah makan siang tidak dihilangkan, melainkan diganti menjadi menu takjil yang diberikan menjelang berbuka, bersamaan dengan makan malam.

Tidak mewah, tidak istimewa, tapi cukup, layak. Dan yang terpenting, manusiawi.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata punya makna besar. Di situ aku merasa, meskipun kami berada di balik jeruji dengan label yang berat, kami tetap diperlakukan sebagai manusia, sebagai warga negara, sebagai anak bangsa yang betapapun salahnya jalan yang pernah kami pilih, masih diberi ruang untuk menjalani ibadah dengan martabat.

Siang hari di bulan Ramadan pun terasa berbeda. Densus kerap memanggil beberapa perwakilan dari tiap blok secara bergantian. Mereka mengadakan pengajian dengan mendatangkan ustaz dan tokoh-tokoh agama. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan, bahkan mereka yang masih keras dan memusuhi tetap dibiarkan dengan sikapnya.

Aku mulai memahami, ini bukan sekadar ceramah. Ini upaya membuka pintu dialog. Membangun hubungan dua arah, memberi ruang agar hati bisa melunak dengan caranya sendiri. Dari kesediaan mendengar, bukan dari pemaksaan.

Menjelang berbuka, rindu juga sering datang tanpa aba-aba. Aku teringat suara anak-anak di rumah yang biasanya riuh menunggu azan magrib. Aku teringat hidangan takjil buatan istri yang sederhana, tapi penuh rasa karena dibuat dengan cinta. Aku teringat canda yang dulu kuanggap biasa.

Di rutan, semua itu berganti dengan pemandangan yang jauh lebih hening. Tak ada meja makan keluarga, tak ada suara anak-anak. Yang ada hanya sepotong ubi rebus, sebungkus teh manis hangat, dan tiga butir kurma.

Namun dalam keterbatasan itu, kami belajar beradaptasi. Takjil sederhana itu kami “hidupkan” dengan canda antarpenghuni rutan. Kami saling berbagi cerita, saling melempar gurauan kecil, saling menertawakan nasib. Bukan untuk menyepelekan luka, tapi untuk bertahan dan meninggalkan kenangan.

Saat malam tiba dan waktu shalat tarawih datang, ada satu momen yang sangat kusyukuri. Pintu-pintu sel dibuka. Kami diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah di tiap blok.

Ironis rasanya.

Mereka yang dulu kami sebut musuh, yang kami benci, kami maki, bahkan kami anggap halal darahnya, justru menjadi pihak yang membuka ruang ibadah kami. Memberi kesempatan kami berdiri sejajar dalam saf, menghadap arah yang sama, menyebut nama Tuhan yang sama.

Di momen-momen itulah pertanyaan-pertanyaan mulai bergema di kepalaku. Tentang siapa sebenarnya lawan dan kawan. Tentang bagaimana kebencian bisa membutakan akal sehat. Tentang betapa mudahnya manusia menghalalkan kekerasan atas nama kebenaran yang ia klaim suci.

Sebagai seorang tahanan, apa yang aku alami di Ramadan itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. Apa yang dilakukan negara melalui Densus 88 bagiku sangat manusiawi. Kami tidak diperlakukan sebagai monster, tetapi sebagai manusia yang masih diberi ruang untuk berpikir ulang dan menimbang kembali jalan yang pernah kami tempuh.

Aku tentu tidak menutup mata pada luka yang ada. Dan aku sangat menyesali peristiwa Mako Brimob 2018 yang merenggut empat nyawa, sebuah tragedi yang kelak akan kuceritakan tersendiri. Luka itu nyata dan tidak bisa dihapus begitu saja.

Namun Ramadan 2017 di Rutan Mako Brimob tetap menjadi salah satu pengalaman paling membekas dalam hidupku. Ia menjadi ruang kontemplasi yang sunyi tapi jujur. Ia memaksaku bercermin. Ia memperlihatkan bahwa apa yang dulu aku anggap sebagai perjuangan ternyata tidak pernah sebanding dengan kehancuran dan kehilangan yang ditimbulkannya.

Di bulan itu, di balik jeruji, aku mulai memahami satu hal sederhana namun mendasar, yaitu, tidak ada ideologi, tidak ada klaim kebenaran, yang layak ditebus dengan hancurnya keluarga, hilangnya nyawa, dan tercerabutnya kemanusiaan.

Dan kesadaran itu justru lahir di tempat yang paling tidak pernah kubayangkan, di dalam penjara, saat Ramadan.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar