Baca kisah sebelumnya: Bayi-Bayi di Balik Jeruji yang Mengajariku Arti Cinta dan Kemanusiaan
Dari Buku yang Membuka Mata
Sejak kecil, aku selalu dekat dengan buku. Bagiku, membaca adalah cara melarikan diri terasyik dari kekosongan, buku juga membantuku menata pikiran, dan sesekali menemukan jalan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Ironisnya, buku pula yang menuntunku pada sosok yang kemudian menjadi salah satu pilar perubahan dalam hidupku.
Aku mengenal beliau pertama kali lewat buku yang kutemukan di sudut rak perpustakaan Lapas Sentul, buku itu berjudul “Temanku, Teroris?”. Saat itu, aku masih berada dalam dunia yang sempit dan terisolasi dengan kurungan jeruji dan CCTV. Buku itu memukul hatiku dengan cara yang tak terduga. Di setiap halaman, aku melihat sekilas bayangan diriku sendiri — kesalahan, kebingungan, ideologi yang membutakan, dan jalan gelap yang pernah kutempuh. Ada kalimat yang membuatku menahan napas, ada paragraf yang membuat mataku berkaca. Buku itu bukan hanya bacaan, tapi cermin yang memperlihatkan siapa aku sebenarnya, termasuk kegagalanku sebagai manusia, anak, suami, dan ayah.
Langkah Pertama Menghubungi
Setelah bebas, rasa penasaran itu berubah menjadi tindakan nyata. Aku mulai mencari informasi tentang sosoknya lebih jauh, membaca wawancara, tulisan, dan laporan kegiatannya. Semakin kubaca, semakin jelas bahwa beliau bukan sekadar akademisi, peneliti, atau mantan wartawan, tapi juga aktivis yang berdedikasi pada perdamaian dan deradikalisasi. Semua itu membuatku terpikat, sekaligus sedikit cemas. Bagaimana seorang tokoh besar mau membuka diri untuk seorang mantan teroris yang baru bebas dari penjara?
“Tapi, lanjut saja, lah.” Pikirku. Dan keberanian itu pun lahir. Lahir dari satu niat untuk berubah dan berguna bagi msyarakat. Aku mengontaknya, memperkenalkan diri, dan balasannya sangat sederhana, namun monumental bagi aku yang seorang mantan napi teroris,
“Apa yang bisa saya bantu?” Kalimat itu sederhana, tetapi bagiku, itu adalah bentuk respek yang tulus, pengakuan bahwa aku bukan sekadar label ‘mantan teroris’ tapi manusia yang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Itu membuat hatiku lebih ringan, dan sekaligus menyalakan secercah harapan.
Ruangobrol: Tempat Menulis dan Belajar
Aku menjelaskan tujuan dan niatku, aku ingin berubah, bertumbuh, dan pengalaman gelapku bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda agar tak menempuh jalan yang sama. Ia menyambut dengan tangan terbuka dan memperkenalkanku dengan adiknya, Mas Hakiim, serta timnya di Ruangobrol. Saat itu aku belum bertemu langsung dengannya, tapi aku merasa sudah menemukan mentor. Lewat Ruangobrol, aku diberi kesempatan untuk menulis tentang pengalaman hidupku, menjelaskan bahaya terorisme, dan mengedukasi masyarakat. Dalam berbagai kegiatan, aku juga menjadi narasumber P/CVE (Preventing and Countering Violent Extremism). Tiap kali berbicara, aku merasakan beban masa lalu, tetapi juga harapan bahwa cerita ini bisa mencegah orang lain mengikuti jejakku.
Pada akhir 2021, aku ingin mengambil langkah lebih jauh, meminta maaf langsung kepada Mas Bambang Adi cahyono, salah satu korban aksi terorisme di Mapolresta Surakarta. Aku ragu dan takut, tetapi sosok mentor ini mendukungku. Tidak hanya memberikan dukungan moral, beliau membantu merangkum catatan, kisah, dan pengalaman hidupku, hingga akhirnya menjadi sebuah mini dokumenter. Saat film itu diputar di berbagai kesempatan, aku merasakan campuran emosi, antara sedih karena harus mengingat kejahatan yang pernah kulakukan, tetapi juga bangga karena pengalaman itu bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Selama proses itu, aku juga mulai menyadari bahwa pendidikan adalah bagian penting dari perubahan. Beliau mendorongku untuk kembali kuliah, bukan semata-mata untuk gelar atau menutupi identitas masa lalu, tetapi untuk memperluas ilmu, memperluas wawasan, dan memperkuat perspektifku tentang kehidupan, perdamaian, dan kemanusiaan. Aku belajar bahwa pendidikan bukan sekadar gelar, tapi jalan untuk memperluas cakrawala berpikir dan meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan.
Munir Kartono (paling kanan) bersama tim program KOMSTRA-PE Kreasi Prasasti Perdamaian-Ruangobrol.(Dok.Ruangobrol.id)
Pesan yang Terus Terpatri
Satu kalimat yang masih terpatri kuat dalam ingatanku setelah mini dokumenter itu keluar,
“Sekarang kamu dikenal orang. Tapi jangan pernah berpikir kalau kamu adalah artis. Kamu itu aktivis. Aktivis perdamaian dan kemanusiaan.”
Kalimat itu bukan hanya pengingat, tetapi pegangan moral. Bukan tentang popularitas atau pengakuan, tetapi tentang tanggung jawab yang lebih besar yaitu menyebarkan perdamaian, mengedukasi, dan menjadi contoh nyata perubahan. Perjalanan ini menunjukkan padaku bahwa perubahan sejati tidak terjadi dalam ruang hampa. Perubahan terjadi karena sosok yang bisa dipercaya, yang mau mendengar tanpa menghakimi, yang memberi ruang untuk berkembang, dan yang menyalakan kembali harapan di hati orang yang tersesat. Dari buku ke telepon lalu kolaborasi, edukasi , mini dokumenter, pertemuan, dan pendidikan akademik, semua membentuk satu narasi, narasi perubahan yang nyata, reflektif, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Kini, ketika aku menulis, mengedukasi, dan berbicara di berbagai forum, aku membawa satu pesan besar, bahwa perubahan itu mungkin, dan bahwa mentorship yang tulus dan pendidikan yang luas dapat mengubah jalan hidup seseorang yang tersesat menjadi jalan bagi manfaat sosial yang lebih besar. Semua itu aku pelajari dari sosok yang kutemui pertama kali lewat buku, yang kemudian menjadi bagian dari hidupku, membimbingku dengan tangan terbuka, dan meneguhkan perjalananku menuju kehidupan yang bermakna. Terima kasih Pak Noor Huda Ismail dan tim Ruangobrol.id.[]
Foto utama: Pertemuan pertama dengan Dr. Noor Huda Ismail (Dok. Munir Kartono)
Komentar