Di Antara Stigma, Studio, dan Jalan Pulang Seorang Mantan Napiter

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Baca kisah sebelumnya: Sebuah Surat untuk Sahabat yang Hilang

Ada masa dalam hidupku ketika musik menjadi musuh. Dalam lingkaran pemikiran radikal yang dulu membentukku, musik dianggap sumber kelalaian, perangkap syahwat, dan jalan menuju kesia-siaan. Lagu, melodi, alat musik, semua dimasukkan dalam satu kotak pandora hitam, haram, dilarang, dan harus dijauhi. Dan selama bertahun-tahun aku percaya begitu saja, tanpa pernah bertanya, tanpa pernah menguji, tanpa pernah mencoba melihat dari sisi lain. Dan ironisnya, jauh sebelum aku terseret ke dalam dunia itu, aku adalah anak yang tumbuh bersama musik. Bapakku adalah seorang Jawa yang lekat dengan musik tradisionalnya. Aku juga suka mendengar berbagai genre musik, suka mencari makna di balik tiap lirik, suka merasakan bagaimana sebuah lagu bisa menggerakkan hati. Tapi setelah kecelakaan yang membuat jari-jariku tak lagi lentur seperti dulu, aku berhenti memegang alat musik. Seperti ada bagian yang patah bukan hanya di tangan, tapi juga di dalam diriku.

Setelah keluar dari penjara, pertemuanku dengan orang-orang yang tidak pernah menyeretku pada stigma, membuatku pelan-pelan membuka kembali pintu yang dulu kututup rapat. Salah satunya adalah Boas Simanjuntak, peneliti dari Safe Net yang pernah bilang dengan santai, “Santai, bro. Lu dulu kan suka musik. Gue percaya, musik itu nggak cuma bisa bentuk karakter lu. Tapi bisa melembutkan hati.”
Dan magisnya, entah kenapa kata-kata itu tinggal lama di kepalaku. Mungkin karena ia tidak memaksaku percaya apa pun, dia hanya mengingatkan siapa diriku dulu. Siapa aku sebelum gelap itu menutupi segalanya. Dan pada akhirnya, musik juga menuntunku menjadi jalan pulang, meski jalannya berliku dan tidak selalu nyaman. Musik tidak serta-merta membuka pintu kebebasan. Ia justru pertama-tama membukakan pintu kesadaran tentang betapa kaku dan kerasnya diriku selama ini.

***

Perjalanan itu semakin dalam ketika seorang teman masa kecil mengenalkanku pada seorang lelaki yang lebih muda dariku, tapi secara pengalaman dan kemapanan justru jauh melampauiku. Ternyata ia adik kelasku dulu di SMP. Rentang usia kami memang cukup jauh, sehingga kami tidak pernah bersinggungan di sekolah. Tapi sejak awal pertemuan, dia memintaku bercerita tanpa sedikit pun menghakimi. Sikapnya tenang, hangat, dan membuatku merasa tidak sedang diawasi. Dia bukan hanya pengusaha, tapi juga seorang personel sebuah band reggae yang cukup dikenal.

Suatu ketika dia bercerita tentang impiannya saat masih remaja, “gue pingin bikin studio musik yang berkelas, yang bisa jadi rumah bagi banyak musisi, termasuk musisi besar. Dan impian itu akhirnya benar-benar ia wujudkan. Ketika pertama kali masuk ke studionya, aku merasa seperti memasuki dunia yang pernah kucintai dan pernah kutinggalkan. Awalnya aku berdiri kikuk, hanya mengamati. Tanganku yang dulu pernah patah, masih terasa kaku setiap kali melihat alat musik. Ada rasa rindu, tapi juga rasa takut. Seperti seseorang yang kembali ke rumah masa kecilnya dan takut menemukan bahwa ia tidak lagi pantas untuk tinggal di sana. Namun lelaki itu tidak pernah mendorongku terlalu jauh. Ia hanya berkata, “Main-main aja dulu. Nggak harus nyentuh apa pun, feel and enjoy the place.” Dan entah kenapa, kata-katanya terasa seperti izin untuk kembali jadi manusia.

***

Studio itu kemudian turut jadi ruang penyembuhan bagiku. Di sana aku bertemu orang-orang yang tidak peduli siapa aku dulu. Ada music director yang humble, gitaris yang suka banget ngobrol, bassis yang senang ceplas-ceplos dengan deretan pigura gambar di tubuhnya, drummer yang humoris, penyanyi yang senyumnya selalu membuat ruangan terasa terang, dan para kru yang candaan-candaanya terdengar memenuhi ruangan seperti kegilaan. Mereka semua datang dari latar belakang berbeda, tapi selalu terlihat menikmati perbedaan itu. Dan perlahan, aku belajar banyak di sana. Bahwa tidak semua batas harus dijadikan tembok. Bahwa tidak semua perbedaan harus diseragamkan. Bahwa justru harmoni lahir dari keanekaragaman, bukan dari pemaksaan.

Awalnya aku minder setiap kali musisi terkenal datang. Aku sering memilih berdiri jauh, hanya ingin mengamati. Bahkan untuk sekadar berfoto saja aku ragu. Aku takut keberadaanku menimbulkan ketidaknyamanan. Ada pikiran buruk yang sempat muncul,

Apa mereka bakal mundur menjauh kalau tahu masa laluku?”

Apa kehadiranku bisa merusak citra mereka?”

Apa keberadaanku juga bisa merusak citra pemilik studionya?

Namun lelaki pemilik studio itu tidak pernah sekalipun menyuruhku menjauh. Ia bahkan memintaku untuk ikut nimbrung, ikut tertawa, ikut mendengarkan musik bersama. Dia tidak pernah membiarkan rasa rendah diri itu tumbuh menjadi tembok. Kadang, saat ada masalah teknis, ia memintaku membantu. Bukan pekerjaan besar, tapi bagiku itu berarti lebih dari sekadar upah. Itu adalah bentuk penerimaan yang priceless.

***

Dalam masa itu aku menyadari sesuatu, musik tidak hanya membuatku kembali peka, tetapi juga kembali waras. Aku mulai bisa membedakan mana suara dari masa lalu yang harus dibungkam, dan mana suara dari diri sendiri yang layak didengarkan. Ada satu malam yang tidak pernah kulupa. Kami sedang menunggu jamming session sebuah band melodic punk selesai, dan salah satu musisi memutar sebuah cover lagu lawas. Lagu yang pernah sering kuputar dulu. Aku terdiam. Seperti ada pintu terbelah di dalam diriku. Dan tiba-tiba aku merasa sangat manusia, sangat rapuh, tapi juga sangat hidup. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saat itu, aku membiarkan diriku tersentuh tanpa merasa bersalah.

Musik mengajariku untuk menerima keterbatasan, menerima luka, menerima kegagalan. Dan yang lebih penting, menerima bahwa aku masih punya kemungkinan untuk berubah. Bahwa aku tidak ditakdirkan hidup selamanya dalam ruang gelap yang dulu meyakinkanku bahwa dunia hanya hitam dan putih.

***

Namun perjalanan ini juga membuatku berpikir tentang orang-orang yang berjalan di jalur seperti diriku. Ada mereka yang pernah berusaha keluar, tapi akhirnya gagal. Ada yang kembali ke kegelapan bukan karena mereka mencintainya, tapi karena mereka tidak menemukan jalan pulang. Tidak menemukan support system. Tidak menemukan satu pun tangan yang mau menggenggam. Mereka hidup dalam stigma, teralienasi, dan perlahan menyerah pada masa lalu yang terus menghantui.

Aku beruntung. Dan tidak semua orang seberuntung aku.

Kadang aku bertanya dalam hati, bagaimana hidupku sekarang jika aku tidak bertemu orang-orang yang mau menerimaku, yang mau membuka ruang untukku tumbuh, yang percaya bahwa seseorang bisa berubah? Mungkin aku tidak akan duduk di ruang studio yang sejuk itu. Mungkin aku tidak akan mendengar kembali lagu-lagu yang dulu kucintai. Mungkin aku juga tidak akan menemukan versi diriku yang lebih jernih dan lebih lunak dari yang pernah kubayangkan.

Kini, setiap kali aku berada di studio itu, atau sekadar memasang earphone sambil menutup mata, aku tahu bahwa aku sedang menyambungkan diriku dengan sisi paling manusiawi dari diriku sendiri. Sisi yang dulu sempat hilang.

Musik mungkin tidak mengubah masa laluku. Tapi ia memberiku bahasa baru untuk memahami masa depan. Ia memberiku keberanian untuk tidak kembali terjatuh. Ia membantuku merawat nalar, bukan untuk memberontak membabi-buta, tapi untuk bertahan sebagai manusia yang utuh. Jika ada yang kutemukan dalam perjalanan ini, itu adalah kesadaran bahwa hati tidak diciptakan untuk tinggal selamanya dalam kerasnya dunia. Ia butuh sesuatu yang mengalir, yang melembutkan, yang membuatnya lentur. Musik melakukan itu untukku, pelan, konsisten, dan tanpa syarat.

Dan mungkin, itulah alasan aku masih di sini, masih berusaha tumbuh, dan masih percaya bahwa kebaikan bisa lahir dari tempat yang paling tidak terduga.

Musik bukan sekadar suara.
Bagiku, musik adalah pintu pulang yang tidak pernah kutahu sedang menunggu.

Dan semua itu mungkin tidak akan terjadi tanpa seseorang yang percaya bahwa aku pantas diberi kesempatan kedua untuk mulai dari awal. Seorang pria yang bernama Praha Alba Santana.

Untuk segala ruang yang kau buka, untuk setiap kepercayaan yang kau berikan, untuk setiap kesempatan yang kau biarkan tumbuh sendiri tanpa paksaan, aku berutang banyak.

Terima kasih, Praha.
Terima kasih karena telah mengizinkanku menemukan kembali diriku.

Dan akhirnya, dari sudut studio, Superiots berbisik lembut di telinga. Menutup perjalananku, menutup masa laluku, “Aku Ingin Pulang”. []



Ilustrasi: By AI (Canva)

Komentar

Tulis Komentar