Sebuah Surat untuk Sahabat yang Hilang

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Untuk Bahrun Naim Sahabatku,

Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu. Aku juga tidak tahu apakah kau masih hidup, atau hanya tinggal sebagai nama yang membayangi masa laluku. Tapi bagaimanapun, ada sesuatu yang harus kutuliskan, bukan untuk membenarkan masa lalu, bukan pula untuk membuka kembali dendam-dendam lamaku, melainkan untuk menyampaikan sesuatu yang tertahan begitu lama di dadaku.

Kita pernah menjadi sahabat. Dua anak muda yang terseret dalam arus ideologi yang kala itu terasa seperti kebenaran mutlak. Kita pernah tertawa bersama, bergerak bersama, marah pada dunia yang sama, dan perlahan tenggelam bersama dalam lingkar yang akhirnya memakan hidup banyak orang, termasuk hidup kita sendiri.

Aku masih ingat, banyak kenangan tentang kita. Kita main bilyar di dekat rumahmu, keliling Kota Solo dengan Mazda Orangemu dan main ke Tawangmangu sampai larut malam, lalu mengakhiri perjalanan dengan makan sate landak sambil saling meyakinkan bahwa hidup kita sedang menuju kemenangan”. Kita juga pernah berdiri di barisan demonstrasi, mengibarkan bendera al-liwa dan ar-royah dengan dada membusung, berteriak dengan langtang, “Tegakkan Khilafah!” dan kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar.

Satu masa, kita juga pernah berjualan bendera itu bersama. Bahkan kita juga pernah duduk bersama di tempat yang berbeda untuk mencuri uang di internet, uang yang saat itu kita sebut fa’i, rampasan perang. Kau ingat itu, kan? Kita menyebut kejahatan itu sebagai ibadah. Walaupun aku tak tahu, jika kini kau masih hidup, apa kamu akan sepakat denganku kalau itu kejahatan? Yang jelas, kini, itu adalah kejahatan bagiku.

Tapi, Bro, ada hal yang harus kau dengar, di penjara, aku pernah sangat membencimu.

Aku melewati malam-malam penuh dendam. Aku merasa kau meninggalkanku. Kau pergi ke Suriah dan menyelamatkan dirimu, sementara aku ditangkap, dibui, dan harus menghadapi segala akibat dari perbuatan kita berdua. Aku marah karena pengeboman istana negara, yang aku syukuri tidak pernah terjadi, kau alihkan tanpa kabar, lalu malah ada penyerangan dan pengeboman di Mapolresta Surakarta. Aku mengetahui semuanya setelah terjadi, dalam keadaan tidak berdaya, tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, dan tidak tahu apa yang sebenarnya ada di kepalamu. Aku mendidih, bukan hanya karena aksi itu salah, tapi karena aku merasa kau mengkhianati skenario yang kita rumuskan bersama, seakan-akan hidupku tidak bernilai apa-apa.

Namun waktu dan penjara adalah guru paling kejam sekaligus paling jujur buatku.

Perlahan aku sadar bahwa dendamku padamu tidak akan pernah mengubah apa pun. Aku sadar, saat itu, kita sebenarnya tidak lebih dari dua anak muda yang tersesat, mencari makna dengan cara yang salah, dan terjerumus lebih dalam dari yang kita bayangkan dengan fatalitas nyawa manusia yang menjadi korbannya.

Dan ada bagian dari diriku yang hingga hari ini, meski sudah keluar dari semua itu, masih belum sepenuhnya percaya bahwa kau telah mati. Barangkali karena otakku masih susah menerima kenyataan, atau karena kenangan masa lalu kita terlalu dalam tertanam. Tapi jika kau masih hidup, maka ada sesuatu yang harus kau renungkan.

Lihatlah Fiqa. Istrimu.
Ingat wajahnya. Ingat caranya
bersabar saat kau dulu dipenjara, ingat caranya menangis saat keluarganya menghakimi, dan ingat caranya terus berdoa meski dunia kita penuh bahaya dan dusta.

Lihatlah juga tiga anakmu.
Bayangkan mereka tumbuh dalam perang. Bayangkan suara ledakan menggantikan dongeng masa tidur mereka. Bayangkan mereka membesar tanpa ayah yang utuh, tanpa rumah yang aman, tanpa masa depan yang jelas.

Apa itu kehidupan yang kau inginkan untuk mereka?
Apa itu kemenangan
bagimu?
Dan jawablah dengan jujur, siapa yang sebenarnya kau perjuangkan?

Dulu kita pikir perjuangan menuntut pengorbanan. Tapi kini aku baru paham, yang paling sering dikorbankan justru orang-orang yang tidak pernah memilih jalan itu.

Aku tahu kau cerdik. Kau pandai merangkai narasi, membuat alasan, dan menenun justifikasi. Tapi jika kau masih hidup, jika kau membaca ini, aku mohon, untuk pertama kalinya dalam hidup kita yang penuh dogma itu, lihatlah dunia dengan mata telanjang.

Aku telah melalui masa gelapku. Aku telah duduk di titik terendah sebagai seorang manusia. Aku telah dihina, dicurigai, distigma, dan ditinggalkan. Tapi melalui semua itu, aku belajar sesuatu,

Tidak ada ideologi, tidak ada pemimpin, tidak ada bayang-bayang kekhalifahan yang sebanding dengan hidup orang-orang yang kita cintai dan nyawa orang lain yang menjadi tumbalnya.

Aku keluar dari dunia itu bukan karena aku kalah, tapi karena aku akhirnya mengerti bahwa kebenaran tidak pernah lahir dari amarah. Aku tinggalkan semua itu karena aku ingin hidup, bukan mati dalam kesiaan.

Dan kalau kau masih bernapas di dunia ini, aku ingin kau melakukan hal yang sama.
Kembalilah.
Bertaubatlah. Akhiri semua ini.

Bukan untukku. Bukan untuk negara.
Tapi untuk tiga anak yang
mengharapkan sosok ayah yang seharusnya menjadi rumah bagi mereka.

Bro, meski seluruh dunia menyebutmu teroris, bagiku kau tetap sahabat masa mudaku. Kau bagian dari cerita yang tidak bisa kuhapus, betapa pun pahitnya. Tapi justru karena itu, aku ingin kau mendengar kata-kata ini tanpa defensif, tanpa marah, tanpa dogma sebagai tameng.

Masih ada jalan kembali. Meskipun gelap, meskipun sempit, meskipun penuh luka, jalan itu pasti ada.

Dan jika memang kau belum mati, hingga suatu hari surat ini benar-benar sampai padamu, aku hanya berharap satu hal,

Semoga kau memilih untuk hidup. Semoga kau memilih keluargamu. Semoga kau memilih menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Dan dengan seluruh luka yang pernah kita bagi bersama, aku menulis ini bukan sebagai musuh, tapi sebagai sahabat yang tak ingin melihatmu terkubur oleh masa lalu yang sama, yang pernah hampir menelan hidupku.

Aku berharap kau masih bisa pulang, meskipun harus menjalani hukuman seperti yang telah aku lewatkan, hukumannya pasti akan sangat berat, tapi itu konsekuensi yang harus dihadapi sebagai orang yang berani bertanggung jawab atas pilihan jalan yang salah.[]



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar