Peristiwa di SMAN 72 Jakarta beberapa hari yang lalu, dengan segala pemberitaan tentang motif di baliknya – yang katanya disebabkan oleh bullying yang dialami oleh pelaku, mengingatkan aku pada seseorang. Seorang kenalan yang memiliki ideologi dan keyakinan yang sama, sama-sama meyakini sah dan benarnya Negara Islam yang dideklarasikan oleh kelompok teror IS (Islamic State/ISIS), yang mana semua orang yang mengaku beriman wajib taat, mendukung, dan membantunya dengan segala kemampuan yang dimiliki.
Baca juga: Bullying di Sekolah: Benih Radikalisme Sosial yang Gagal Disembuhkan
Pertemuan pertama itu diawali dari perbincangan di warung makan yang ada di sebuah kota di Jawa Timur, perbincangan hangat yang masih cenderung kau karena masing-masing masih saling menutupi identitasnya satu sama lain karena khawatir kalau-kalau lawan bicara ini adalah seorang aparat yang sedang menyamar. Keamanan dan kerahasiaan adalah nomor satu.
Singkat cerita, orang ini sudah semakin terbuka dan banyak bercerita tentang kehidupannya. Mulai dari asal dan awal mulai bagaimana dia mengenal hal-hal terkait kelompok teror IS ini, sampai dengan memperlihatkan paspor yang sudah dipersiapkannya untuk melakukan Hijrah ke Suriah.
Satu hal yang membuat saya mengingat orang ini ketika mengikuti berita perkembangan kasus di SMAN 72 Jakarta adalah, bullying. Obrolan kami begitu mengalir, mulai dari membicarakan propaganda-propaganda IS sampai dengan bagaimana menyesuaikan diri di tengah masyarakat agar tidak terlihat berbeda dan dicurigai. Di sela-sela obrolan itu, saya akhirnya mengetahui alasan yang membuat dia akhirnya dapat masuk ke dalam lingkaran ekstrem-terorisme, alasan yang hampir sama dengan yang dialami oleh pelaku aksi di SMAN 72 Jakarta.
Bullying menjadi akar awal kenapa dia terjerumus dalam jaring-jaring kelompok dan pemikiran ekstrem. Pengasingan dan pengucilan yang dia rasakan, membuatnya mencari jalan untuk menjadi ‘stand out’ dan bangkit dari keterpurukan itu. Dengan fondasi pemikiran yang didapatkan dari sebuah komunitas kajian keagamaan yang eksklusif, yang memandang segala macam permasalahan keagamaan dan duniawi dengan kacamata yang sempit, orang ini sudah memiliki modal awal yang diperlukan untuk masuknya pemahaman-pemahaman kelompok teror.
Bak gayung bersambut, dia menganggap bahwa pemahaman yang dibawa oleh kelompok teror seperti IS adalah sebuah kebenaran yang mutlak dan tak terbantahkan. Namun, yang paling saya ingat adalah bahwa dia mendapatkan ‘keberanian’ untuk bangkit dan melawan terhadap tindakan bullying, pengasingan dan pengucilan yang dia alami adalah dari pemahaman yang dibawa oleh IS.
Pemahaman yang memberinya posisi sebagai seorang pejuang agama yang tak takut mati, dengan sorban di kepala dan senjata AK-74 di tangan, seakan memberinya semangat dan gairah baru untuk terlahir kembali sebagai pribadi yang berbeda. Pribadi yang berani dan bengis. Semua ini tercermin dari isi-isi file yang ada di laptopnya yang tak jauh-jauh dari ideologi-ideologi kelompok teror, tutorial pembuatan bahan peledak, dan ratusan video-video pemenggalan kepala.
Apa yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok teror berupa janji-janji manis akan surga, kisah-kisah kepahlawanan yang hebat dari para pejuangnya, dan tujuan hidup yang memberikan seseorang arti dan perasaan dimiliki oleh suatu komunitas tertentu, menjadi bahan bakar yang kuat untuk mendorong seseorang memiliki pemahaman yang berbeda dari kebanyakan orang.
Jika seseorang diasingkan dari komunitas di sekitarnya, maka tentu ketika ada komunitas lain yang menawarkan sebuah tempat yang dapat memberi mereka makna maka akan mudah bagi seseorang untuk menerimanya.
Begitulah pula kelompok teror, mereka memberi makna dan rasa penerimaan bagi siapa pun yang mau mengikuti pemikiran dan aksinya. Anak-anak muda, orang, dewasa, dan bahkan wanita yang tersingkirkan dari kehidupan di sekitarnya, semuanya merupakan bibit yang potensial untuk menjadi kaki-tangan dan martir bagi kelompok teror.
Ilustrasi: By AI (Gemini)
Komentar