Beberapa waktu lalu, seorang siswi Madrasah Tsanawiyah di Sukabumi memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, padahal usianya baru empat belas tahun. Dalam secarik surat yang ditemukan, ia menulis keinginannya untuk pindah sekolah. Bukan karena nilai atau guru, tetapi karena teman-temannya yang setiap hari menjadikan dirinya bahan ejekan, candaan, dan pengucilan. Padahal ia merasa tak pernah memiliki masalah dengan siapapun di sekolah. (Suara.com, 29 Oktober 2025). Kematian itu bukan sekadar kabar duka. Ia adalah jeritan sunyi dari seorang anak yang tidak lagi percaya bahwa dunia ini punya tempat aman untuknya, dunia ini punya tempat yang nyaman untuk bercerita, dunia ini punya penghuni yang bisa menyembuhkan luka. Di usia yang seharusnya diisi tawa dan mimpi, ia justru harus menanggung beban psikologis yang bahkan orang dewasa pun mungkin tak sanggup memikulnya.
Baca juga: Ketika Dunia Maya Jadi Mesin Radikalisme: Dari Kritik Publik ke Narasi Kebencian
Namun, tragedi ini bukan yang pertama. Ia hanya satu dari banyak kisah serupa yang tenggelam dalam arus berita. Kisah yang menggambarkan lalainya kita dalam menjaga kemanusiaan. Dan yang lebih menyakitkan, setiap kali kasus seperti ini muncul, kita hanya berduka sejenak, lalu melupakannya seolah itu bukan cermin bagi kita semua. Tanpa mau berbagi kepala untuk berpikir bersama memperbaikinya, bahkan mirisnya, bahkan tak jarang malah jadi ajang saling sengketa antara orangtua, sekolah dan pemerintah.
Anak-anak yang menjadi korban bullying di sekolah seolah dihadapkan hanya pada dua jalan yang sama-sama gelap, yaitu melawan dengan resiko turut dianggap pembuat masalah, atau diam dan perlahan hancur dari dalam. Tidak jarang, jalan pertama membuat mereka berubah menjadi pelaku baru yang memindahkan luka dengan cara melukai orang lain. Sedangkan jalan kedua berujung pada depresi, kehilangan makna, dan dalam kasus terburuk, kematian. Tragisnya, kita yang menyaksikan, sering kali memilih menjadi penonton yang baik. Kita menonton, mengangguk, dan berkata “betapa sedih,” tanpa benar-benar mengubah apa pun.
Akar Sosial dan Budaya Bullying di Sekolah
Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menunjukkan bahwa 41 % siswa Indonesia mengaku pernah di-bully setidaknya beberapa kali dalam sebulan, jauh di atas rata-rata negara-OECD yang 23 %. Ini adalah gambaran menyakitkan, kaarena hampir satu dari dua siswa di usia 15 tahun pernah merasa terancam atau disakiti oleh teman sebaya di sekolah mereka.
Bullying tidak muncul dalam vakum. Ia tumbuh dalam sebuah kondisi yang kompleks seperti kebiasaan menempatkan hierarki usia, kekuatan fisik, dan dominasi sosial seperti mayoritas-minoritas sebagai norma. Walau sekolah korban di Sukabumi bukan sekolah asrama, namun banyak sekolah non-asrama pun memiliki dinamika “senior-junior” atau “dominan-resesif” yang secara sosial memberi ruang bagi penyalahgunaan kekuatan kecil hingga munculnya genk-genk di sekolah. Anak yang berperawakan lebih kecil, pendiam, berbeda perilaku dari kebanyakan, berbeda hobi atau kegemaran, atau kurang “teguh” dalam bersosialisasi bisa menjadi sasaran.
Sistem pendidikan Indonesia selama ini kadang kalah dalam aspek empati, literasi emosional, dan pembentukan karakter yang memanusiakan. Dan lebih cenderung mengutamakan dan menekankan aspek akademik seperti nilai, ranking, disiplin, dan hafalan. Bukan tentang salah atau benar, namun ketika sekolah lebih sibuk menjaga prestasi dan reputasi, maka ruang untuk dilema sosial seperti bullying menjadi terpinggirkan. Kasus yang terjadi di Makassar memperlihatkan bagaimana dinamika ini bisa terjadi. Seorang siswa SMP difabel di Kota Makassar menjadi korban perundungan yang viral di media sosial. Korban mengalami ejekan, fisik, dan pengucilan. Menurut sepupunya, korban “tak mau masuk sekolah lagi” karena takut dikontak teman-teman yang menyakitinya. Ini bukan sekadar “anak digoda teman”, ini sebuah sinyal bahwa ada hal kompleks yang terjadi di sekolah.
Keluarga dan masyarakat pun punya andil dalam budaya ini. Anak-anak diajarkan bahwa “sabarlah”, “biar kuat”, “anak yang bertahan akan jadi orang teguh”, meskipun kata “bertahan” itu sering berarti “diam”. Budaya diam ini memperkuat mekanisme perundungan dimana korban merasa bahwa mengadu adalah salah, mengadu adalah lemah, dan bahwa mereka yang lemah akan sulit beradaptasi karena dunia memang keras.
Bagaimana Jika Mereka Melawan, Bagaimana Juga Kalau Diam?
Pilihan untuk melawan sering dianggap heroik, tetapi realitasnya jauh lebih kompleks. Ketika korban bullying mencoba membela diri, atau membalas, maka sistem sosial baik di sekolah, keluarga dan masyarakat bisa memosisikan mereka sebagai “pelaku baru” dan bukan sebagai korban yang terluka. Misalnya, korban yang menolak dipermalukan atau dibentak teman dengan melakukan aksi balasan, bisa turut dianggap menjadi “anak bermasalah”. Guru atau orangtua mungkin berkata, “kamu ikut membuat gaduh”, atau “dua-duanya salah”. Padahal satu pihak adalah korban yang akhirnya mengambil tindakan karena tekanan berulang.
Fenomena ini adalah bagian dari siklus kekerasan (cycle of violence) dimana korban hari ini bisa menjadi pelaku esok hari jika mereka tidak mendapatkan ruang pemulihan dan dukungan. Teori psikologi sosial menunjukkan bahwa anak yang merasa tidak punya kontrol dan sering diperlakukan sebagai objek bisa beralih ke kontrol dan agresi ketika posisi sosialnya berubah dan cenderung akan memanfaatkan kondisi perubahan itu. Ketika sekolah atau lingkungan gagap untuk membedakan dengan jelas antara agresi dan pembelaan diri, maka korban yang memilih melawan, dapat dijatuhkan ke posisi baru sebagai “pengganggu sistem”. Akibatnya, anak yang seharusnya mendapat perlindungan malah kehilangan dukungan dan risiko mereka untuk melakukan kekerasan atau mencari jalur destruktif jadi meningkat.
Di sisi lain, banyak korban memilih untuk diam bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tak melihat pilihan lain. Mereka takut menjadi pembuat masalah, takut dicap “tidak sabar”, takut reputasi keluarga mereka tercemar. Dalam budaya sekolah dan keluarga yang menghargai ketenangan lebih baik dari keadilan, diam jadi satu-satunya strategi bertahan. Namun diam tidak berarti aman. Sebaliknya, diam bisa menjadi jebakan psikologis. Temuan penelitian global menunjukkan bahwa siswa yang mengalami bullying memiliki risiko yang jauh lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan bahkan pemikiran bunuh diri. Di Indonesia sendiri, data nasional menyebut bahwa lebih dari 36 % siswa sekolah menengah berpotensi menjadi korban bullying menurut hasil Asesmen Nasional 2022.
Dalam kasus Makassar, korban difabel yang di-bully merasa ia tak punya pilihan selain berhenti sekolah karena traumanya lebih besar daripada beban sekolah itu sendiri. Korban tak hanya kehilangan tempat belajar, tetapi juga tempat aman untuk tumbuh. Diam bisa berarti menyerah pada ketidakadilan dan saat terlalu banyak anak belajar menyerah, maka budaya diam ini bisa mengakar dalam masyarakat lebih luas. Budaya diam di sekolah bukan hanya soal pelajar yang pasif. Ia menanamkan keyakinan bahwa keadilan bisa ditundakan, bahwa yang kuat akan terus menang, dan bahwa perubahan sosial bukan bagian dari hari-hari sekolah. Jika sekolah mengizinkan hal ini, maka anak-anak belajar bahwa suara mereka tidak berarti dan generasi berikutnya akan tumbuh dengan rasa bahwa mereka tidak punya hak untuk didengar.
Radikalisme: Kekerasan yang Naik Kelas
Seringkali kita berfokus pada radikalisme sebagai ideologi agama atau politik. Namun ada aspek yang kurang dibicarakan, bahwa radikalisme juga bisa lahir dari budaya kekerasan struktural yang tidak pernah disembuhkan. Anak-anak yang sejak kecil terbiasa dengan relasi sosial yang menindas atau ditindas, ketika tumbuh, mungkin akan menerapkan pola tersebut di ranah yang lebih luas. Relasi “yang kaya menguasai yang miskin”, “yang kuat menindas yang lemah”, atau “yang mayoritas menginjak yang minoritas” bisa mulai muncul sejak kecil. Dan jika ini tidak diputus, maka pola ini bisa berkembang dari ejekan jadi ujaran kebencian, dari pengucilan jadi pembalasan, dari bullying jadi kekerasan terorganisir. Mulai dari genk sekolah dengan aksi pengeroyokan dan tawuran , preman atau sindikat kekerasan hingga kelompok teror.
Kasus siswa difabel di Makassar misalnya menunjukkan bahwa sistem belum siap menampung mereka yang “berbeda”. Ketika seseorang tumbuh dengan pengalaman bahwa masyarakat tidak melindungi mereka, maka mereka lebih rentan menerima ideologi ekstrem yang menjanjikan balik penerimaan, penghargaan (esteem), kekuasaan atau pembalasan cepat. Bila dilihat secara sosial-kultural, radikalisme bisa dianggap sebagai kelanjutan kekerasan yang dilegitimasi sejak dini. Dengan demikian, setiap kasus bullying bukan sekadar insiden, ia adalah benih radikalisme sosial yang jika dibiarkan, bisa tumbuh menjadi sistem sosial yang memperkuat eksklusi dan kekerasan. Pendidikan yang gagal menahan bullying adalah pendidikan yang memungkinkan radikalisme lahir dari dalam lingkup pendidikan baik di rumah, sekolah maupun di masyarakat.
Ke Mana Harusnya Kita Bergerak?
Perubahan tak harus menunggu revolusi besar. Ia bisa dimulai di dalam ruang kelas, di meja makan, di percakapan sederhana antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, atau di apangan sepakbola. Seorang guru melihat seorang siswa dipanggil dengan julukan kasar dan memilih menegur hal tersebut bukan dengan hukuman, tetapi dengan pertanyaan, “Bagaimana perasaanmu ketika dipanggil begitu?” Maka siswa itu mungkin tidak merasa sendirian. Maka ia mungkin mulai mempercayai bahwa suaranya bisa didengar. Di rumah, ketika anak berbicara tentang hari yang berat di sekolah dan orang tua memilih mendengarkan tanpa buru-buru memberi solusi atau menyalahkan, maka anak itu belajar bahwa ia berhak memiliki perasaan yang valid, bukan harus menahan sendiri. Ketika dialog terbuka terjadi, maka luka yang tak tampak mulai disembuhkan sebelum membesar.
Sekolah sebagai komunitas sosial harus berubah dari menyimpan reputasi ke merawat manusia. Pelatihan literasi emosional harus jadi bagian rutin, bukan tambahan fakultatif. Konselor profesional harus hadir, bukan hanya guru “yang kebetulan” mengurus kasus. Peer support — siswa yang dilatih untuk menjadi teman curhat — bisa menjadi benteng awal terhadap isolasi. Ketika korban tahu bahwa teman-temannya juga berdiri di samping mereka, maka budaya diam bisa ditepis. Model Peer support juga bisa diduplikasi, tak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan masyarakat.
Negara dan pembuat kebijakan juga memegang peran besar. Kebijakan anti-bullying yang kuat sudah memang perlu, tetapi yang lebih penting adalah penerapan yang nyata. Anggaran pendidikan bukan hanya untuk gedung dan sarana, tetapi juga untuk kesehatan mental dan inklusi sosial. Sistem pelaporan bullying harus mudah diakses, anonim bila perlu, dan diikuti dengan tindakan nyata. Karena jika sistem hanya formalitas, maka anak yang paling rentan akan tetap merasa terabaikan.
Dengan menaruh kesejahteraan psikologis dan relasi sosial yang adil — bukan sekadar dominasi atau prestasi akademik — maka kita memotong rantai kekerasan kecil yang bisa tumbuh menjadi kekerasan besar. Kita memotong jalur menuju radikalisme sosial yang bisa lahir dari sekolah atau lingkungan.
Luka yang Kita Wariskan
Korban bullying akan ke mana?
Jika mereka memilih melawan, sistem bisa menjebaknya sebagai pelaku baru.
Jika mereka memilih diam, luka bisa menjadi racun yang mematikannya perlahan.
Dan masyarakat, kita semua, terlalu sering memilih jalan ketiga, menutup mata, berjalan saja, atau berkata “anak mana yang tak pernah diganggu”.
Tragedi di Sukabumi bukan hanya soal satu anak yang menyerah, tetapi tentang kita yang gagal menyediakan ruang mendengar di sekolah, di rumah, di komunitas. Kita terlalu sering menertawakan ejekan kecil, menormalisasi kekerasan ringan, menganggap bullying sebagai bagian dari “masa remaja”.
Padahal dari tawa-tawa kecil itu lah tumbuh racun besar, radikalisme sosial yang lahir bukan hanya dari ideologi murni, tetapi dari pengulangan kekerasan yang dibiarkan. Jika kita tidak mengubah cara kita mendidik satu sama lain hari ini, maka kelak kita akan memanen kekerasan besar yang kita tanam tanpa sadar.[]
Ilustrasi: By AI (Gemini)
Komentar