Di Balik Kepatuhan: Hari Ketika Keselamatan Mulai Kupikirkan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Dari Retakan ke Ketakutan: Hari Ketika Topeng Itu Tak Lagi Bertahan

⚠️TRIGGER WARNING⚠️
[Konten ini mengandung tulisan yang memiliki kemungkinan menjadi trigger untuk seseorang yang pernah atau sedang mengalami hal terkait]

Sore itu kami diminta bersiap untuk pindah sementara ke rumah pemilik rumsing. Instruksinya singkat dan tak membuka ruang tanya. Kami hanya boleh membawa pakaian seperlunya serta beberapa buku atau kitab. Sejak kedatangan polisi beberapa hari sebelumnya, situasi berubah drastis. Rumah singgah yang sebelumnya disebut “aman” mendadak terasa rapuh, seperti bangunan yang setiap saat bisa runtuh.

Beberapa penghuni memilih pergi. Bukan pulang ke rumah masing-masing, melainkan berpindah ke titik lain dalam jaringan yang sama. Ada yang ke rumah “teman seiman”, ada yang ke penampungan lain. Semua dilakukan cepat, senyap, dan terkoordinasi. Saat itu aku mulai sadar, ini bukan komunitas biasa, melainkan jaringan dengan banyak lapis dan rute pelarian.

Perjalanan menuju rumah pemilik rumsing memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Kami berangkat menggunakan mobil sewaan. Sepanjang jalan aku diam, menatap keluar jendela, mencoba meredam perasaan yang tak karuan. Ketika tiba, aku dan seorang temanku sebut saja Salsa, diminta beristirahat di kamar lantai satu. Rumah itu memiliki empat atau lima kamar, sebagian lain berada di lantai dua.

Begitu melangkah masuk, ada rasa asing yang langsung menempel di dada. Rumah itu tidak terasa seperti rumah keluarga, apalagi tempat pembinaan. Banyak ornamen dan patung yang membuatku tidak nyaman. Lebih mengganggu lagi, di tempat pembuangan sampah aku melihat puntung rokok dan botol minuman keras. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa yang merokok? Siapa yang minum? Padahal di rumah itu, laki-laki hanya ada dua, pemilik rumah singgah dan anaknya yang masih berusia sekitar tiga tahun.

Keganjilan itu belum seberapa dibanding apa yang terjadi setelahnya. Istri pemilik rumah, yang biasa kami panggil ummu, dengan nada datar mengatakan bahwa ia berencana mengambil emas milik orang tuanya untuk membiayai kebutuhan kami selama tinggal di sana. Bukan meminjam. Mengambil, diam-diam. Orang tuanya bekerja di instansi pemerintahan dengan jabatan cukup baik, dan rumah mereka tak jauh dari lokasi kami.

Aku terdiam. Dalam pikiranku hanya ada satu pertanyaan, bagaimana mungkin mencuri harta orang tua sendiri dianggap wajar? Jawaban mereka datang cepat, tanpa ragu. “Orang-orang yang bekerja di pemerintahan itu kafir. Hartanya halal untuk kita ambil.”

Di titik itu aku benar-benar muak. Sangat muak. Pencurian dibungkus dalil. Perampasan hak disebut ghanimah. Aku teringat percakapan lain yang pernah tak sengaja kudengar, cincin milikku yang pernah kutitipkan, ternyata telah dijual tanpa sepengetahuanku. Kekecewaanku menumpuk, bukan lagi sekadar curiga, tapi kemarahan yang sunyi.

Aku mencoba meminta ponselku kembali. Respons mereka dingin dan penuh kewaspadaan. Aku tahu, mereka sudah membaca arah pikiranku. Situasi semakin menekan. Ada ancaman tersirat, disampaikan dengan bahasa agama, tentang konsekuensi bagi mereka yang “tidak taat”.

Dalam kondisi semakin terdesak, aku mencari celah sekecil apa pun untuk meminta pertolongan. Aku tidak memiliki ponsel, tidak memiliki KTP, dan setiap gerakku diawasi. Maka dengan hati-hati, sangat hati-hati.., aku mendekati salah satu penduduk sekitar, berpura-pura meminta bantuan sepele. Tanpa sepengetahuan siapa pun di rumah itu, aku meminjam ponselnya. Diam-diam. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang boleh tahu.

Tanganku gemetar saat mengetik nomor yang masih kuingat di luar kepala. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan terputus dari dunia, aku mendengar suara ayahku lagi. Suaraku pecah bahkan sebelum aku sempat menjelaskan apa pun. Aku hanya mampu berkata, “Aku mau pulang.” Tidak ada narasi, tidak ada pembelaan. Hanya kalimat itu, keluar dari dada yang sudah terlalu lama menahan.

Ayah memintaku menghubungi bibiku, yang kebetulan masih satu provinsi. Setelah sambungan ditutup, aku mengembalikan ponsel itu seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya.

Setelah itu aku kembali ke kamar, air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Di kamar, aku mendapati Salsa duduk di pojok ruangan. Tubuhnya gemetar, wajahnya basah oleh tangis. Aku memeluknya, mencoba menenangkan tanpa tahu apa yang baru saja terjadi. Setelah beberapa saat, dengan suara bergetar, ia berkata, “Laki-laki itu memelukku dari belakang. Dia mencoba menciumku.”

Aku tidak bertanya siapa. Aku tahu persis.

Amarahku naik, bukan meledak, tapi dingin dan tajam. Di saat itu aku benar-benar yakin, keputusan untuk keluar dari tempat ini bukan lagi soal pilihan, melainkan soal keselamatan. Aku mengajak Salsa untuk pergi bersamaku. Bertahan berarti membuka peluang luka yang lebih dalam. Untunglah, ia tidak mengalami hal yang lebih buruk, namun apa yang terjadi sudah cukup untuk meninggalkan trauma. Sentuhan tanpa izin, terlebih dalam ruang yang seharusnya aman, adalah kekerasan, sekecil apa pun ia coba dikecilkan.

Salsa memutuskan akan pulang ke rumah neneknya. Ia berasal dari keluarga yang tidak utuh; orang tuanya bercerai. Aku menguatkannya, karena aku tahu, tinggal di tempat ini hanya akan menghancurkan sisa-sisa dirinya.

Hari itu aku benar-benar mengerti, yang mereka sebut hijrah ternyata hanyalah pemutusan paksa dari dunia luar, digantikan dengan kepatuhan mutlak. Perempuan dianggap aman selama patuh, dan sah untuk dikorbankan ketika mulai bertanya. Agama tidak lagi menjadi jalan menuju Tuhan, melainkan alat untuk membungkam, menguasai, dan membenarkan kebusukan.

Dan sejak sore itu, aku tidak lagi ragu. Yang kuhadapi bukanlah perjuangan suci, melainkan jaringan manipulasi yang hidup dari ketakutan, doktrin, dan tubuh perempuan yang dianggap tidak berhak menentukan nasibnya sendiri.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar