Oleh: Nasya
Ini adalah tulisan pertamaku di Ruangobrol.id. Butuh waktu lama untuk meyakinkan tangan ini agar mau menuliskan sebagian kisah masa laluku yang sempat ingin kukubur dalam-dalam. Namun, ketika melihat jerat propaganda –yang dulu pernah menyeretku, masih terus bertebaran di media sosial, aku bertekad untuk mencegah agar kisah kelamku tidak terulang pada diri orang lain.
Dengan menuliskan sebagian cerita masa laluku, aku berharap itu bisa membantu banyak pihak dalam memahami persoalan radikalisme-ekstremisme dengan lebih bijak. Terimakasih kepada Redaksi Ruangobrol.id atas kesempatan yang diberikan dan atas dukungannya yang membuatku semakin bersemangat.
***
Tahun 2017, dunia seakan berputar lebih cepat dari biasanya. Berita internasional berseliweran di layar ponselku: perang dagang yang memanas, dominasi militer Amerika yang seolah tak terbantahkan, konflik Timur Tengah yang tak kunjung reda, hingga laporan tentang ekstremisme yang terus menghantui. Semua informasi itu berjejalan dalam timeline Instagram-ku, hadir seperti potongan puzzle yang tak pernah lengkap. Aku, seorang gadis remaja berusia 16 tahun, merasa seperti penonton setia dalam panggung besar dunia, namun hanya mampu memahami fragmen-fragmen kisah dari balik layar ponsel.
Hari-hariku sendiri sebenarnya sederhana. Aku bangun pagi, berangkat sekolah, belajar, pulang, lalu mengerjakan tugas. Kadang aku bercengkerama dengan teman di warung dekat sekolah atau sekadar nongkrong sambil membicarakan hal-hal ringan. Namun, di sela rutinitas itu, ada rasa penasaran yang tak pernah bisa padam: mengapa dunia terasa begitu timpang? Kenapa Amerika bisa begitu berkuasa, sementara umat Islam yang jumlahnya besar justru tampak lemah dalam percaturan global? Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul bagai gema di kepalaku, berputar tanpa jawaban yang jelas.
Penasaran itu bukan sekadar keinginan tahu, melainkan semacam keresahan. Aku ingin mengerti mengapa ketidakadilan begitu nyata, mengapa bangsa-bangsa Muslim sering kali terpinggirkan, dan mengapa agama yang kuanut terasa tidak memiliki kekuatan sebesar yang selalu dibanggakan. Namun, di sekitarku tak ada yang bisa menjadi tempat bertanya. Guru sekolah lebih sibuk dengan pelajaran formal, keluarga pun tidak banyak berbicara tentang isu-isu global, dan teman-teman sebayaku lebih tertarik pada musik, film, atau permainan daring.
Sampai suatu hari, sebuah komentar di Instagram mengubah arah hidupku. Saat santai scrolling di hari libur, aku menemukan seseorang menulis tegas di kolom komentar sebuah unggahan politik: “Sistem demokrasi itu haram. Hanya hukum Allah yang sah. Demokrasi adalah Thoghut.”
Aku terdiam. Kata “Thoghut” begitu asing di telingaku, namun terasa berat dan menantang. Aku penasaran, apa maksud dari kata itu? Kenapa demokrasi yang selama ini diajarkan di sekolah sebagai sistem terbaik untuk rakyat justru disebut haram? Dengan dorongan rasa ingin tahu, aku mencoba menanggapi. Aku menulis komentar balasan, mempertanyakan apakah mungkin hukum buatan manusia bisa membawa keadilan. Aku menyebut contoh negara-negara Muslim yang tetap aman dan sejahtera meski memakai sistem demokrasi. Namun, jawaban yang kuterima justru menegaskan kembali: “Itu semua tipu daya. Hanya hukum Allah yang sempurna. Demokrasi adalah sistem kufur.”
Aku terbiasa menang dalam perdebatan kecil di kelas atau diskusi ringan dengan teman. Tapi kali ini berbeda. Setiap argumenku terasa runtuh, ditumbangkan oleh kutipan ayat dan bahasa yang penuh keyakinan. Untuk pertama kalinya, aku merasa kalah bukan karena kurang pintar, melainkan karena ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar logika. Narasi yang kubaca seakan membawa kebenaran mutlak, kebenaran yang tak memberi ruang pada keraguan.
Dari titik itulah rasa ingin tahuku justru semakin membesar. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu hanya bergema samar kini mendapat “jawaban” yang membingungkanku. Saat itu, aku teringat cerita lama dari seorang teman bernama Ridwan. Ia pernah menyebut nama Farhan, seseorang yang katanya sempat terpengaruh paham ekstrem. Awalnya aku menganggap cerita itu jauh dari hidupku. Namun saat itu, kenangan itu muncul lagi, seperti petunjuk yang tiba-tiba relevan.
Aku akhirnya menghubungi Ridwan dan meminta kontak Farhan. Dari sinilah pintu baru benar-benar terbuka. Farhan menanggapiku dengan sabar. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku panjang lebar, bahkan mengirimkan beberapa e-book tentang Tauhid, Thoghut, dan hukum Islam. Aku membacanya dengan penuh semangat, seolah menemukan harta karun yang tersembunyi. Ada istilah-istilah baru, narasi-narasi yang membentuk pemahaman baru. Sebagai seorang remaja dengan latar belakang agama biasa saja, aku merasa seperti mendapat guru virtual yang menjawab kebingungan yang selama ini kupendam.
Namun di balik semangat itu, ada sesuatu yang tidak kusadari. Aku sebenarnya sedang berusaha mengisi kekosongan dalam diriku sendiri. Kekosongan spiritual, pencarian identitas, dan kerinduan akan makna hidup. Aku ingin menemukan pegangan, sesuatu yang bisa menjelaskan kenapa dunia begini kacau, dan bagaimana seharusnya aku bersikap sebagai seorang Muslim.
Sayangnya, aku tidak sadar bahwa jawaban yang kutemukan bukan sekadar ilmu, melainkan juga jebakan. Narasi itu terasa meyakinkan karena membungkus segala persoalan dengan solusi instan: “Hanya hukum Allah yang benar.” Tidak ada ruang untuk keraguan, tidak ada celah untuk diskusi. Dan aku, remaja yang sedang mencari arah, justru merasa sedang menapaki jalan baru yang penuh harapan.
Aku tak tahu bahwa langkah kecil itu—sekadar membaca komentar Instagram dan melanjutkan percakapan dengan Farhan—adalah awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah caraku memandang dunia. Sebuah langkah yang tampak sederhana, namun diam-diam membuka pintu menuju dunia yang sama sekali berbeda.
*Ridwan dan Farhan adalah nama rekaan --bukan nama yang sebenarnya
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar