Dari banyaknya kisah kehidupan orang-orang yang saya temui dalam menjalani masa-masa ‘mondok’, ada beberapa kisah dari orang-orang itu yang lumayan berkesan dan bisa saya jadikan bahan perenungan akan indah dan nikmatnya kehidupan serta kebebasan. Kisah yang tidak bisa diceritakan oleh penuturnya secara langsung dan dalam waktu yang lama karena keterbatasan kondisi, harus diceritakan sepotong demi sepotong bak menyusun puzzle yang mengharuskan kami mencari-cari kesempatan untuk saling bertukar cerita dan pengalaman hidup masing-masing. Di dalam rumah tahanan (rutan) SMS (Super Maximum Security) ini jangankan untuk bercerita, untuk bernafas pun pengap dan untuk berkomunikasi harus saling berteriak satu sama lain.
Pertemuan Dengan Pak Arman
Ada hari-hari di penjara yang rasanya berjalan pelan sekali, seperti waktu sedang sengaja menunda semua hal agar kita sempat menatap hidup lebih lama. Di hari-hari semacam itu, saya pertama kali mengenal –sebut saja Pak Arman (bukan nama sebenarnya). Bukan dari suaranya, bukan dari perkenalan resmi, tapi dari cerita-cerita yang beredar pelan antarblok, seperti angin yang membawa rahasia. Katanya, beliau sudah enam kali keluar masuk "pondok" (baca: penjara). Awalnya saya mengira itu hanya bualan untuk mengisi kebosanan. Tapi semakin saya mendengarnya, semakin saya menyadari: ini bukan cerita tentang keberanian atau kegilaan—ini cerita tentang manusia yang terus mencari jalan pulang, tapi selalu tersesat di tengah perjalanan.
Sebelumnya beliau pernah ‘mondok’ sebanyak 6 kali dengan kasus yang berbeda-beda, dan saya lupa apakah yang bersama saya ini adalah yang ke-6 atau yang ke-7 jika tidak dihitung dengan yang sebelum-sebelumnya. Saya, dan beberapa orang petugas pun kaget dengan pengalaman beliau ini, yang mungkin jika di dalam dunia hitam beliau sudah berhak menyandang gelar perwira tinggi, hehehe.
Cerita yang awalnya hanya sepotong-sepotong ini semakin memancing rasa penasaran saya, yang membuat benak bertanya-tanya “kok bisa?”. Apa kira-kira yang membuat seseorang tidak kapok dan bisa sampai berkali-kali masuk "pondok pesantren" berjeruji besi?
Sejak saat itu pulalah saya sebisa mungkin mencoba mengontak beliau menggunakan kode atau bahasa jari untuk bisa berkomunikasi dari kejauhan, dan kadang-kadang jika sudah giliran untuk berjemur maka saya akan memilih untuk ditempatkan berjemur di depan kamarnya.
Bak menyusun puzzle, bagian demi bagian pun terangkai, dengan latar belakang dan alasannya yang berbeda-beda pula. Mendengar cerita-cerita beliau, saya tertegun dan mencoba merasionalisasikannya walaupun kadang memang tak rasional. Ternyata keadaan memiliki sumbangsih yang cukup kuat untuk menjadikan seseorang bertindak menyalahi hukum. Dan tentu, faktor ekonomi pasti punya peran besar di dalamnya. Residivisme tidak berdiri sendiri, akan ada faktor-faktor pendorong yang membuat seorang mantan narapidana kembali masuk ke penjara untuk yang kesekian kalinya.
Tentang Salah, Konsekuensi, dan Kesabaran
Sampai sini, saya tidak mau berusaha membenarkan semua perbuatannya di masa lalu. Yang salah tetap salah, dan sekarang adalah saatnya untuk menebus dan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Di titik ini juga saya berupaya mencerna bagaimana seseorang bisa bertahan dan mampu untuk menghadapi cobaan semacam itu, dipisahkan dari orang-orang terkasih dalam jangka waktu yang tidak sebentar, tentu tak semua orang mampu dan mau menghadapinya. Pasti hanya orang-orang yang tahu betul konsekuensi dari perbuatannyalah yang mampu menghadapi realita pahit seperti itu. Orang yang ‘mondok’ hanya dalam hitungan jari saja mungkin sudah banyak kehilangan banyak hal dan terganggu psikisnya, lalu bagaimana dengan beliau ini? Apa saja kira-kira yang sudah hilang dari beliau? Entahlah, tapi yang pasti hal-hal itu berada di luar kesanggupan saya untuk memikulnya, karena Allah tahu betul akan kapasitas hamba-Nya ketika Dia berikan cobaan dan ujian, dan beliau pasti mampu memikul semua itu.
Saat Pencarian Ketenteraman Menuntun ke Jalan Berbahaya
Dan yang menarik dari kisah Pak Arman ini adalah, pencariannya terhadap pertobatan dan ketenangan selama ‘mondok’ malah membawanya ke pondok model baru yang lebih ketat dan menyiksa pikiran. Selama di dalam pondokan sebelumnya, Pak Arman berusaha menimba ilmu agama dari orang-orang yang dianggapnya sebagai sosok yang bisa dijadikan panutan dalam ilmu agama, sesama ‘santri’ juga akan tetapi dari kasus yang berbeda. Kasus yang lebih bengis dan di luar nalar manusia normal. Dari pertemuan dan proses ‘ngaji’ inilah semuanya berawal, doktrin-doktrin kelompok ekstrem-teror perlahan masuk mewarnai pemikiran Pak Arman, yang nantinya menumbuhkan kesadaran baru dalam dirinya tentang makna dan arah kehidupan. Dan ketika beliau sudah bebas, dengan membawa hasil pemikiran yang didapatkan dari gurunya di dalam penjara, beliau pun bertekad untuk mencapai suatu derajat yang mulia, Syahid, dengan cara yang instan. Dan upaya untuk merealisasikan ini pun lebih dahulu diketahui oleh pihak berwajib yang segera mengamankan beliau sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk. Akhirnya, Pak Arman pun kembali harus merasakan getirnya pondokan besi dan di sinilah awal pertemuan kami.
Perhentian Terakhir dan Takdir
Semua perjalanan panjang dari pondok ke pondok, yang sudah beliau jalani selama bertahun-tahun lamanya, kini akan berhenti (dan mudah-mudahan begitu) di kasus yang paling berat dan di pondokan dengan level Super Maximum Security ini. Setidaknya begitu pengakuan beliau kepada seorang petugas ketika kami sedang dibawa ke rumah sakit karena suatu keluhan.
Kadang lucu melihat bagaimana takdir bekerja, dari orang yang sebelumnya tidak saling mengenal kini dipertemukan karena kesamaan pemikiran dan tujuan. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kita dipertemukan dengan seseorang itu bukan tanpa tujuan, pasti ada alasan-alasan dan makna tertentu. Ada pertemuan yang membawa pelajaran dan bahkan membawa hal-hal yang belum bisa kita lihat apa maksudnya dalam waktu dekat. Semua pertemuan memiliki arti dan tujuannya masing-masing, maka tugas kita adalah untuk memberi penafsiran dan pemaknaan dari tiap-tiap pertemuan yang perah kita lewati, dengan siapa pun itu.
Kini ketika saya mengingat Pak Arman, saya tidak lagi melihatnya sebagai pelaku, residivis, atau seseorang yang berulang kali kalah dari hidup. Saya melihat seorang manusia — yang pernah berjuang dengan caranya sendiri, dengan keyakinan yang ia pikir benar, dan dengan luka yang mungkin tidak pernah tersampaikan.
Dan bagi saya, pertemuan dengannya bukan untuk menghakimi, tetapi untuk belajar: bahwa kebebasan bukan hanya tentang bisa melangkah ke luar gerbang penjara — tapi tentang bisa memilih arah yang benar ketika kesempatan itu akhirnya datang.
Ilustrasi: By AI (Canva)
Nathan 15 Des 2025, 16:11 WIB
test