Saat Keraguan Berubah Menjadi Ketakutan

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Sejauh Apa Jalan Ini Akan Membawaku?

Sejak membaca isi e-book itu, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang. Semakin kupikirkan, semakin sulit bagiku untuk menganggap dokumen tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Selama ini aku memang menerima banyak pemahaman yang sama dengan Farhan. Aku menerima ketika ia berbicara tentang pentingnya menegakkan syariat, tentang kritik terhadap sistem yang dianggap tidak sesuai dengan Islam, bahkan tentang berbagai pandangan yang dulu terasa sangat asing bagiku.

Namun ada satu hal yang sejak awal selalu kutolak. Aku tidak pernah bisa menerima gagasan tentang bom bunuh diri. Karena itulah, setelah menemukan dokumen tersebut, aku langsung menanyakannya kepada Farhan. Aku ingin tahu kenapa file seperti itu ada di laptopnya dan untuk apa ia menyimpannya.

Percakapan itu dengan cepat berubah menjadi perdebatan panjang. Farhan berusaha meyakinkanku bahwa aku melihat persoalannya secara terlalu sederhana. Ia mengatakan bahwa perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Ia berbicara tentang sejarah peperangan, tentang orang-orang yang rela mengorbankan dirinya demi agama, dan tentang bagaimana Islam tidak akan pernah tegak jika setiap orang hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Berkali-kali ia mengulang narasi yang sama, bahwa perubahan besar tidak pernah lahir tanpa pengorbanan. Namun kali ini, setelah sekian lama, aku benar-benar tidak bisa menerima penjelasannya. Aku mengatakan bahwa apa pun alasannya, aku tidak bisa membenarkan tindakan yang menghilangkan nyawa orang lain dengan cara seperti itu. Aku tidak bisa menerima bahwa sebuah perjuangan harus dilakukan dengan jalan tersebut.

Perdebatan kami berlangsung berhari-hari dan tidak pernah benar-benar menemukan titik temu. Semakin kami membahasnya, semakin aku menyadari bahwa ada jarak yang selama ini tidak pernah kulihat di antara cara pandangku dan cara pandang Farhan.

Di saat yang sama, persoalan lain yang sebenarnya belum pernah selesai juga terus muncul ke permukaan. Hubungannya dengan perempuan yang pernah menjadi sumber konflik di antara kami masih sering menjadi bahan pertengkaran. Kepercayaanku kepadanya sudah tidak lagi seperti dulu.

Setiap kali kami berdebat tentang dokumen itu, pembicaraan sering berbelok pada kebohongan-kebohongan yang pernah ia lakukan. Lalu dari sana kami kembali bertengkar tentang perempuan tersebut. Kadang aku merasa kami tidak benar-benar sedang menyelesaikan masalah apa pun. Kami hanya berpindah dari satu pertengkaran ke pertengkaran yang lain, sementara rasa curiga dan kecewa terus bertambah dari hari ke hari.

Pernikahan kami saat itu bahkan belum genap sebulan bulan ketika sebuah kabar datang dan membuat suasana menjadi jauh lebih tegang. Salah satu teman Farhan di Lampung ditangkap oleh Densus 88 AT. Aku masih ingat bagaimana perubahan suasana yang terjadi setelah kabar itu sampai kepada kami.

Sejak awal aku mengenal Farhan, nama orang tersebut bukanlah nama yang asing bagiku. Aku pernah beberapa kali mendengar Farhan bercerita tentangnya. Bahkan ketika pesta pernikahan kami berlangsung, ia termasuk salah satu orang yang hadir.

Suatu waktu, Farhan juga pernah mengajakku berkunjung ke rumahnya. Di sana aku bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Saat itu, suasananya terlihat seperti kunjungan biasa. Tidak ada pembicaraan yang menurutku aneh atau mencurigakan. Obrolan yang kudengar sebagian besar berkisar tentang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Ketika kabar penangkapannya sampai kepada kami, aku merasa sangat terkejut. Rasanya sulit menghubungkan sosok yang pernah kutemui secara langsung dengan berita yang saat itu beredar. Karena itu, ketika mendengar kabar penangkapan tersebut, rasanya berbeda dibanding mendengar berita serupa di televisi atau media sosial. Untuk pertama kalinya, peristiwa yang selama ini terasa jauh tiba-tiba berada sangat dekat dengan kehidupan kami.

Farhan terlihat panik. Ia berusaha mencari informasi ke sana kemari, menghubungi beberapa orang yang ia kenal, dan mencoba memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa melihat kegelisahan yang selama ini jarang kutemui darinya. Semakin aku melihat reaksinya, semakin besar pula ketakutan yang muncul di dalam diriku.

Saat itulah aku mulai bertanya secara langsung kepadanya apakah ia benar-benar tidak terlibat dalam hal apa pun yang berkaitan dengan kasus tersebut. Aku menanyakan hal itu berkali-kali. "Kamu tidak terlibat, kan?" Itu mungkin pertanyaan yang paling sering keluar dari mulutku saat itu. Aku ingin mendengar jawaban yang bisa membuatku tenang. Aku ingin mendengar bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan kami.

Namun di balik pertanyaan itu sebenarnya ada ketakutan lain yang jauh lebih besar. Selama ini aku memang mengikuti banyak pemahaman yang sama dengannya, tetapi aku tidak pernah membayangkan harus berhadapan langsung dengan situasi seperti ini. Saat itulah aku benar-benar menyadari bahwa semua yang selama ini hanya menjadi bahan diskusi, video, e-book, dan percakapan panjang di dunia maya ternyata memiliki konsekuensi yang nyata.

Aku mulai membayangkan berbagai kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah ingin kupikirkan. Aku membayangkan bagaimana jika suatu hari Farhan lah yang akan ditangkap. Dan semakin aku memikirkan semua itu, semakin sulit bagiku untuk merasa tenang.

Sementara itu, Farhan terus mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir dan bahwa dirinya tidak terlibat apa pun. Namun entah kenapa, setelah sekian lama mengenalnya, aku tidak bisa lagi begitu saja menenangkan diri hanya dengan mendengar penjelasannya. Terlalu banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku selama beberapa bulan terakhir. Terlalu banyak hal yang dulu kupercaya ternyata berubah menjadi sesuatu yang berbeda ketika aku melihatnya lebih dekat.

Dan tanpa kusadari, ketakutan yang muncul setelah kabar penangkapan itu perlahan mulai bercampur dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang selama ini berusaha kutekan sendirian.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar