Baca kisah sebelumnya: Di Hadapan Korban yang Telah Pergi, Aku Belajar Menjadi Manusia
Dulu, teman-teman SMA-ku bukan sekadar rekan sekelas. Bagiku mereka adalah keluargaku juga. Banyak hal yang telah kami lewati bersama. Kenakalan-kenakalan anak SMA, menghadapi hukuman skorsing, dan berbagai kelakukan khas anak remaja. Keseruan itu pun berlanjut setelah kami semua lulus, kami masih sering bertemu untuk sekadar nongkrong sampai larut, bercanda tanpa beban, ngopi di tempat yang dijanjikan, kadang kami juga main futsal sambil saling mengejek seperti anak kecil. Kami merasa akan selalu menjadi bagian dari hidup masing-masing, apa pun yang terjadi.
Tapi ternyata hidup punya jalan cerita yang jauh lebih rumit daripada itu.
Ketika aku ditangkap dan kasusku ramai diberitakan, semua berubah dengan cepat. Seolah muncul pagar imajiner yang memisahkan kami. Tidak ada yang terang-terangan memusuhi, tapi juga tidak ada yang benar-benar mendekat. Mereka diam, menjauh, menghilang satu per satu.
Sementara teman-teman SMPku yang justru sangat suportif, bahkan sejak aku masih menjalani hukuman, teman-teman SMAku seperti kebingungan harus menempatkanku di mana.
Mungkin mereka takut, mungkin mereka ragu, mungkin mereka benar-benar tidak siap. Dan jujur, wajar juga. Aku dulu memang melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh mereka.
Masuk Grup, Lalu Hilang Lagi
Suatu hari, setelah lima tahun merasakan udara bebas, salah satu teman SMA mengabariku bahwa akan ada reuni angkatan. Ia meminta izin untuk memasukkanku ke dalam grup WhatsApp. Dengan rasa canggung yang bercampur gembira, aku mengiyakannya.
Aku masuk ke grup itu tanpa bersuara. Aku hanya mengamati.
Beberapa nama yang dulu begitu akrab, ada di grup yang sama. Namun kini rasanya beda dan terasa jauh. Chat mereka memang riuh, nostalgia bertebaran, tawa-tawa berupa emoji dan stiker. Tapi dari balik layar, aku tersenyum kecil, antara separuh rindu, dan separuh kikuk. Seperti seseorang yang kembali ke rumah lama dan berdiri di depan pintu tanpa tahu apakah ia masih punya kunci.
Sampai akhirnya seorang teman yang jadi admin grup, yang juga sudah menjadi seorang perwira militer, menyadari kehadiranku.
Tak ada tegur sapa.
Tak ada “halo”.
Tak ada “apa kabar, Nir?”.
Hanya… diam.
Lalu klik.
Namaku dibuang dari daftar anggota grup whatsapp. Dan aku dikeluarkan begitu saja.
Aku menatap layar ponsel cukup lama. Sejujurnya, itu bukan pertama kalinya aku mengalami penolakan, tapi tetap saja, ada perasaan yang menusuk. Ada rasa sedih, tentu. Tapi bagaimanapun, mereka adalah bagian dari masa mudaku, bagian dari siapa aku dulu sebelum segala kesalahan dan kekelaman itu terjadi.
Rasanya seperti diperingatkan,
“Kita mungkin pernah akrab, tapi tidak lagi sekarang.”
Pelajaran untuk Menerima yang Tidak Mudah Diterima
Aku tahu banyak orang mendukung perubahanku, beberapa petinggi militer, aparat penegak hukum, aktivis NGO, akademisi, Dosen dan teman-teman kuliahku, maupun pemerintah pusat maupun daerah. Mereka memberiku kepercayaan, ruang, bahkan kesempatan kedua untuk membangun hidupku kembali. Ironisnya, di tengah semua itu, justru teman-teman lamaku sendiri ada yang tidak siap dengan kehadiranku.
Ada luka, tapi tidak ada marah.
Ada sedih, tapi tidak ada kecewa berkepanjangan.
Karena aku harus jujur, aku pernah melakukan sesuatu yang sangat buruk.
Sesuatu yang bahkan sampai hari ini masih menyisakan rasa bersalah dalam diriku.
Maka ketika ada orang yang tidak bisa menerima kehadiranku, bahkan jika dia seorang perwira militer, aku tidak bisa memaksanya. Aku masih yakin, penolakan mereka bukan tentang benci. Mungkin itu tentang ketakutan, tentang trauma kolektif bangsa ini, atau tentang ketidakmampuan merekonsiliasi masa lalu dengan kenyataan hari ini.
Dan aku harus bisa memahaminya.
Fokus pada Mereka yang Mau Berjalan Bersama
Aku akhirnya belajar, tidak semua orang akan memelukmu kembali setelah kau jatuh. Tidak semua orang bisa percaya lagi setelah kau membuat kesalahan sebesar itu. Dan tidak semua persahabatan mampu bertahan menghadapi kenyataan hidup yang keras.
Tapi ini juga pelajaran penting,
Jangan paksa orang lain memaafkanmu, jangan paksa mereka menerimamu, dan jangan berhenti berubah hanya karena sebagian orang tidak siap melihat perubahanmu.
Aku memilih untuk tidak larut. Aku memilih untuk tidak tenggelam dalam rasa ditolak. Aku memilih fokus pada kegiatan yang positif, pada kerja-kerja kemanusiaan, pada edukasi perdamaian, pada keluarga kecilku, dan pada orang-orang yang memang mau menerimaku apa adanya, baik masa laluku maupun masa depanku.
Karena pada akhirnya, proses menjadi manusia yang lebih baik bukan ditentukan oleh siapa yang menolakmu, tetapi oleh siapa yang tetap tinggal, dan oleh keinginanmu sendiri untuk terus berbenah.
Dan ini bagian yang paling jujur, Aku tidak ingin kembali ke masa lalu itu. Aku hanya ingin melangkah maju, meski pelan dan tertatih, meski sendiri, meski ditutup beberapa pintu, asalkan tetap ke arah yang benar.[]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar