Di Hadapan Korban yang Telah Pergi, Aku Belajar Menjadi Manusia

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Redaksi

Dalam heningnya waktu yang tak pernah berhenti melaju, aku menulis ini untuk mengenang seorang jiwa yang kuat, Ibu Vivi Normasari. Di balik kelam tragedi bom JW Marriott tahun 2003, beliau adalah cahaya yang bertahan, sosok penyintas yang mengajarkan arti ketabahan dan kemanusiaan. Kini, dari lorong-lorong kenangan dan luka, aku persembahkan tulisan ini sebagai peluk hangat untuk Ibu Vivi yang telah meninggalkan dunia pada Jum’at 14 November 2025, namun sosoknya tidak pernah pergi dari sanubari.

Saat itu, hari-hari di Lapas Purwakarta terasa lambat dan menekan bagiku. Aku bukan hanya sendirian karena jadi satu-satunya narapidana kasus terorisme di lapas ini. Jeruji besi juga bukan hanya mengekang tubuh, tapi juga menjerat jiwaku dalam rasa bersalah yang mendalam. Di tengah itulah aku bertemu seorang Viktor, yang juga menghuni lapas yang sama. Sosoknya besar dan gempal, tapi ketenangan dan kebaikannya membuatku nyaman.

Kami sering duduk bersama di halaman lapas yang sempit atau di selasar mushola , berbincang ngalor-ngidul, bertukar cerita tentang keluarga, dan kadang bercanda untuk meringankan suasana. Aku bercerita tentang anak-anakku, istriku, dan dilema yang kurasakan di dalam penjara. Viktor mendengarkan dengan sabar, tanpa menghakimi, bahkan tak jarang dia juga menasihatiku. Satu waktu aku pernah meminta masukan darinya tentang masalah yang kuhadapi. Viktor hanya tersenyum ke arahku dan duduk di sisiku.
“Coba lu cari amal sholeh yang nggak sulit, nggak besar, tapi jarang dilakukan orang lain. Lakukan itu dengan rutin. Insya Allah, Allah bakal mudahkan urusan lu.”

Pesan itu sangat membekas di dadaku, bahkan hingga kini. Viktor bukan seperti orang lain yang hanya pintar menggurui, tak jarang aku lihat dia dengan sukarela membersihkan mushola, membersihkan tempat wudhu dan membantu tamping yang lain. Di dunia nyata, apa yang dilakukan Viktor mungkin biasa, tapi di penjara, rasanya pasti berbeda. Kebersamaan aku dengan Viktor makin terasa bukan sekadar persahabatan biasa. Setiap perbincangan dan candaan kami menjadi pelajaran tentang kesabaran, empati, dan ketulusan. Dari Viktor, aku belajar perlahan tentang kemanusiaan dan makna pengampunan. Hingga pada akhirnya kami pun terpaksa harus berpisah, karena aku dipindah dari Lapas Purwakarta. Namun aku berjanji, setelah bebas nanti aku akan menemuinya.

Perang Batin dengan Masa Lalu

Di lapas, bayangan masa lalu memang selalu menghantuiku. Kilasan peristiwa saat anak-anak yang lahir saat di rutan Mako Brimob, perempuan-perempuan yang turut menjadi pesakitan karena ulahku, dan keluarga yang kehilangan kedamaian akibat jalan kekerasan yang jadi pilihanku. Setiap helaan napasku menjadi pengingat, bahwa aku harus bertanggung jawab, tidak hanya pada diriku sendiri, tapi juga pada banyak jiwa yang terjerat akibat keputusanku.

Perang batin semakin terasa ketika aku merenungkan masa depan anak-anakku dan kerusakan yang aku timbulkan. Perlahan, aku menyadari bahwa kekerasan dan ideologi semu hanyalah kesalahan besar. Mengorbankan orang lain untuk ambisi pribadi bukanlah perjuangan, melainkan kehancuran. Kesadaran ini muncul melalui setiap diskusi, candaan, dan nasihat Viktor yang tulus.

Pertemuan Kembali dengan Viktor yang Takkan Terkupakan

Setelah bebas, aku mencari tahu keberadaan Viktor. Dan alhamdulillah, dari seorang petugas lapas Purwakarta yang masih mengenaliku, aku mendapat nomor kontak Viktor. Aku pun menghubunginya dan berjanji akan silaturahmi ke tempatnya. Ternyata, kini Viktor tinggal di Bandung. Ia merasa harus hijrah dari Purwakarta untuk membenahi hidupnya. Kini dia membuka usaha percetakan dan produk sovenir di sana.

Tak lama setelah menghubungi Viktor, aku pun berangkat ke Bandung. Aku sudah sangat rindu ingin bertemu dengannya, orang yang bagiku juga seperti diutus Tuhan untuk menemaniku. Sesampainya di Bandung, aku mengunjunginya di tempat usahanya. Kami berbincang di sela kesibukannya melayani pelanggan. Tak terasa waktu pun beranjak malam dan Viktor menawarkan aku untuk menginap di rumahnya.

Malam itu di rumahnya, obrolan kami pun berlanjut hingga larut, mengenang masa di lapas, tertawa, dan berbagi pengalaman hidup. Tapi malam itu, di ujung obrolan, Viktor menuturkan sesuatu yang membuat jantungku terasa berhenti,

Nir, lu tau nggak, Kakak gue itu korban teroris. Dia korban aksi teror di Hotel J.W. Marriott. Malam ini dia juga ada di sini, tapi mungkin dia udah tidur di kamar. Besok pagi kita ketemu, ya.”

Tubuhku seketika gemetar. Seluruh rasa malu, bersalah, dan penyesalan menumpuk menjadi satu beban yang terus menekan dan menghimpit tulang. Aku membayangkan pertemuan dengan korban langsung, seorang manusia yang pernah kusediakan luka. Malam itu, aku hampir tidak bisa tidur, memikirkan betapa besar dosa yang harus aku hadapi.

Pagi yang Menyayat Hati

Keesokan paginya, aku bertemu kakak Viktor yang diceritakan semalam, Ibu Vivi namanya. Ia adalah korban bom di Hotel J.W. Marriott. Tubuhku kaku, kaki pun terasa berat saat melangkah mendekatinya. Viktor menceritakan banyak hal tentang kondisi Ibu Vivi, dari trauma mendalam, kehilangan ketenangan, panjangnya proses pemulihan, dan efek lain setelah tragedi itu.

Aku berdiri di hadapannya, seorang mantan pelaku teror, yang kini harus merasakan seluruh rasa malu, bersalah, dan penyesalan menumpuk dalam dada. Kata-kata terasa tak cukup. Aku menunduk, menatap matanya dengan hati-hati, berusaha menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf yang sangat dalam. Selama beberapa jam pertemuan itu, kami berbicara hati ke hati. Aku mendengarkan, meresapi setiap cerita, dan mencoba menebus dengan ketulusan. 

Setelah itu, aku pun kembali ke Bogor dengan sejuta penyesalan, sedih dan kemarahan pada masa silam. Ingatan kebersamaanku dengan Viktor di lapas, anak-anak, istri dan keluarga yang kutinggalkan, serta banyangan seluruh korban tindakanku berputar bersama di kepala. Aku sadar, permintaan maaf tanpa introspeksi dan perbuatan nyata tidak cukup.

Pertemuan itu mengajarkanku bahwa menjadi manusia berarti mengakui kesalahan, merasakan penderitaan orang lain, dan membiarkan pengalaman itu membentuk jalan hidup yang baru. Aku belajar bahwa kemanusiaan bukan hanya menghindari kekerasan, tapi juga berani menatap korban dengan empati, kerendahan hati, dan kesediaan untuk menebus dosa diri.

Tulisan ini sekaligus menjadi permohonan maafku. Bukan hanya kepada Mas Bambang, korban bom Mapolresta Surakarta, atau Ibu Vivi, kakaknya Viktor, tetapi kepada seluruh korban dan seluruh keluarga aksi terorisme. Kepada mereka, aku ingin menyampaikan bahwa setiap tindakan yang pernah kulakukan adalah salah. Aku menyesal telah membawa luka, trauma, dan kesedihan yang tak terbayangkan bagi mereka.

Aku menulis ini agar setiap orang, terutama generasi muda, bisa belajar dari kesalahan yang pernah kulakukan. Bahwa jalan kekerasan dan fanatisme buta hanyalah kehancuran, sementara jalan kemanusiaan, pengampunan, dan kebaikan adalah cara sejati untuk menebus diri dan membangun dunia yang lebih baik.[]

Foto utama: Foto kenangan penulis bersama mendiang Vivi Normasari [Dok. Munir Kartono]

Komentar

Tulis Komentar