Baca tulisan sebelumnya: Ayah yang Hilang, Ayah yang Kembali
Aku pernah berpikir bahwa perempuan diciptakan hanya untuk mendampingi laki-laki. Dalam pikiranku waktu itu, perempuan adalah pelengkap dalam perjuangan, bukan teman sejajar dalam kehidupan. Pandangan itu datang dari cara berpikir sempit yang tumbuh dari lingkungan ideologis yang keras. Di dunia tempat aku dulu hidup, perempuan sering kali dipandang dari kacamata peran dan fungsi, bukan hati, apalagi sebagai manusia.
Aku dulu percaya bahwa cinta bisa dengan mudah disubordinasikan di bawah ideologi. Bahwa perasaan adalah gangguan dalam “perjuangan”. Bahwa menikah tak lebih dari bagian dari jalan untuk memperbanyak “pejuang baru”. Aku pernah merasa bangga dengan pandangan itu—seolah aku sedang menapaki jalan lurus menuju surga, padahal yang kulalui justru lorong yang gelap, dingin menuju neraka. Getir, amis dan berlumur darah. Seperti kilasan peristiwa Karbala.
Di tengah perjalanan itulah aku bertemu dengan seorang perempuan. Ia lembut, tegas, sederhana, dan sangat setia. Ia menemaniku sejak awal, ketika aku belum menjadi siapa-siapa, ketika aku hanya punya idealisme dan semangat yang membara. Ia percaya padaku, pada cita-citaku, pada masa depan yang kami bayangkan bersama. Kami menikah dalam kesederhanaan, tanpa pesta, tanpa kemewahan—hanya dengan keyakinan bahwa kami akan saling menjaga.
Namun seiring waktu, pikiranku semakin keras, keyakinanku semakin kaku. Aku terlibat lebih dalam dengan jaringan dan aktivitas yang perlahan-lahan menjauhkan aku dari keluarga. Aku lebih sering berdebat tentang surga dan jihad daripada membicarakan masa depan anak-anak. Aku lupa bahwa di rumah ada perempuan yang menunggu dalam diam, seraya memeluk resah dalam sabar.
Lalu datanglah masa di mana aku merasa yang paling “berhak” menentukan jalan yang benar menuju surga atas nama agama. Aku mulai menilai perempuan itu dari sudut pandang sempit itu. Ia kuanggap kurang “militan” dan ada gap pemahaman yang membatasi kami. Aku mulai mendengarkan bisikan orang-orang di sekitarku, bahwa dalam perjuangan, memiliki istri lebih dari satu bukanlah dosa, melainkan tanda kemuliaan seorang pejuang.
Begitulah, tanpa banyak berpikir, diam-diam aku menikah lagi dengan perempuan lain. Istri pertamaku tidak tahu jika aku telah menikah dengan seorang perempuan yang satu lingkaran denganku, yang mengaku siap berjuang bersama sampai mati. Waktu itu aku merasa seperti laki-laki paling benar di dunia. Aku merasa sedang menjalankan “tugas suci”. Padahal sejatinya, aku sedang menghancurkan keluarga yang susah payah kubangun sendiri.
Perempuan kedua itu awalnya membuatku merasa kuat. Ia seolah memahami bahasa perjuangan yang sama. Tapi perlahan aku sadar, hubungan kami tidak dibangun atas dasar cinta, melainkan atas dasar ideologi. Setiap kata, setiap keputusan, selalu diukur dengan ayat dan tafsir yang kaku. Tidak ada ruang untuk kelembutan, empati dan tidak ada tempat bagi keraguan.
Hingga akhirnya, ketika aku ditangkap dan dunia di sekitarku runtuh, perempuan itu pergi. Ia memilih tetap setia pada kelompok, bukan padaku. Ia menganggapku lemah karena menyerah, karena tidak lagi berani melawan. Aku ditinggalkan dalam sunyi, dalam kesadaran pahit bahwa perempuan yang kupilih atas nama perjuangan, ternyata tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Sementara itu, di luar sana, ada perempuan lain yang diam-diam masih memegang erat namaku—perempuan pertama yang kian lama kian kutinggalkan. Ia tetap datang menjenguk meski jarak dan stigma yang menamparnya setiap kali. Ia membesarkan anak-anak sendirian, menanggung beban yang seharusnya kupikul. Ia tidak membalas dengan amarah, hanya dengan doa dan keteguhan yang tidak pernah pudar.
Aku masih ingat saat pertama kali ia datang ke penjara. Tatapannya tenang, tapi matanya menyimpan rindu dan luka. Aku malu menatapnya. Aku tidak tahu harus bicara apa. Ia hanya berkata pelan, “Kamu masih ayah bagi anak-anakmu.” Kalimat itu menembus hatiku lebih dalam dari apa pun. Tidak ada kemarahan, tidak ada caci. Hanya pengingat lembut bahwa aku masih punya tanggung jawab yang harus kujalani, meski di balik jeruji.
Hari-hari di penjara membuatku memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana aku dulu memperlakukan perempuan dengan keliru, tentang bagaimana aku menjadikan agama sebagai pembenaran atas ego dan hawa nafsu. Aku belajar memahami bahwa kekerasan ideologi sering kali bermula dari kekerasan di dalam diri—dan perempuan, sering kali menjadi korban pertama dari kerasnya hati laki-laki.
Ketika aku mulai menjalani program deradikalisasi, banyak hal yang pelan-pelan berubah. Aku mulai membuka diri, membaca ulang teks-teks lama dengan mata yang lebih jernih. Aku mulai belajar bahwa Islam tidak pernah memenjarakan perempuan—justru meninggikan mereka. Aku mulai menyadari bahwa cinta dan kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan sejati.
Setiap kali istriku datang berkunjung, aku belajar sesuatu yang baru tentang ketulusan. Ia tidak banyak bicara tentang masa lalu. Ia tidak mengungkit pengkhianatan atau kesalahanku. Ia hanya bercerita tentang anak-anak, tentang sekolah mereka, tentang hal-hal kecil yang dulu tak pernah kuperhatikan. Dan setiap kali ia berbicara, aku merasa seolah dinding penjara sedikit demi sedikit retak oleh kehangatan yang dibawanya.
Ada satu momen yang tak pernah kulupa. Saat itu, di ruang kunjungan, ia berkata dengan suara lirih, “Aku tidak ingin kamu menjadi orang lain. Aku hanya ingin kamu pulang sebagai suamiku yang dulu.” Kalimat itu sederhana, tapi mengguncang seluruh keyakinanku. Aku sadar, ia tidak menuntut aku menjadi sempurna. Ia hanya ingin aku kembali menjadi manusia.
Sejak saat itu, aku belajar melihat perempuan bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai cermin. Dari matanya, aku belajar mengenali sisi-sisi diriku yang hilang. Dari kesabarannya, aku belajar tentang kekuatan yang sejati. Ia tidak berteriak, tidak memaksaku berubah, tapi justru dari diamnya aku merasa diperbaiki.
Kini, setelah aku bebas, aku menatap kehidupan dengan cara berbeda. Aku berusaha memperbaiki hubungan yang sempat hancur. Tidak mudah, memang. Luka lama tidak hilang dalam semalam. Tapi setiap langkah kecil yang kami ambil bersama adalah bentuk dari proses penyembuhan itu sendiri.
Aku tahu aku tidak bisa menghapus masa lalu, tapi aku bisa menulis ulang masa depan. Aku ingin menjadi suami yang benar-benar memahami arti setia, bukan hanya diucapkan di depan penghulu, tapi dijalani dalam laku sehari-hari. Aku ingin menjadi ayah yang bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga dalam hati anak-anakku. Dan aku ingin menjadi laki-laki yang menghormati perempuan bukan karena kewajiban, tapi karena kesadaran.
Ketika aku menulis kisah ini, aku tahu bahwa perempuan seperti istriku tidak banyak. Ia tidak menuntut balasan, tidak menuntut pembuktian. Ia hanya tetap di sisi—di masa paling gelap sekalipun. Dan dari situ aku belajar, bahwa cinta yang paling murni tidak perlu banyak kata. Ia hadir dalam kesetiaan yang tak tergoyahkan, dalam doa yang tak bersuara, dalam mata yang selalu memandang dengan kasih meski pernah disakiti.
Perempuan itu tidak hanya menyelamatkanku dari keterpurukan, tapi juga dari kebencian terhadap diriku sendiri. Ia mengajariku memaafkan, bukan karena aku pantas, tapi karena setiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua. Ia menjadi ruang damai pertama dalam hidupku—tempat aku bisa pulang tanpa takut dihakimi, tempat aku belajar arti cinta tanpa syarat.
Kini, ketika aku menatap wajahnya, dengan anak-anak yang tumbuh di sekeliling kami, aku tahu satu hal pasti, bahwa perjuangan sejati di zaman ini bukanlah di medan perang, tapi di dalam rumah. Bahwa pahlawan sejati bukan selalu yang mengangkat senjata, tapi yang tetap setia menjaga cinta di tengah badai.
Perempuan yang tetap di sisi—itulah dia.
Dan setiap kali aku menatapnya, aku tahu, aku tidak akan pernah menemukan kekuatan sebesar itu di tempat lain. Sekarang, meskipun dunia bilang aku takut istri, aku tidak peduli. Perempuan itu ada untukku dan aku harus terus berjuang untuknya.[]
Foto Utama: Ilustrasi keluarga Munir Kartono (Denty, Kompas.com)
Komentar