Saat Semua Narasi Itu Mulai Hancur

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Ketakutan yang Lebih Besar dari Keraguan

Beberapa bulan setelah percakapan tentang sah atau tidaknya pernikahan kami terus berulang tanpa pernah benar-benar selesai, hidupku kembali bergerak ke arah yang tidak pernah kuduga. Saat itu aku selalu hidup dalam kecemasan. Setiap kali Farhan terlambat membalas pesan, pikiranku langsung dipenuhi kemungkinan buruk. Setiap kali ia mengatakan ingin “memikirkan semuanya lagi”, dadaku langsung terasa sesak. Hubungan kami seperti berdiri di atas sesuatu yang rapuh dan aku terus-menerus takut suatu saat semuanya runtuh begitu saja.

Di tengah keadaan itu, aku masih menjalani hidup seperti biasa di luar rumah. Aku masih sekolah. Masih berangkat pagi dengan seragam yang sama. Masih duduk di kelas sambil sesekali pura-pura fokus mendengarkan guru, meski isi kepalaku penuh oleh hal lain. Bahkan saat itu aku sedang mempersiapkan diri untuk olimpiade kimia di Jakarta. Seharusnya itu menjadi sesuatu yang membanggakan. Dulu aku pasti akan sangat bersemangat menghadapi kesempatan seperti itu. Tapi saat itu, semuanya terasa jauh. Seolah hidup yang dulu pernah kuinginkan perlahan menjauh dariku.

Lalu di suatu siang ketika aku sedang libur sekolah, telepon dari Farhan masuk secara tiba-tiba. Suara di seberang sana terdengar sangat bising. Ada suara motor, orang-orang berbicara, seperti ia sedang berada di jalan atau di tempat ramai. Nafasnya terdengar terburu-buru. Dan sebelum aku sempat bertanya apa pun, ia langsung berkata dengan suara panik.

“Aku dijebak.”

Kalimat itu diulang beberapa kali.

“Aku dijebak… aku dijebak…”

Aku langsung terdiam.

Lalu setelah jeda beberapa detik yang terasa aneh, ia mengatakan sesuatu yang membuat tubuhku seperti membeku saat itu juga.

“Aku harus nikahin perempuan ini.”

Setelah itu sambungan telepon terputus.

Aku masih memegang ponselku beberapa saat setelah layar panggilan mati. Rasanya seperti otakku tidak langsung memahami apa yang baru saja kudengar. Aku mencoba menelepon balik berkali-kali, tapi tidak diangkat. Aku mengirim pesan panjang, bertanya apa maksudnya, apa yang sebenarnya terjadi, siapa perempuan itu, kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal seperti itu. Tapi tidak ada balasan.

Beberapa jam setelahnya, Farhan akhirnya menelepon lagi.

Kali ini suaranya lebih tenang, meski masih terdengar tegang. Ia mulai menjelaskan bahwa ia “dijebak” oleh seorang perempuan dan keluarganya. Katanya, ia diminta bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi dan dipaksa menikahi perempuan tersebut. Penjelasannya berputar-putar. Tidak pernah benar-benar jelas. Tapi inti yang kutangkap hanya satu “ada perempuan lain.”

Aku terus mencoba memahami situasinya, tapi semakin lama aku mendengar penjelasannya, semakin besar rasa tidak percaya yang muncul di dalam diriku. Ada bagian dari diriku yang mulai menyusun kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya selalu kutolak mentah-mentah.

Dan ternyata dugaanku tidak sepenuhnya salah.

Beberapa waktu setelah itu, aku akhirnya menceritakan semuanya kepada seorang temanku yang memiliki pemahaman yang sama dengan Farhan. Aku sudah terlalu lelah menyimpan semuanya sendiri. Dari situlah perlahan aku mengetahui bahwa perempuan yang disebut Farhan ternyata memiliki hubungan dengan lingkaran pertemanan temanku. Ceritanya tidak membutuhkan waktu lama untuk tersusun. Potongan-potongan informasi mulai saling terhubung. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar dihadapkan pada kenyataan bahwa Farhan memang memiliki hubungan lain di belakangku.

Bahwa selama ini, ia berselingkuh.

Ketika semuanya mulai terbuka, Farhan akhirnya meminta maaf kepadaku. Tapi permintaan maaf itu tidak membuat apa pun terasa lebih baik. Ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menikahiku secara resmi setelah aku lulus sekolah seperti yang dulu pernah ia janjikan. Ia berkata bahwa sekarang ia harus bertanggung jawab kepada perempuan tersebut.

Dan di situlah sesuatu di dalam diriku benar-benar runtuh.

Aku mulai mempertanyakan satu hal yang terus menghantuiku: lalu bagaimana denganku?

Bagaimana dengan semua yang sudah terjadi? Bagaimana dengan status yang selama ini ia yakinkan kepadaku? Bagaimana dengan kedekatan yang sudah melampaui batas itu? Bagaimana dengan semua narasi tentang perjuangan, tentang tanggung jawab, tentang membangun kehidupan bersama?

Aku merasa seperti seseorang yang didorong masuk ke dalam sebuah jalan panjang, lalu ditinggalkan sendirian di tengah perjalanan.

Namun yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa meski aku marah, kecewa dan mulai merasa dikhianati, aku tetap takut kehilangan Farhan. Ketakutan itu membuatku bertahan lebih lama daripada yang seharusnya.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar