Ibu yang Kucintai, Narasi yang Kutakuti

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Perubahan yang Tak Terlihat: Ketika Keheningan Jadi Tanda Bahaya Radikalisme

Setelah semua perubahan yang muncul di sekolah, pelan-pelan aku mulai sadar bahwa ada sesuatu yang ikut bergeser di rumah. Awalnya aku merasa perubahanku hanya berhenti di ruang kelas, cara dudukku, caraku menatap papan tulis, caraku berinteraksi dengan teman-teman dan guru-guru di sekolah. Tapi ternyata, apa yang tumbuh di kepalaku juga mengikuti aku pulang. Ia menempel di bahuku seperti bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Semua berawal dari percakapan yang dulu kupikir tak berbahaya. Saat itu aku menceritakan tentang keluargaku kepada Farhan, tentang ayahku yang jarang sholat, yang tidak puasa Ramadan, yang tetap ikut pemilu meski aku sendiri saat itu belum begitu paham kenapa hal itu dianggap bermasalah. Bagiku ayah hanyalah orang rumahan yang keras kepala, cuek, dan selalu ada di kursi ruang kerjanya setiap harinya dengan laptop yang ada di hadapannya dan handphone di tangannya. Tapi di mata Farhan, semua itu hanya satu kata: “kafir.”

Aku ingat betul bagaimana ia mengatakannya. Tidak dengan amarah, tidak dengan nada tinggi, tapi dengan keyakinan yang dingin, mantap, dan meyakinkan. Seolah-olah kalimat itu bukan pendapat, tapi kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan. “Ayahmu kafir karena ia ikut sistem thaghut,” katanya. “Dan kalau kamu cinta sama ayahmu, kamu harus memperingatkannya.”

Awalnya aku tidak langsung percaya. Tapi setiap malam, ketika aku kembali membaca pesan-pesannya dan melihat dalil-dalil yang ia kirimkan, pikiranku mulai tergerus sedikit demi sedikit. Ada bagian diriku yang merasa ketakutan, bukan takut pada ayah, tapi takut pada kemungkinan bahwa apa yang dikatakan Farhan itu benar. Ketakutan itulah yang perlahan membuat jarak di antara aku dan ayahku semakin renggang. Padahal sebelumnya kami memang tidak terlalu dekat, tapi tetap ada sedikit ruang untuk percakapan singkat tentang sekolah atau hal-hal kecil. Kini ruang itu mengecil tanpa kusadari.

Lalu pembicaraan kami bergeser pada ibuku. Aku menceritakan bahwa ibuku selalu sholat lima waktu, selalu puasa, dan selalu mengingatkanku untuk belajar dengan tenang. Ibu adalah tempat aku pulang. Tapi Farhan tetap berkata, “Kalau ibumu ikut pemilu, ia tetap dalam sistem thaghut. Itu juga bentuk kekafiran.”

Kalimat itu menghujam lebih keras daripada yang sebelumnya. Untuk ayah, mungkin aku bisa menerimanya, karena kami memang tidak dekat. Tapi untuk ibu? Ibu yang mengajariku berbicara, yang menyiapkan makananku setiap hari, yang tahu kapan aku sedang sedih hanya dari nada napasku? Mendengar kata “kafir” disandingkan dengan nama ibuku membuat dadaku seperti diremas. Tapi anehnya, remasan itu tidak membuatku marah. Justru membuatku takut. Takut kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupku. Takut ibu benar-benar akan “salah jalan” seperti yang Farhan bilang.

Ketakutan itu membuatku memandang ibu dengan cara baru. Bukan sebagai ibu, tapi sebagai seseorang yang harus “diselamatkan.” Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil: ibu yang menyalakan TV untuk menonton debat politik, ibu yang cerita tentang rencana pemerintah, ibu yang dengan santainya mengajak aku pergi ke TPS saat pemilu berikutnya tiba. Hal-hal yang dulu sama sekali tidak mengusikku tiba-tiba seperti alarm bahaya yang terus berbunyi di kepalaku.

Farhan bilang kalau aku tidak mau orangtuaku kafir, aku harus mendakwahkan kebenaran padanya. “Sampaikan padanya bahwa pemilu itu haram, bahwa pemerintah ini thaghut. Kalau kamu diam saja, kamu sama saja membiarkan mereka dalam kesesatan.” Kalimat itu membuatku dihantui rasa bersalah. Seolah kalau aku tidak bicara, maka aku adalah penyebab ibuku “jatuh.” Pelan-pelan aku mulai menjauh dari ibu, bukan karena aku membencinya, tapi karena aku takut. Takut salah bicara. Takut tidak bisa meyakinkan. Takut menjadi anak yang gagal menyelamatkan orang tuanya.

Lambat laun rumah terasa berbeda. Dulu setiap aku pulang sekolah, ibu akan menanyaiku tentang hariku dan aku akan menjawab panjang lebar, sering kali sambil tertawa. Tapi setelah itu semua, jawabanku menjadi pendek. Aku lebih sering mengurung diri di kamar. Ibu mengetuk pintu, menanyakan kenapa aku terlihat murung, tapi aku hanya bilang “Capek.” Padahal bukan kelelahan fisik, lebih seperti kepalaku dipenuhi suara lain yang tidak bisa kutenangkan.

Aku juga mulai sering berdebat dengan ibu. Bukan tentang hal besar, tapi justru soal-sepele yang dulu tidak pernah kupikirkan. Ibu menyuruhku makan, aku bilang nanti. Ibu memintaku menyapu, aku membalas dengan nada tinggi. Ibu bertanya kenapa aku tidak ceria seperti dulu, aku menjawab dengan defensif. Padahal jauh di dalam diriku, aku tahu semua itu bukan tentang pekerjaan rumah atau suasana hati, semua itu tentang jarak baru yang kupasang dengan sengaja. Jarak yang dibangun oleh ketakutan dan keyakinan yang memburuku setiap malam.

Namun puncaknya terjadi ketika aku akhirnya memberanikan diri untuk “mendakwahkan” apa yang Farhan ajarkan. Aku memulai pembicaraan itu dengan hati-hati, berusaha setenang mungkin. Tapi baru beberapa menit, ibu langsung menatapku dengan bingung. “Kamu kenapa, Nak? Ini kamu dapat dari mana?” Suaranya bukan marah, tapi sedih seperti seseorang yang tiba-tiba tidak mengenali anaknya sendiri. Dan saat ibu mulai mempertanyakan pemahaman yang kubawa, aku justru semakin terpancing. Perdebatan itu melebar tanpa arah. Suaraku meninggi, ibu berusaha menenangkan, tapi setiap kata lembutnya justru membuatku merasa semakin diserang. Pada akhirnya, kami berhenti bicara dalam keadaan yang sama-sama tidak nyaman.

Sejak itu suasana rumah jadi berubah tanpa ada satu pun kejadian besar yang memicunya. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada pintu yang dibanting, tapi ada jarak tipis yang mulai terasa setiap kali aku melewati ruang tengah atau duduk bersama ibu di meja makan. Kadang ibu bertanya tentang sekolah, dan aku menjawab pendek-pendek sambil menahan diri agar percakapan tidak melebar ke topik pemilu atau pemerintahan, karena aku tahu jika itu terjadi, aku pasti akan terpancing untuk menyampaikan apa yang selama ini diajarkan Farhan. Ayah pun tetap seperti biasa, dingin, tidak banyak komentar dan entah kenapa keheningan itu justru membuatku semakin sadar bahwa aku sudah tidak tahu harus memulai percakapan apa dengannya.

Hari-hari berjalan seperti itu saja: aku pulang, masuk kamar, belajar materi dakwah, dan hanya keluar ketika benar-benar perlu. Tidak ada yang secara jelas berubah, tapi perlahan rumah terasa seperti tempat yang aku datangi hanya untuk tidur dan mandi, bukan lagi tempat yang dulu selalu penuh dengan obrolan kecil antara aku dan ibu.

Ilustrasi: By AI (Gemini)

Komentar

Tulis Komentar