Dari Doa ke Doktrin: Cerita di Balik Notifikasi

Tokoh

by WAVE Community Editor by Redaksi

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Pesan di Ponsel yang Menarikku ke Dunia yang Tak Pernah Kukenal

Hari-hari setelah aku bergabung di grup itu terasa seperti menemukan keluarga baru. Notifikasi hadir di waktu-waktu tak terduga: pagi sebelum sekolah, siang di jam istirahat, atau malam sebelum tidur. Pesannya beragam—potongan ayat, pengingat sholat, video kajian, bahkan sekadar ucapan sederhana: “Semoga Allah menjaga hatimu hari ini.”

Sebagai remaja kelas 1 SMA, di sekolah aku tetap menjalani rutinitas: bercanda dengan teman, ikut kegiatan Rohis, mengerjakan tugas. Tapi diam-diam, ada bagian diriku yang mulai lebih menantikan percakapan di grup itu. Di sana, aku merasa dianggap.

Aku masih ingat satu sore di awal musim hujan 2016. Dari jendela kamar, derasnya hujan menimpa atap, lampu temaram menambah sepi. Tiba-tiba notifikasi grup berbunyi. Salah satu anggota menuliskan kalimat panjang:

Saudari, kadang kita merasa sepi meski dikelilingi orang banyak. Dunia ini memang bukan rumah kita. Rumah kita ada di akhirat, dan untuk sampai ke sana kita harus menempuh jalan yang benar, meski kadang harus berbeda dari kebanyakan orang.”

Aku terpaku. Seakan kalimat itu menepuk pundak, menyebut kegelisahanku yang tak pernah terucap.

Rasa Didengar

Perlahan, hubungan kami semakin personal. Mereka bertanya kabar, bukan sekadar basa-basi. Saat aku mengaku lelah, doa mereka hadir. Saat aku bercerita tentang masalah di sekolah, nasihat mereka mengalir. Rasanya hangat—akhirnya ada yang benar-benar mendengar.

Hingga suatu malam, seorang anggota—sebut saja Melati—mengajakku bicara di luar grup. Percakapan kami mengalir begitu saja. Ia bercerita tentang masa lalunya, tentang “hiruk pikuk dunia” yang pernah membuatnya tersesat, lalu bagaimana ia menemukan kebenaran di lingkaran ini. Sesekali ia menulis emotikon “:’)”, seolah menangis lega.

Aku merasa dipilih untuk mendengar cerita itu. Dan secara tak sadar, aku pun mulai membuka diriku.

Dari Obrolan ke Ideologi

Topik obrolan tak lagi sekadar pengingat ibadah. Perlahan, mereka menyelipkan isu-isu konflik, berita peperangan, dan narasi tentang ketidakadilan global. Semuanya dikaitkan dengan pesan yang sama: umat Islam sedang diserang, media arus utama tak bisa dipercaya, dan ada kewajiban untuk membela dengan cara “yang benar”.

Bahasanya masih halus, tapi istilah-istilah baru mulai menempel: hijrah total, musuh Islam, thaghut. Kata-kata itu diulang-ulang, hingga akrab di kepalaku.

Suatu malam, Melati mengirim video tiga menit. Seorang pria berpidato lantang tentang harga diri umat, pengkhianatan pemimpin, dan pentingnya kembali pada syariat penuh. Di akhir ia berkata:

Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Aku terdiam lama. Ada rasa bersalah yang tumbuh pelan-pelan—seolah selama ini aku hanya menjadi penonton. Rasa bersalah itu membuatku makin larut dalam diskusi-diskusi mereka.

Dunia yang Semakin Sempit

Perlahan aku menjauh dari teman-teman sekolah. Mereka sibuk dengan musik, hangout, atau tugas. Aku merasa ada hal yang lebih besar: urusan umat, urusan akhirat.

Puncaknya, admin grup mengumumkan akan ada kajian daring khusus anggota. Judulnya saja memikat: “Sejarah Umat dari Perspektif yang Tersembunyi.”

Hari itu aku menutup pintu kamar rapat-rapat, menyiapkan buku catatan. Suara pembicara terdengar tenang tapi tegas, memaparkan sejarah peperangan, politik global, lalu selalu kembali pada kesimpulan: ada “konspirasi besar” terhadap Islam.

Aku menulis cepat, takut tertinggal. Hingga akhirnya ia menutup dengan kalimat:

Kebenaran memang berat, dan tidak semua orang sanggup menanggungnya. Tapi kita sudah di sini. Kita punya tanggung jawab.”

Layar ponsel gelap, tapi kalimat itu berputar di kepalaku. Rasanya seperti undangan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang besar—sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang.

Di titik itu aku belum menyadari, betapa kuatnya rasa “dianggap” bisa mengubah arah pikiran. Aku hanya tahu satu hal: aku diterima, dimengerti, dipercaya. Dan itulah pintu kedua—pintu yang membawaku melangkah lebih jauh.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar