Oleh: Vania
Delapan puluh tahun sudah negeri ini mengibarkan merah putih dengan kepala tegak. Di jalan-jalan kampung, bendera berkibar, gapura dihiasi umbul-umbul, dan anak-anak berlarian mengikuti lomba tarik tambang. Di sekolah, pengeras suara memutar lagu perjuangan, menggaungkan semangat kemerdekaan yang diwariskan dari para pendahulu. Semua orang berbicara tentang harga kebebasan—tentang bagaimana kemerdekaan dibayar dengan darah dan air mata.
Namun, di tengah riuh merayakan kemerdekaan itu, aku justru teringat bahwa penjajahan tak selalu datang dengan senjata. Ada bentuk-bentuk penaklukan lain—sunyi, lembut, nyaris tak terdengar—yang menyelinap lewat pintu yang kita biarkan terbuka. Pintu itu, bagiku, adalah sebuah pesan sederhana di layar ponsel.
Pagi itu, udara sekolah masih dingin, seperti embun yang enggan pergi. Suara tawa dan panggilan nama memenuhi koridor menuju mushola. Sandal-sandal tersusun rapi di depan pintu, aroma karpet yang baru dibersihkan berpadu dengan wangi teh manis dari kantin.
Aku menaruh tas di pojok mushola—ruang yang bagi sebagian orang hanyalah tempat ibadah, tapi bagiku adalah pelabuhan. Tempat kami membicarakan rencana kajian, saling bertukar cerita, dan merasakan kebersamaan yang sulit kutemukan di tempat lain.
Orang mengenalku sebagai siswi ceria, mudah akrab, cepat nyambung. Tapi di balik tawa itu, ada rasa ingin tahu yang tumbuh seperti tunas muda—ingin memahami lebih dalam, tak cukup hanya menghafal ayat atau hadis.
Sehabis sekolah, aku sering mencari jawaban lewat layar laptop atau ponsel. Algoritma media sosial seperti sahabat setia, memenuhi beranda dengan kutipan ayat, potongan ceramah, dan kisah ulama. Rasanya aman, bahkan menyenangkan—hingga suatu sore mataku tertumbuk pada unggahan sederhana:
“Kebenaran tidak selalu disukai banyak orang, tapi ia tetaplah kebenaran.”
Hitam di atas putih. Tanpa gambar, tanpa hiasan. Entah mengapa kalimat itu menancap di pikiranku. Kubuka kolom komentar, lalu pesan pribadi masuk:
“Assalamu’alaikum, semoga kamu selalu dalam lindungan Allah. Aku lihat kamu suka dengan postinganku. Kalau mau, aku bisa bagikan kajian-kajian yang jarang dibahas di tempat umum.”
Bahasanya sopan, hangat, membuatku merasa diperhatikan. Aku membalas singkat: "Wa’alaikumsalam, boleh."
Hari-hari berikutnya, pesan-pesannya terus datang—awalnya ringan, berisi nasihat, potongan ayat, atau hadis. Lalu, pelan-pelan, ia mengaitkan semuanya dengan berita dunia, membedahnya dari sudut pandang yang belum pernah kudengar. Ada rasa istimewa—seolah aku diajak masuk ke lingkaran kecil yang menyimpan kebenaran yang tak semua orang “siap menerimanya”.
Tak lama, ia mengajakku masuk ke grup kecil di aplikasi lain. Sapaan hangat, doa, dan panggilan “saudari” membuatku merasa diterima sepenuhnya. Obrolan awalnya aman: tips ibadah, pengingat shalat, tautan kajian. Tapi kemudian, istilah-istilah baru muncul: kemurnian ajaran, bahaya kompromi dengan dunia luar, bahkan kata thaghut dan jihad.
Waktu itu, aku tak merasa curiga. Justru aku merasa naik kelas, seperti menemukan rahasia yang tak semua orang punya. Kini aku tahu, itu adalah pola. Pertama, mereka membuatku merasa nyaman. Lalu, pelan-pelan, memisahkan pandanganku dari dunia luar. Hingga aku percaya bahwa kebenaran hanya ada di lingkaran mereka.
Saat ini, di usia kemerdekaan yang ke-80, aku mengerti satu hal: kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati dan pikiran kita tidak terbelenggu oleh narasi yang membatasi cara pandang kita pada dunia.
Karena ternyata, tak semua rantai terbuat dari besi. Ada rantai yang terbuat dari kata-kata manis di layar ponsel—yang jika kita tak waspada, akan membelenggu kita lebih kuat daripada apapun.
Dan untukku, semua itu dimulai dari satu pesan sederhana.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar