Ada masa dalam hidupku ketika aku tidak tahu bagaimana caranya bersabar. Dulu, sebelum masuk penjara, aku merasa segala sesuatu harus segera menemukan jawaban. Ketika ada persoalan, aku ingin segera menyelesaikannya, bahkan ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinanku, aku ingin segera mencari pembenaran. Ketidaksabaran itu tidak berhenti pada urusan sehari-hari. Perlahan ia memengaruhi cara berpikirku.
Dalam perjalanan menuju radikalisme, jawaban yang sederhana dan tegas terasa lebih menarik daripada proses berpikir yang panjang. Dunia seperti hanya memiliki dua sisi: benar dan salah, kawan dan lawan, kami dan mereka. Aku ingin jawaban yang pasti dan perubahan yang cepat. Dalam keadaan seperti itu, gagasan ekstrem terasa meyakinkan karena menawarkan sesuatu yang tampak sederhana untuk persoalan yang sebenarnya jauh lebih rumit.
Setelah melewati masa penjara dan proses panjang untuk kembali ke masyarakat, aku mulai memahami bahwa tidak semua persoalan harus segera dijawab, dan tidak semua kegelisahan harus dijawab dengan tindakan yang tergesa-gesa. Ironisnya, salah satu tempat aku belajar hal itu justru jalanan, ketika menjadi pengemudi ojek online. Hampir setiap hari aku belajar menunggu. Menunggu order, menunggu pelanggan, menunggu jalanan bergerak, menunggu sesuatu yang sering kali tidak bisa kupastikan kapan datangnya.
Ada hari ketika aku sudah siap sejak pagi. Motor sudah diperiksa, ponsel aktif, baterai cukup, dan aku memilih tempat yang ramai. Lima belas menit, setengah jam, satu jam, tidak ada order. Awalnya masih santai, tetapi semakin lama pikiran mulai ke mana-mana. Waktu terus berjalan, sementara kebutuhan di rumah tidak ikut berhenti. Pernah juga aku hanya mendapat satu order.
Satu order.
Padahal aku sudah berada di jalan cukup lama.
Dari situ aku sadar bahwa dalam pekerjaan ini, usaha dan hasil tidak selalu datang beriringan. Dulu aku mungkin hanya melihatnya sebagai hal yang menyebalkan. Sekarang aku mencoba melihatnya sebagai bagian dari kehidupan. Hari ini bisa sepi, besok mungkin ramai. Yang bisa kulakukan adalah tetap berusaha tanpa memaksa dunia memberikan hasil sesuai keinginanku. Menunggu lama belum seberapa. Kadang setelah order datang, masalah baru dimulai. Pernah, setelah menunggu cukup lama, order akhirnya masuk dan rasanya lega. Aku segera bersiap, tetapi beberapa saat kemudian order itu dibatalkan. Selesai. Rasa kesal tentu ada, tetapi dari situ aku belajar membedakan antara sesuatu yang masih bisa diperbaiki dan sesuatu yang memang sudah selesai. Order yang batal tidak bisa kupaksa kembali. Yang bisa kulakukan adalah mencari order berikutnya. Kita sering menghabiskan terlalu banyak energi untuk sesuatu yang sudah tidak bisa diubah, padahal hidup terus berjalan.
Ada pula pengalaman ketika aku sudah jauh menuju lokasi, tetapi pelanggan tidak bisa dihubungi. Telepon tidak diangkat, pesan tidak dibalas. Hal serupa terjadi pada pesanan COD: barang sudah di tanganku, tetapi penerimanya tidak ada di titik lokasi. Aku tidak tahu apakah itu salah alamat, pelanggan yang lupa, atau order fiktif. Yang jelas, waktu, tenaga, dan bensin sudah terpakai. Setelah mengikuti prosedur yang tersedia, aku harus melanjutkan perjalanan. Kadang kita tidak mendapat penjelasan untuk setiap persoalan. Kita hanya bisa memastikan bagian kita sudah dilakukan dengan benar, lalu melanjutkan hidup.
Lalu ada kemacetan. Bagi orang yang melihat dari luar, macet hanya perjalanan yang lebih lama. Bagi pengemudi, macet berarti waktu yang terus berjalan. Pernah aku membawa pesanan ketika lalu lintas begitu padat, sementara pelanggan terus menelepon. Aku memahami mereka sedang menunggu, tetapi aku tidak mungkin membuat kendaraan di depan menghilang atau motorku tiba-tiba melayang. Sering kali semua pihak menginginkan hal yang sama, yaitu cepat selesai, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Ada keadaan yang hanya bisa dilewati sedikit demi sedikit.
Berhadapan dengan pelanggan juga banyak mengajarkan. Ada yang sangat baik, ada yang biasa saja, ada pula yang berbicara dengan nada tinggi. Aku juga bisa tersinggung dan lelah, dan ada keinginan untuk membalas. Tetapi semakin lama di jalan, aku belajar bahwa tidak semua perkataan harus dibawa ke hati. Kadang lebih baik menyelesaikan pekerjaan, lalu pergi. Dulu aku merasa harus bereaksi terhadap segalanya. Sekarang aku belajar bahwa tidak bereaksi bukan berarti kalah. Kadang itu justru bentuk pengendalian diri.
Bekerja di jalan juga berarti berhitung. Kadang penerima meminta kita menunggu lima, sepuluh, lima belas menit, dan di kepala muncul pertanyaan: berapa waktu yang sudah terbuang, apakah setelah ini masih ada order? Karena itu bekerja bukan soal menerima semua order. Jarak, waktu, biaya, tenaga, dan kebutuhan hari itu harus dipertimbangkan. Kita harus memakai perhitungan, bukan sekadar mengikuti emosi.
Jalanan juga mempertemukan kita dengan banyak orang, dan kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Pelanggan yang terburu-buru mungkin sedang mengejar sesuatu. Pengemudi lain yang terlihat tergesa-gesa mungkin sedang mengejar target penghasilan. Kita sendiri pun membawa persoalan yang tidak terlihat oleh mereka. Karena itu aku lebih berhati-hati dalam menilai orang. Bukan berarti semua perilaku harus dimaklumi, tetapi menyadari bahwa setiap orang membawa urusannya masing-masing membuat kita lebih mudah memahami bahwa dunia tidak selalu berputar sesuai sudut pandang kita.
Kalau kupikir-pikir, ada ironi dalam perjalanan hidupku. Dulu aku ingin jawaban yang cepat, sekarang aku bekerja dalam pekerjaan yang memaksaku menunggu. Dari penantian-penantian kecil itu aku mendapat pelajaran yang dulu tidak kupahami: ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, melihat persoalan dari sisi lain, mencari informasi, berdiskusi, lalu membiarkan waktu membantu kita memahami keadaan.
Dulu aku mengira ketegasan berarti harus segera mengambil sikap. Sekarang aku memahami bahwa berpikir sebelum bertindak juga membutuhkan keberanian. Aku masih sering kesal, masih mengeluh ketika order sepi, dan masih tidak nyaman ketika bertemu orang yang berbicara kasar. Tetapi aku tidak lagi menganggap setiap rasa kesal harus berujung pada tindakan. Aku belajar memberi jarak antara apa yang kurasakan dan apa yang kulakukan. Mungkin jarak kecil itulah yang dulu tidak kumiliki.
Menjadi pengemudi ojol ternyata bukan hanya mengajarkan cara membaca peta dan mencari alamat. Pekerjaan ini mengajarkan cara membaca keadaan: kapan harus bergerak, kapan menunggu, kapan berbicara, kapan diam, dan kapan menerima bahwa sesuatu memang sudah di luar kendali.
Aku pernah kehilangan banyak hal karena tidak mampu mengendalikan cara berpikir dan bertindak. Karena itu, setiap kali duduk di atas motor menunggu order, aku seperti sedang mengingatkan diriku sendiri: jangan terburu-buru, tidak semua hal harus dijawab hari ini, dan tidak semua jalan yang lambat berarti kita salah arah. Sebab pada akhirnya, mencari rezeki bukan hanya tentang sampai di tujuan. Kadang perjalanan menuju tujuan itulah yang justru paling banyak mengajarkan kita tentang hidup.[]
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar