Aku Ingin Percaya, Tapi Ingatanku Berkata Lain

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Nasya

Baca kisah sebelumnya: Potongan-Potongan yang Selama Ini Kuabaikan



Mungkin karena melihat kondisiku, mereka kemudian memberikan kesempatan kepadaku untuk melakukan video call dengan Farhan. Ketika wajahnya muncul di layar, aku langsung menangis. Setelah sejak kemarin hanya mendengar bahwa ia ditangkap dan tidak mengetahui keadaannya, akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung.

Aku bertanya bagaimana keadaannya, apakah ia baik-baik saja, dan berbagai pertanyaan lain yang sebenarnya mungkin tidak perlu ditanyakan karena aku bisa melihat sendiri bahwa ia masih bisa berbicara denganku. Tetapi saat itu aku hanya membutuhkan kepastian. Aku membutuhkan seseorang untuk mengatakan kepadaku bahwa semuanya belum berakhir.

Aku juga sempat bertanya kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Seperti sebelumnya, Farhan tetap mengatakan bahwa dirinya tidak terlibat. Aku mendengarkan jawabannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalam diriku.

Dulu, ketika ia mengatakan sesuatu, aku bisa langsung menjadikannya sebagai pegangan. Aku percaya kepadanya karena aku memang terbiasa menjadikan Farhan sebagai tempat untuk mencari jawaban. Namun setelah semua yang terjadi, kepercayaanku tidak lagi sesederhana itu. Bukan karena aku tiba-tiba mengetahui bahwa ia bersalah, tetapi karena terlalu banyak hal yang sebelumnya tidak masuk akal mulai muncul satu per satu.

Setelah video call selesai, aku merasa sedikit lebih lega karena setidaknya aku sudah melihat Farhan dalam keadaan baik. Tetapi sebelum Densus meninggalkan rumah, aku masih memiliki satu pertanyaan yang sangat ingin kujawab.

"Farhan akan ditahan sampai kapan?"

Aku ingin tahu berapa lama aku harus menunggu. Aku ingin tahu apakah ia akan segera pulang atau justru akan dibawa pergi lebih jauh. Salah satu dari mereka kemudian menjelaskan bahwa apabila Farhan tidak terlibat dalam perencanaan bom bunuh diri yang sedang mereka selidiki, dalam waktu sekitar satu minggu ia bisa saja dipulangkan. Namun jika ternyata ia terlibat, ia akan dibawa ke Jakarta, ke Mabes, untuk proses lebih lanjut.

Aku diam mendengar penjelasan itu. Secara logika, aku seharusnya merasa lega karena Farhan sendiri mengatakan bahwa ia tidak terlibat. Tetapi anehnya, pikiranku justru bergerak ke arah yang berbeda.

Aku teringat bagaimana ketakutan Farhan setiap kali mendengar kabar penangkapan teman-temannya. Aku teringat bagaimana ia menghilang dari hotel malam itu. Aku teringat wajahnya ketika melihat berita penangkapan di televisi. Aku teringat bagaimana ia begitu takut menggunakan telepon karena khawatir keberadaannya diketahui.

Semua kejadian itu kembali muncul dalam pikiranku dan membuatku merasa bahwa kemungkinan Farhan akan dibawa ke Jakarta bukan sesuatu yang kecil.

Aku tidak tahu apakah perasaan itu benar atau hanya karena pikiranku sedang dipenuhi ketakutan. Tetapi semakin kuingat kejadian-kejadian sebelumnya, semakin sulit bagiku untuk meyakinkan diri bahwa Farhan akan segera pulang. Ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa penangkapan ini tidak akan selesai hanya dalam beberapa hari.

Meski begitu, saat itu aku juga berusaha menguatkan diriku dengan kenyataan apa pun yang ada di depanku. Aku tidak memiliki informasi yang cukup untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya memiliki potongan-potongan kejadian dan perasaan yang sejak beberapa waktu terakhir terus mengatakan kepadaku bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada yang selama ini kuketahui.

Setelah Densus akhirnya pergi, aku kembali sendirian di dalam rumah. Aku berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain tanpa tujuan yang jelas. Aku melihat ruang tamu, kamar, dapur, dan sudut-sudut rumah yang selama ini begitu biasa bagiku. Semuanya masih berada di tempatnya. Tidak ada yang berubah secara fisik. Tetapi suasananya terasa sangat berbeda.

Rumah yang sehari sebelumnya masih menjadi tempat aku tinggal bersama suamiku, sekarang terasa seperti tempat yang menyimpan begitu banyak pertanyaan. Aku berjalan perlahan sambil mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Aku seperti sedang mencari sesuatu di setiap sudut rumah, padahal aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kucari.

Orang tuaku mulai khawatir melihat keadaanku. Mereka melihat aku yang lebih banyak diam, menangis, berjalan tanpa tujuan, dan seperti kesulitan memahami apa yang sedang terjadi. Mereka takut aku melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan atau kondisiku semakin memburuk. Mereka mencoba menemaniku, tetapi mungkin mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.

Bagaimanapun, ini bukan situasi yang pernah mereka bayangkan akan terjadi dalam keluarga kami. Mereka bukan hanya sedang menghadapi penangkapan menantunya, tetapi juga melihat anaknya sendiri berada dalam kondisi yang sangat terpukul setelah mengetahui semua itu.

Di tengah keadaan tersebut, salah satu teman ibuku kemudian menyarankan agar aku dibawa bertemu dengan psikolog. Saat pertama kali mendengar saran itu, aku tidak langsung memahami apa yang sebenarnya kubutuhkan. Yang kupikirkan saat itu masih Farhan. Aku masih memikirkan kapan ia akan pulang, apa yang akan terjadi kepadanya, dan apa yang sebenarnya selama ini ia sembunyikan dariku.

Tetapi orang-orang di sekitarku mulai melihat sesuatu yang mungkin saat itu belum bisa kulihat sendiri. Bahwa setelah semua kejadian yang bertubi-tubi datang dalam hidupku, mungkin aku tidak hanya membutuhkan jawaban tentang Farhan. Aku juga membutuhkan seseorang yang membantuku memahami apa yang sedang terjadi di dalam diriku sendiri.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar