Pertemuan yang Tertunda

Tokoh

by Arif Budi Setyawan Editor by Arif Budi Setyawan

Terkadang ada orang yang sudah cukup lama kita kenal, tetapi belum pernah sekalipun kita duduk berhadapan dengannya.

Salah satu credible voices Ruangobrol yang saya temui Jumat (25/9/2026) yang lalu adalah orang seperti itu.

Selama ini kami lebih banyak berkomunikasi melalui telepon. Berdiskusi tentang tulisan, bertukar gagasan, membicarakan berbagai persoalan sosial, dan sesekali ngobrol tentang kehidupan.

Tetapi hari Jumat kemarin itu berbeda. Untuk pertama kalinya, kami akhirnya bertemu langsung.

Menariknya, pertemuan itu tidak terasa seperti perkenalan dengan seseorang yang baru saya temui. Tidak ada jarak yang kaku. Obrolan mengalir begitu saja, seperti kami hanya sedang melanjutkan percakapan yang selama ini tertunda karena jarak.

Mungkin memang begitu hubungan yang dibangun melalui percakapan. Pertemuan langsung hanyalah memindahkan percakapan dari layar telepon ke sebuah meja.

Saya mengenalnya bukan pertama-tama dari pertemuan kemarin, melainkan dari tulisan-tulisannya di Ruangobrol.

Perjalanan hidupnya memang tidak sederhana. Ia pernah berada dalam lingkungan yang kemudian membawanya berhadapan dengan hukum. Setelah menjalani proses hukum, ia menghadapi perjalanan panjang untuk kembali membangun kehidupannya di tengah masyarakat.

Ada masa ketika seseorang dengan latar belakang seperti itu mungkin lebih memilih diam. Masa lalu bisa menjadi beban yang membuat seseorang enggan membuka diri.

Tetapi ia memilih jalan yang berbeda. Ia mulai menulis.

Sebagai salah satu credible voice Ruangobrol, ia membawa pengalaman hidupnya ke dalam tulisan-tulisan yang berisi refleksi. Bukan sekadar menceritakan apa yang pernah terjadi, tetapi mencoba melihat kembali pengalaman tersebut dari posisi dirinya yang sekarang.

Bagi saya, keputusan untuk menulis itu bukan perkara kecil. Menulis berarti bersedia membuka ruang dialog. Bersedia mengatakan bahwa masa lalu memang bagian dari perjalanan hidup, tetapi masa lalu tidak harus menjadi satu-satunya identitas seseorang.

Tulisan-tulisannya menjadi semacam jembatan. Jembatan antara pengalaman masa lalu dengan kehidupan yang sedang ia bangun sekarang.

Selama ini kami cukup sering berkomunikasi melalui telepon. Kadang membicarakan tulisan. Kadang berdiskusi tentang gagasan. Kadang membahas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu serius. Dari percakapan-percakapan itulah kedekatan tumbuh.

Karena itu, ketika akhirnya kami bertemu kemarin, saya tidak merasa sedang bertemu seorang kontributor yang baru saya kenal. Saya merasa sedang bertemu seorang kawan.

Ada satu hal yang kemudian kami bicarakan cukup serius. Ia sedang mencari pekerjaan yang bisa dilakukan sambil kuliah.

Ya, ia sekarang mulai kuliah lagi. Pendidikan yang dulu sempat terhenti karena keterlibatannya dalam jaringan terorisme kini sedang ia lanjutkan kembali.

Ada sesuatu yang menurut saya cukup bermakna dari keputusan itu. Ada bagian hidup yang pernah terputus dan sekarang sedang ia sambung. Ada masa lalu yang tidak bisa diubah, tetapi ada masa depan yang masih bisa diperjuangkan.

Untuk biaya kuliah, ia bercerita sudah ada donatur yang membantu. Tetapi kebutuhan hidup tentu tidak selesai hanya dengan adanya biaya pendidikan. Masih ada makan, transportasi, kebutuhan sehari-hari, dan berbagai keperluan lain yang harus dipenuhi. Karena itu, ia ingin mencari pekerjaan yang dapat berjalan beriringan dengan kuliahnya.

Saya mendengarkan ceritanya.

Bagi saya, yang menarik bukan semata-mata bahwa ia sedang mencari pekerjaan. Yang menarik adalah keinginannya untuk mandiri.

Ia tidak ingin seluruh kebutuhan hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. Jika biaya kuliah sudah ada yang membantu, maka kebutuhan hidup ingin ia perjuangkan sendiri.

Saya kira, di situlah proses reintegrasi menjadi sesuatu yang sangat manusiawi.

Kita sering membicarakan reintegrasi dalam bahasa program: pendampingan, pemberdayaan, pelatihan, penerimaan masyarakat, dan seterusnya. Padahal di tingkat paling sederhana, reintegrasi adalah ketika seseorang mulai kembali memikirkan hal-hal yang sangat biasa dalam kehidupan.

Kuliah. Pekerjaan. Teman. Penghasilan. Masa depan. Bahkan makan siang bersama kawan. Hal-hal sederhana itu justru menjadi tanda bahwa kehidupan sedang berjalan kembali.

Sekarang saya merasa hubungan kami juga bergerak ke tahap yang berbeda.

Selama ini saya mengenalnya melalui tulisan dan percakapan di telepon. Hari itu kami bisa duduk bersama, berbagi cerita secara langsung, makan bersama, dan bercanda tanpa sekat formal. Tidak ada lagi posisi “redaktur” dan “kontributor” yang terasa menonjol. Yang ada adalah kawan dengan kawan.

Mungkin inilah salah satu bentuk kekeluargaan yang selama ini saya rasakan di Ruangobrol. Ruangobrol bagi saya bukan hanya tempat orang menulis. Ia juga menjadi ruang perjumpaan.

Orang-orang dengan pengalaman hidup yang berbeda dipertemukan oleh satu hal: keinginan untuk berbagi cerita dan ikut membangun kehidupan yang lebih baik. Dan hari itu, salah satu dari mereka akhirnya duduk satu meja dengan saya.

Saya tidak tahu apakah pertemuan ini akan langsung menghasilkan pekerjaan yang sedang ia cari. Bisa jadi masih membutuhkan waktu. Tetapi saya percaya satu hal: setiap perjalanan besar biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil.

Melanjutkan kuliah adalah satu langkah. Mencari pekerjaan adalah langkah berikutnya. Membangun kembali hubungan sosial juga sebuah langkah.

Dan bertemu kawan-kawan yang selama ini hanya dikenal melalui telepon, mungkin juga bagian dari perjalanan itu.

Hari itu kami makan bersama. Mengobrol. Tertawa. Bercerita tentang banyak hal.

Lalu pulang membawa sebuah foto—meskipun mungkin foto itu belum waktunya diperlihatkan kepada publik. Ia berpesan agar jika redaksi ingin menampilkan foto kami, wajahnya supaya disensor.

Dan saya kira itu tidak masalah. Tidak semua cerita harus langsung diketahui banyak orang. Tidak semua orang yang sedang membangun kembali hidupnya harus segera tampil di depan kamera.

Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk berjalan lebih dulu, sebelum suatu hari merasa cukup siap untuk bercerita kepada dunia.

Yang penting, langkah itu sudah dimulai.

Dan saya senang, perjalanan itu kini tidak lagi hanya kami bicarakan melalui telepon. Sebab kadang, sebuah pertemuan sederhana adalah cara paling manusiawi untuk mengatakan: kamu tidak berjalan sendirian.

Foto utama: Pertemuan pertama tim Ruangobrol dengan salah satu credible voices Ruangobrol (wajah disensor). Dari obrolan di telepon, akhirnya duduk satu meja pada Jum’at (25/9/2026) di sebuah kafe di Jakarta Selatan.[Febri Ramdani]

Komentar

Tulis Komentar