Bukan Soal Pesan, Tapi Siapa yang Menjawab

Analisa

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Pukul sebelas malam, seorang remaja menonton video kontra-narasi tentang bahaya kekerasan atas nama agama. Videonya sangat bagus karena dibuat oleh lembaga yang kredibel. Ia pun tergugah, lantas menulis di kolom komentar bahwa ia sedang marah dan tidak punya tempat bercerita. Tapi komentar itu tenggelam di antara ribuan comments lainnya. Tidak ada yang membalas, dan video berikutnya sudah otomatis diputar, kali ini dari pihak yang tidak menyuruhnya menunggu.

Adegan ini hipotetis, tetapi orang yang bekerja di lapangan akan mengenali polanya. Pesannya sampai, tetapi tidak ada yang menyambut. Seolah pesan itu memang dibiarkan sampai tanpa ada pihak yang bertugas untuk menyambutnya. Dan itu membuat kita perlu bertanya ulang: jangan-jangan yang keliru bukan pesannya, melainkan cara kita membagi peran.

Pesan Sudah Banyak, Peran yang Belum Tertata

Selama ini kita gemar bertanya pesan apa yang paling ampuh dalam pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan? Video testimoni mantan pelaku, animasi, atau meme. Pertanyaan itu wajar, tetapi mungkin bukan yang paling menentukan. Ferguson (2016) menyimpulkan bahwa bukti efektivitas kontra-narasi masih tipis. Jika pesan yang bagus saja belum terbukti cukup, barangkali ada yang terlewat.

Tio dan Kruber (2022) menawarkan peta yang membantu. Pendekatan komunikasi P/CVE mereka bagi menjadi empat: kontra-narasi, alternatif positif, literasi media atau berpikir kritis, dan intervensi remedial langsung. Semuanya diletakkan pada dua sumbu, yaitu reaktif-proaktif dan searah-dialog.

Cara membaca peta ini yang jarang dilakukan adalah dengan bertanya modal apa yang dibutuhkan tiap pendekatan. Konten searah membutuhkan kemampuan produksi dan jangkauan. Dialog membutuhkan kepercayaan dan kehadiran. Pendekatan reaktif membutuhkan akses kepada orang yang sudah terpapar. Jarang ada satu lembaga yang memiliki semua modal itu sekaligus. Artinya, empat pendekatan itu bukan menu yang bisa dipilih satu aktor sesuka hati, melainkan empat pekerjaan yang secara alami menuntut peran berbeda.

Bayangkan sistem kesehatan. Tidak ada yang meminta ambulans melakukan operasi, atau apoteker menggantikan dokter bedah. Yang kita tuntut adalah sistem rujukan: pasien dijemput, diperiksa, dan diteruskan ke tempat yang tepat. Dalam P/CVE, kita punya cukup banyak “ambulans”, yaitu konten yang menjangkau banyak orang. Yang langka adalah “ruang periksa” dan jalur rujukan menuju ke sana.

Kelangkaan itu penting karena waktu tidak berpihak pada kita. Moghaddam (2005) menggambarkan radikalisasi sebagai tangga: semakin tinggi seseorang naik, semakin sempit pilihan yang ia rasakan. Rujukan yang terlambat berarti pekerjaan yang lebih berat bagi semua pihak, termasuk bagi remaja di adegan tadi. Pesan yang bagus tanpa peran yang tertata hanya memindahkan kekosongan dari layar ke kehidupan nyata.

Belajar dari Cara Cerita Dibagi

Gagasan transmedia menawarkan cara berpikir yang berguna di sini. Jenkins (2006) menjelaskan bahwa dalam transmedia storytelling, satu cerita dikembangkan melintasi banyak medium, dan setiap medium menyumbangkan bagian yang khas. Komik memberi latar, gim memberi pengalaman, film memberi puncak. Scolari (2009) menambahkan bahwa hasilnya adalah dunia naratif dengan banyak pintu masuk, bukan satu teks yang disalin ke banyak layar.

Bayangkan pencegahan ekstremisme sebagai dunia naratif semacam itu, dengan para aktornya sebagai “medium”. Media dan organisasi digital unggul dalam jangkauan. Komunitas, sekolah, dan tokoh lokal unggul dalam kepercayaan. Tenaga pendamping dan mereka yang berpengalaman dari dalam unggul dalam menemani orang yang sudah terlanjur jauh. Cerita menjadi utuh bukan karena semua orang mengerjakan segalanya, melainkan karena ada jalur yang menghubungkan satu bagian ke bagian lain.

Namun analogi ini punya batas, dan batasnya penting. Cerita transmedia dirancang oleh satu pencipta, padahal ekosistem P/CVE dihuni aktor yang mandiri dan tidak selalu setara. Bila negara menetapkan peran dari atas, komunitas dan organisasi masyarakat sipil berisiko dianggap kepanjangan tangan aparat, dan itu akan menghabiskan modal terbesar mereka, yaitu kepercayaan dari audiens yang skeptis. Ansell dan Gash (2008) menunjukkan bahwa kolaborasi yang berhasil bertumpu pada kepercayaan, dialog tatap muka, dan pemahaman bersama, bukan pada penugasan. Maka peran perlu dinegosiasikan, bukan dibagikan.

Ada keberatan yang wajar, bukankah tumpang-tindih itu baik? Ekosistem dengan banyak aktor yang mengerjakan hal serupa lebih tahan jika satu pihak gagal. Keberatan ini benar untuk produksi konten. Pesan yang datang dari banyak sumber memang memperkuat jangkauan. Tetapi tumpang-tindih tidak menolong di tempat yang paling kosong, yaitu ruang dialog dan pendampingan langsung, serta jalur yang menghubungkannya dengan konten daring. Yang perlu ditambal adalah kekosongan itu, bukan kepadatan di sisi produksi.

Kita juga perlu jujur pada batas argumen ini. Belum ada bukti empiris yang kuat bahwa berbagi peran meningkatkan efektivitas P/CVE. Ia adalah proposisi yang layak diuji. Justru karena itu ia perlu diterjemahkan menjadi langkah yang bisa dievaluasi:

  • peta peran antaraktor di tingkat daerah, agar jelas siapa mengerjakan apa dan di mana kosongnya;

  • protokol rujukan yang tertulis antara konten, komunitas, dan layanan pendampingan;

  • pendanaan yang menjaga otonomi organisasi masyarakat sipil;

  • evaluasi yang menilai ekosistem, bukan hanya jangkauan konten.

Langkah-langkah ini sejalan dengan semangat tata kelola inklusif: negara, media, dan warga berbagi tanggung jawab tanpa saling meniadakan.

Kembali ke remaja tadi. Komentarnya tidak membutuhkan video yang lebih indah. Ia membutuhkan seseorang yang membalas, dan sistem yang memastikan balasan itu datang dari orang yang tepat sebelum tangga yang ia naiki terlalu tinggi. Pesan yang bagus hanyalah awal; yang menyelamatkan adalah peran yang tertata.[]



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar