Baca tulisan sebelumnya: True Crime Community dan Fenomena Pelaku Kekerasan yang Dianggap “Relatable”
Pada tulisan sebelumnya, saya membahas fenomena True Crime Community (TCC) dan bagaimana sebagian anak muda dapat menemukan rasa “relatable” dalam kisah pelaku kekerasan. Bagaimana ruang digital dapat menjadi tempat berkembangnya identitas dan komunitas tertentu.
Namun, ada persoalan yang lebih luas dari itu. Kita hidup di tengah teknologi yang semakin mampu menyesuaikan dunia dengan masing-masing individu. Dan di sinilah saya mulai melihat persoalan yang lebih besar dari sekadar TCC, yaitu kesepian anak muda di tengah dunia yang semakin terhubung.
Dalam tulisannya tentang algorithmic governmentality, Liran Razinsky menggambarkan kondisi ini sebagai hyper-individuation : lingkungan informasi, layanan, dan rekomendasi semakin dipersonalisasi sehingga dunia digital terasa seperti dibuat khusus untuk setiap individu. Ia bahkan menggunakan gambaran “societies of one” untuk menjelaskan kemungkinan terbentuknya ruang pengalaman yang semakin terpusat pada diri kita sendiri (Razinsky, 2026).
Kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Tetapi kita bisa semakin terbiasa hidup dalam dunia yang terasa seperti milik kita sendiri.
Paradoks Hyper-Individuation
Dulu, bertemu orang yang berbeda mungkin merupakan bagian yang tidak bisa dihindari dari kehidupan sehari-hari. Teman sekolah dengan selera musik berbeda, atau mungkin tetangga yang tidak setuju dengan pendapat kita. Kita mungkin tidak menyukai mereka. Tetapi kita tetap berhadapan dengan mereka. Karena saat manusia hidup berdampingan pasti sesekali terjadi gesekan. Adanya perbedaan menjadi kesempatan untuk membuat kita sadar bahwa dunia tidak selalu bekerja sesuai dengan cara kita melihatnya.
Razinsky menyoroti perubahan hubungan kita dengan otherness, atau keberadaan “orang lain”. Menurutnya, personalisasi algoritma dapat menciptakan ilusi kehidupan yang semakin bebas dari orang lain dan gesekan dengan mereka. Padahal, dalam pandangannya, perjumpaan dengan otherness merupakan bagian penting dari perkembangan subjektivitas manusia.
Ini bukan berarti algoritma menghapus orang lain dari kehidupan kita. Justru sebaliknya. Algoritma bekerja menggunakan data dari banyak orang untuk memberikan sesuatu yang terasa sangat personal kepada kita. Orang lain tetap ada, tetapi kehadiran mereka diproses menjadi data, pola, kategori, dan rekomendasi (Razinsky, 2026).
Dengan kata lain, kita tidak kehilangan orang lain. Kita mungkin hanya semakin jarang menganggap keberadaan mereka sebagai “orang lain”. Dan ini menjadi lebih penting ketika kita masih remaja. Karena pada masa itu memiliki teman adalah hal penting. Begitu juga dengan penerimaan dan keinginan untuk memiliki ciri khas pada diri. Di masa inilah seseorang sedang mencoba membangun identitas sekaligus mencari tempat di antara orang lain. Karena itu, rasa loneliness atau kesepian pada remaja tidak sesederhana tidak memiliki teman.
Dari Hyper-Individuation ke Loneliness Epidemic
Penelitian terhadap 773 remaja Indonesia berusia 13–16 tahun menunjukkan bahwa loneliness merupakan kondisi subjektif: adanya jarak antara hubungan sosial yang diinginkan dengan hubungan sosial yang dirasakan. Seseorang dapat tetap berada di lingkungan sekolah, memiliki teman, dan berinteraksi dengan banyak orang, tetapi tetap merasa kesepian ketika hubungan tersebut tidak memenuhi kebutuhan sosialnya (Wiguna et al., 2026).
Penelitian yang sama menemukan hubungan antara penggunaan internet yang bermasalah, masalah emosional, dan loneliness (kesepian). Tetapi penelitian tersebut bersifat cross-sectional, sehingga tidak dapat membuktikan bahwa penggunaan internet menyebabkan kesepian. Hubungannya bisa jauh lebih kompleks daripada itu (Wiguna et al., 2026).
Dan menurut saya, justru kompleksitas tersebut yang perlu kita perhatikan. Bayangkan seorang remaja yang sedang mencari tempat di lingkungan sekolahnya. Ia mungkin tidak di-bully. Ia mungkin punya beberapa teman. Tetapi ia tetap merasa tidak dimengerti. Di dunia nyata, ia harus terus berhadapan dengan perbedaan yang tidak selalu nyaman. Kemudian di internet ia bisa dengan mudah menemukan orang-orang yang menyukai musik yang sama, humor yang sama, juga orang-orang yang memiliki pengalaman sosial yang serupa.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Personalisasi memang bisa membuat internet terasa lebih relevan dan menyenangkan. Tetapi semakin nyaman sebuah ruang terasa, semakin sedikit pula alasan untuk keluar darinya. Di sinilah konsep hyper-individuation menjadi menarik. Karena teknologi dapat menciptakan lingkungan yang semakin sedikit memberi kita pengalaman berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita pilih sendiri. Kita tetap bertemu dengan orang lain, tapi melalui ruang yang sudah disaring berdasarkan preferensi kita.
Tidak Semuanya Berakhir Dengan Kekerasan
Pembahasan ini juga tidak berarti bahwa personalisasi algoritma atau kesepian pasti akan membawa seseorang menuju ekstremisme. Literatur mengenai radikalisasi menunjukkan bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor pada tingkat individu, hubungan sosial, kelompok, hingga lingkungan yang lebih luas. Isolasi sosial, rendahnya dukungan sosial, kebutuhan psikologis, identitas, sikap terhadap kekerasan, dan berbagai faktor lainnya dapat saling berinteraksi. Tidak ada satu faktor yang secara otomatis menghasilkan kekerasan (Pandey & Behera, 2026).
Bahkan penelitian mengenai remaja dan radikalisasi menunjukkan bahwa identifikasi ideologis pada remaja dapat bersifat lebih kompleks dan tidak selalu mengikuti satu garis ideologi yang jelas (Miconi et al., 2026).
Artinya, tidak semua anak yang masuk ke komunitas “gelap” akan menjadi pelaku kekerasan. Mungkin selama ini kita terlalu fokus dalam mewaspadai apakah anak ini akan melakukan kekerasan? Tapi menurut saya, ada hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu bagaimana jadinya ketika seorang anak semakin merasa bahwa dunia nyata tidak memiliki tempat untuknya? Karena sekalipun ia tidak pernah melakukan kekerasan, hidup dalam kesepian yang semakin dalam tetap menjadi persoalan. Itulah mengapa pembicaraan tentang loneliness epidemic perlu diperluas.
Memang mungkin tidak semua anak muda sedang mengalami loneliness epidemic ini. Tetapi kita sudah memiliki alasan untuk memperhatikan hubungan antara kesepian, masalah emosional, penggunaan internet yang bermasalah, dan kualitas hubungan sosial pada remaja Indonesia. Juga tentang bagaimana personalisasi algoritma mengubah hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Karena kalau benar dunia digital semakin mampu membangun ruang yang terasa sangat personal bagi setiap individu, kita perlu memastikan bahwa anak-anak kita tetap memiliki kesempatan untuk mengalami sesuatu yang tidak bisa diberikan algoritma, yaitu perjumpaan dengan manusia lain yang berbeda dari dirinya.
Mungkin, persoalannya bukan tentang kemampuan kita dalam menjauhkan anak dari internet, tetapi seberapa kuat kita membekali mereka untuk hidup di dalamnya. Sebab sebelum mengajarkan mereka mengenali ekstremisme di tengah dunia yang semakin dibentuk oleh algoritma, kita perlu memastikan bahwa mereka masih memiliki tempat untuk pulang, hubungan yang nyata, ruang untuk memahami dunia, dan rasa bahwa mereka berharga di dalamnya.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar