Densus 88: Pendekatan Humanis Dikedepankan, Teroris yang Ditangkap 5 Tahun Terakhir Turun Drastis

News

by Eka Setiawan Editor by Redaksi

SEMARANG – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengubah strategi dalam penanganan terorisme. Pendekatan humanis kini dikedepankan, walaupun hard approach alias penegakan hukum tetap dilakukan tapi jumlahnya terus menurun dari tahun ke tahun.

Hal itu diungkapkan perwakilan Direktorat Pencegahan Densus 88 AKBP Goentoro Wisnoe saat kegiatan Pemantapan Ideologi Pancasila Pondok Pesantren se-Kota Semarang, di Ponpes Baitussalam, Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Rabu (12/2/2025).

“Dua tahun terakhir, zero attack (tidak ada serangan teror), karena pencegahannya masif juga dari Densus 88 dan stakeholder terkait, terakhir bom di Astanaanyar (tahun 2022), itu dari Solo, pelakunya bukan orang Solo, beraksi di Bandung,” kata Wisnoe di depan ratusan peserta yang didominasi para pengajar ponpes itu.

Dia memaparkan data terkait terorisme di Indonesia 5 tahun terakhir. Konteks serangan teror; pada tahun 2019 ada 9 kejadian, 2020 ada 13 kejadian, tahun 2021 ada 6 kejadian, tahun 2022 ada 4 kejadian, sementara tahun 2023 dan 2024 nihil alias tidak ada kejadian.

Pada konteks penegakan hukum penangkapan, di tahun 2019 ada 320 teroris ditangkap, tahun 2020 ada 232 teroris ditangkap, tahun 2021 ada 370 teroris ditangkap, tahun 2022 ada 248 teroris ditangkap, tahun 2023 ada 147 teroris ditangkap dan sepanjang tahun 2024 ada 55 teroris ditangkap.

Sementara pencegahannya di tahun 2019 dilakukan 150 kali kegiatan, tahun 2020 ada 193 kegiatan, tahun 2021 ada 134 kegiatan, tahun 2022 ada 1.536 kegiatan, tahun 2023 meningkat tajam 16.582 kegiatan pencegahan dan tahun 2024 ada 19.416 kegiatan pencegahan.

“Di Indonesia, Densus melakukan penegakan hukum, hingga sidang dilakukan secara terbuka untuk umum. Ini beda sekali di luar negeri, di sana strateginya war of terror, di sana akan dilabeli teroris seumur hidup, makanya banyak sekali di luar negeri itu senang tinggal di Indonesia, karena penanganannya beda, dengan pendekatan,” jelas Wisnoe.

“Kalau di luar (negeri) sudah label teroris, langsung ditangkap dipenjara tanpa sidang. Polisi-polisi luar negeri itu bingung dengan kita, Densus 88 bisa berdampingan dengan mantan narapidana terorisme, makanya pada Juni 2024 itu ada (deklarasi awal) pembubaran Jamaah Islamiyah, artinya pendekatan berhasil,” bebernya.

Meski demikian, Wisnoe menyoroti juga tentang adanya intoleransi yang masih ada di Indonesia. Pihaknya, sebut Wisnoe mencatat sepanjang tahun 2024 ada 6 kejadian intoleran.


“Intoleran ini yang berat, Densus tidak bisa atasi karena belum ada Undang-Undang yang mengatur, itu ranahnya Kesbangpol,” sambung Wisnoe sembari mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan menyelesaikan persoalan seperti itu.

Densus, sebut Wisnoe, juga mengajak semuanya untuk memperkuat wawasan kebangsaan untuk pencegahan intoleransi, radikalisme dan terorisme (iret). Termasuk sasarannya pondok-pondok pesantren, khususnya ponpes yang pernah terafiliasi dengan kelompok JI. Pihaknya berterimakasih kepada Ponpes Baitussalam yang mau bersinergi dengan Densus untuk pencegahan-pencegahan itu.

Pada kegiatan itu, hadir pula Kepala Kemenag Kota Semarang Muhtasit, Plt, Kepala Kesbangpol Kota Semarang Joko Hartono, Kepala Satuan Binmas Polrestabes Semarang AKBP Ana Maria Retnowati, Pasi Intel Kodim Semarang Kapten Jamal, Sekretaris Yayasan Persadani Hadi Masykur dan Pembina Yayasan Baitussalam Semarang Musthofa.

Kepala Kemenag Kota Semarang Muhtasit saat mengisi materi menyebut ponpes adalah lembaga paling tua yang ada di Indonesia.

“Kalau masih ada pesantren yang tidak mau hormat bendera merah putih, ayo kita rangkul, diajak ngopi (ngobrol),” kata dia.

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari, sekira 6 jam itu, ditutup dengan deklarasi setia kepada Pancasila, menolak keras masuknya paham Intoleran, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme. (Eka Setiawan)



Foto: Eka Setiawan
Kegiatan Pemantapan Ideologi Pancasila Pondok Pesantren se-Kota Semarang, di Ponpes Baitussalam, Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Rabu (12/2/2025).

Komentar

Tulis Komentar