Di sebuah ruangan sederhana di Lapas Kelas I Semarang, Selasa (30/9/2025), empat narapidana terorisme duduk melingkar. Bukan untuk membicarakan ideologi atau strategi, tapi tentang sesuatu yang lebih mendasar: mengenal diri sendiri.
Program deradikalisasi yang digelar BNPT bersama Lapas Kedungpane itu menghadirkan Abdul Aziz dari Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor). Ia tidak banyak bicara tentang teori, melainkan mengajak para napiter menengok ke dalam hati.
“Mengenal diri sendiri adalah kunci membangun pribadi yang sehat dan bahagia,” kata Aziz. Menurutnya, konsep diri yang positif akan membentuk harga diri yang kuat, membuat seseorang bisa menilai dirinya dengan lebih tepat.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi mereka yang hidup di balik jeruji, kata-kata itu menjadi cermin.
Suara dari Balik Tembok
Salah satu napiter, E, bercerita dengan suara pelan. Ia mengaku, dulu di luar penjara, dirinya merasa bisa menyelesaikan segala persoalan. Namun kenyataannya berbeda ketika berada di dalam.
“Di sini saya jadi lebih mengenali diri sendiri. Ternyata memang kita harus kembali ke diri sendiri,” ujarnya.
Ungkapan itu menunjukkan bahwa penjara bukan hanya ruang menebus kesalahan, tetapi juga ruang menemukan makna baru.
Ada juga AR, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI). Ia kini menjalani hukuman keduanya. Sosok yang dulu dikenal keras dengan ideologi, kini ikut duduk diam, mendengarkan, mencoba memahami pesan sederhana tentang arti hidup damai.

4 orang napiter mengikuti bimbingan psikologis yang merupakan salah satu program deradikalisasi di Lapas Kelas 1 Semarang, Selasa (30/9/2025).[Dok. Lapas Kelas I Semarang]
Dari Radikal ke Refleksi
Deradikalisasi di Lapas Semarang tidak hanya mengutak-atik cara berpikir, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Kepala Lapas, Fonika Affandi, menyebut pendekatan yang dipakai meliputi keagamaan, psikologis, dan sosial-kultural.
“Deradikalisasi bukan hanya mengubah pikiran, tapi juga mengembalikan keyakinan bahwa hidup damai dan toleran adalah jalan terbaik,” katanya.
Proses itu tentu tidak instan. Ia lebih mirip sebuah perjalanan panjang, dengan banyak rintangan, tapi juga peluang untuk berubah.
Jalan Pulang ke Kemanusiaan
Bagi sebagian orang, narapidana terorisme mungkin dianggap tidak layak mendapat kesempatan kedua. Namun program ini justru mengingatkan kita bahwa setiap orang masih punya ruang untuk memperbaiki diri.
Di ruang kecil di Kedungpane itu, napiter belajar kembali menjadi manusia yang utuh—bukan hanya label “teroris” atau “narapidana.” Mereka belajar mengenal dirinya, menerima kekurangan, dan menata arah baru.
Mungkin perjalanan masih panjang. Tapi percikan-percikan kecil dari kegiatan seperti ini bisa menjadi bekal penting. Bahwa bahkan di balik jeruji, orang bisa menemukan harapan, dan suatu hari nanti, pulang ke tengah masyarakat dengan wajah yang berbeda: lebih damai, lebih manusiawi.
Foto utama: Kegiatan deradikalisasi napiter di Lapas Kelas I Semarang, Selasa (30/9/2025).[Dok. Lapas Kelas I Semarang]
Komentar