Donat, Isyarat, dan Mata Yang Tak Bisa Melihat: Mengajarkan Empati Sejak Usia Dini

News

by Noor Huda Ismail Editor by REDAKSI

Matahari pagi masih malu-malu menyembul dari balik awan, menyisakan tanah basah yang berkilauan setelah hujan. Di bawah naungan pohon rindang di dusun kecil Betakan, anak-anak berkumpul di halaman terbuka yang dihias sederhana. Meja-meja kecil berjejer, di atasnya tertata donat polos, sejumlah wadah berisi meses warna-warni, dan glaze aneka rasa. Hari itu, kegiatan Literasi Desa Tumbuh (LDT) mengusung tema baru: “Jual Beli Donat Humanis.”

Setelah perkenalan singkat, sesi pertama kegiatan pun dimulai. Anak-anak diminta menghias donat masing-masing. Bekerja penuh semangat, tangan-tangan mungil mereka bergerak cekatan menabur meses atau menggambar pola dengan glaze cokelat. Namun, ada kejutan kecil yang mereka belum tahu. Donat yang telah mereka hias dengan susah payah itu tidak akan mereka makan sendiri.

"Donat kalian akan ditukar secara acak," kata Ailula Mufidatus Solihah, salah satu fasilitator LDT yang biasa dipanggil Mbak Lala, dengan senyum ramah. Sontak terdengar protes kecil dari beberapa anak yang keberatan dengan ketentuan itu.

"Tapi ini donatku, sudah susah-susah aku buat, aku ingin memakannya!" seru seorang anak dengan nada kecewa.

Evila Ramadhanti, fasilitator lainnya, mahasiswa S2 UNY asal Pekalongan, menjelaskan dengan lembut, "Kegiatan ini mengajarkan kita untuk berbagi. Kadang, apa yang kita buat dengan sepenuh hati bisa menjadi kebahagiaan untuk orang lain.”

Raut wajah anak-anak perlahan berubah. Meski belum sepenuhnya paham, mereka menyerahkan donat hiasan mereka ke keranjang bersama, dan mengikuti kegiatan tahap berikutnya dengan rasa penasaran.

Simulasi yang Menggugah 

Pada sesi kedua, anak-anak dibagi menjadi dua kelompok: pembeli dan penjual. Kelompok pembeli mendapat peran dengan tantangan memerankan kondisi penyandang disabilitas. Ada yang hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, ada yang harus berjalan dengan satu kaki, dan ada pula yang matanya ditutup rapat memainkan peran penyandang tuna netra.

Bagaimana rasanya tidak bisa melihat? (Dok. Yayasan Literasi Desa Tumbuh)

Tantangan pun dimulai. Seorang pembeli dengan mata tertutup meraba-raba meja, suaranya terdengar lirih memanggil penjual. Seorang pembeli lain menggunakan gestur tangan, mencoba menjelaskan apa yang diinginkan menggunakan bahasa isyarat. Di sisi lain, kelompok penjual tampak kebingungan tetapi tetap berusaha melayani sebaik mungkin.

"Ini... ini harga donatnya," ujar seorang penjual, sambil hati-hati membantu pembeli berkaki satu menyeimbangkan diri. Tawa kecil kadang terdengar, tetapi tidak ada yang bernada mengejek. Yang ada hanyalah kebingungan bercampur rasa ingin tahu. 

Simulasi “Jual Beli Donat Humanis” ini dirancang bukan sekadar sebagai permainan, tetapi ditujukan untuk mengajarkan anak-anak memahami perspektif para penyandang disabilitas. Selain itu, praktik ini juga menanamkan kesadaran akan pentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif, yang mampu mengakomodasi ragam kebutuhan yang berbeda-beda dari para anggotanya.

Refleksi yang Mendalam

Tibalah kegiatan tahap akhir, saat semua anak duduk melingkar dan satu persatu diminta menceritakan pengalaman masing-masing.

Seorang anak yang berperan sebagai pembeli dengan bahasa isyarat mengangkat tangan. "Sulit sekali menjelaskan apa yang aku mau. Aku merasa frustrasi."

"Aku bingung menghadapi pembeli yang tak bisa bicara, tapi aku jadi belajar lebih sabar." (Dok. Yayasan Literasi Desa Tumbuh)

Anak lain, yang harus berjalan dengan satu kaki, menimpali, "Aku capek sekali. Rasanya ingin menyerah tadi."

Di sisi penjual, seorang anak berkata, "Aku juga bingung menghadapi pembeli yang tidak bicara. Tapi aku jadi belajar untuk lebih sabar."

Nadila Nurfariza Tahir, fasilitator asal Gorontalo yang juga mahasiswa S2 di UNY, tersenyum mendengar cerita mereka. Ia kemudian bertanya, "Bagaimana rasanya menjadi orang yang punya kesulitan dan berbeda dari biasanya?"

Seorang anak menjawab lirih, "Aku jadi tahu rasanya tidak bisa bicara atau melihat. Susah sekali. Aku jadi kasihan."

Nadila melanjutkan, "Ada banyak orang di dunia ini yang hidup dengan tantangan seperti yang kalian alami tadi. Tugas kita adalah memahami dan membantu mereka, karena kita semua sama-sama manusia."

Penanaman Nilai-Nilai GEDSI

Simulasi yang dilakukan anak-anak di Literasi Desa Tumbuh itu mengintegrasikan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami dan memahami bagaimana rasanya hidup dengan tantangan yang berbeda. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya belajar empati, tetapi juga pentingnya memperjuangkan kesetaraan dan inklusi di tengah masyarakat.

Jelas kegiatan hari itu bukan hanya tentang donat atau simulasi jual beli. Ia adalah pengalaman nyata yang mengajarkan nilai-nilai humanisme, kesetaraan gender, dan inklusi sosial secara langsung. Anak-anak belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan kepedulian terhadap kelompok yang terpinggirkan adalah langkah awal menciptakan masyarakat yang adil dan setara.

Para fasilitator, yang juga mahasiswa, mempraktikkan teori pendidikan yang mereka terima dari kuliah – misalnya perkembangan psikososial Erikson dan interaksi sosial Piaget-Vygotsky. Mereka juga menerapkan konsep pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) untuk menyampaikan pesan-pesan inklusif. Kolaborasi antara Yayasan Literasi Desa Tumbuh, warga dusun, dan dunia akademis menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan berbasis komunitas mampu menciptakan perubahan.

Anak-anak pulang dengan hati yang lebih lembut, membawa pelajaran berharga tentang empati, kesetaraan, dan kepedulian. Yayasan Literasi Desa Tumbuh pun berhasil menanamkan benih kecil yang suatu hari mungkin berkembang menjadi pohon besar, memberikan naungan bagi dunia yang lebih inklusif dan manusiawi. [ ]

Komentar

Tulis Komentar