Selama dua pekan di akhir Februari hingga awal Maret 2023, saya berkeliling ke tiga wilayah di Lampung—Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, dan Kota Metro. Ketiganya merupakan basis lama kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Dari seluruh anggota JI yang terdata di wilayah ini, saat itu sekitar 50 persen telah menjalani proses islah, suatu langkah yang tak mudah namun membuka jalan menuju reintegrasi ke masyarakat.
Tujuan saya sederhana: memahami lebih dalam dinamika para mantan anggota JI ini, bukan dari kejauhan, tetapi dari dekat. Dari rumah ke rumah. Dari obrolan santai, makan bersama, hingga sesi-sesi diskusi panjang tentang hidup, iman, dan arah baru yang mereka pilih.
Namun ada satu temuan yang benar-benar mengejutkan saya: peran istri dalam proses islah ternyata jauh lebih penting dari yang selama ini dibayangkan.
Selama ini, perbincangan seputar deradikalisasi dan islah lebih banyak berkutat pada aspek teknis: strategi persuasi, intervensi hukum, dan pendekatan aparat. Namun lapangan bercerita lain. Proses islah justru banyak digerakkan oleh kekuatan-kekuatan yang tak terlihat: para istri.
Semua bermula dari adanya anggota JI yang memutuskan keluar dan menyerahkan diri. Cerita keberanian mereka menyebar, dibawa oleh tim Identifikasi dan Sosialisasi (Idensos) Satgaswil Densus 88/Antiteror Lampung. Di ruang besukan tahanan, mereka menyampaikan kisah itu dengan pendekatan simpatik—makan bersama, ngobrol ringan, sambil membuka pintu harapan.
Para tersangka merespons positif. “Seandainya dari dulu ada jalan islah ini, mungkin kami tidak ditangkap,” kata salah satu dari mereka dalam sebuah percakapan. Harapan itu mereka sampaikan saat diberi kesempatan video call dengan keluarga. Kepada istrinya masing-masing, mereka menceritakan tentang peluang islah, dan menitip pesan: sampaikan ini ke teman-teman kita.
Di sinilah titik baliknya. Para istri yang semula hanya menjalankan peran domestik, kini mengambil peran baru: penyambung informasi, penyambung harapan.
Hubungan baik antara tim Idensos dan keluarga para tersangka turut memperkuat kepercayaan. Kunjungan rutin, bantuan logistik, dan sikap ramah dari aparat memberi sinyal bahwa negara tidak datang untuk menindas, melainkan untuk merangkul. Itu cukup bagi para istri untuk berkata, “Mungkin ini waktunya kita ajak suami-suami kita keluar dari jalan lama.”
Dengan pendekatan khas ibu-ibu—halus, penuh perasaan, dan kadang dramatis—mereka mendatangi istri-istri anggota JI lainnya. Membisikkan peluang. Mengingatkan risiko. Dan menyampaikan bahwa pemerintah membuka pintu untuk kembali.
Responnya beragam. Ada yang langsung menyambut. Ada yang bertanya-tanya. Ada juga yang menolak karena merasa dirinya “tidak terlalu aktif” dalam jaringan. Tapi yang jelas, gelombang perubahan itu telah dimulai, bukan oleh komando dari atas, tapi oleh bisikan lembut di ruang-ruang dapur dan teras rumah.
Kultur Unik JI
JI sendiri tidak memiliki sistem keanggotaan formal untuk perempuan. Tidak ada baiat, tidak ada struktur multazim bagi perempuan. Peran mereka terbatas pada pendidikan dan urusan rumah tangga. Namun justru dari ruang domestik itulah lahir kekuatan sunyi: perempuan yang merasa tak berdaya, tapi memilih untuk berdaya.
The power of powerless—begitu saya menyebutnya. Mereka tidak mengangkat senjata, tidak berdiri di podium, tidak pula membacakan deklarasi. Tapi justru dari ketidakterlibatan struktural itulah mereka punya ruang untuk bergerak secara moral dan emosional. Mereka tahu: kalau bukan mereka yang bicara, siapa lagi yang bisa mengingatkan suaminya?
Apalagi di kalangan JI, banyak pernikahan terjadi di antara sesama anggota atau keluarga dekat. Ini menciptakan jaringan perempuan yang saling terkait sebagai sepupu, ipar, atau keponakan. Maka informasi tentang peluang islah pun cepat menyebar, mengalir dari satu dapur ke dapur lain, dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya.
Saya percaya, kita tidak bisa memahami proses islah hanya dari dokumen dan statistik. Kita harus mendengar cerita, melihat air mata, dan merasakan keresahan yang menyelimuti para istri, para anak, dan para keluarga lainnya.
Perjalanan menuju reintegrasi masih panjang. Tidak semua orang menerima mereka kembali. Tidak semua luka sembuh dalam waktu cepat. Tapi setidaknya, kita tahu satu hal: di balik keputusan besar seorang mantan teroris atau mantan pengikut kelompok teror untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi, sering kali ada perempuan yang dengan diam-diam mendorongnya ke arah itu.
Dan bagi saya, itu adalah salah kisah paling kuat yang saya temukan selama menjadi pegiat reintegrasi sosial.
Foto: Diskusi bersama para eks JI di salah satu rumah tokoh eks JI Pesawaran Lampung, Februari 2023.(Dok. Arif Budi Setyawan)
Komentar