Baca juga: Bullying di Sekolah: Benih Radikalisme Sosial yang Gagal Disembuhkan
Beda itu Bahaya!
September 2024, seorang siswi SMP di Sukabumi memilih mengakhiri hidupnya setelah mengalami perundungan berkepanjangan. Beberapa hari lalu, Jakarta dikejutkan dengan ledakan di SMA 72 yang menurut sejumlah sumber merupakan hasil dari dendam seorang siswa yang juga menjadi korban bullying. Dua tragedi, satu pola, “seseorang dianggap berbeda, lalu diperlakukan seolah keberadaannya adalah ancaman yang harus disingkirkan.”
Ribuan kilometer jauhnya, di ruang digital media sosial Indonesia, berlangsung fenomena serupa. Ketika Zohran Mamdani memenangkan pemilihan walikota New York, respons publik Indonesia bukan pada pencapaiannya, melainkan pada labelnya, “Syiah”, “pro-LGBTQ”. Padahal orang ini juga punya identitas lain seperti “muslim”, “pro-Palestina”, atau bahkan “manusia”. Seseorang yang bahkan tidak pernah menjabat di Indonesia langsung menjadi target penghakiman massal dari massa online di beda benua.
Dari koridor sekolah hingga timeline media sosial, dari kekerasan fisik hingga kekerasan simbolik, kita sedang menyaksikan spektrum dari satu obsesi yang sama. Ketidakmampuan kita menerima perbedaan! Pertanyaannya, kenapa sih kita lebih cenderung meng-highlight sesuatu yang beda daripada yang sama? Seolah beda itu pasti bahaya.
Otak yang Terpenjara dalam Kategorisasi
Untuk memahami mengapa perbedaan begitu mengusik kita, kita perlu melihat bagaimana otak kita bekerja. Dalam otak manusia terdapat bagian yang disebut amygdala yang berfungsi sebagai danger detector. Nenek moyang kita bertahan hidup dengan kemampuan membedakan “siapa kita” dari “siapa mereka” dalam hitungan detik. Mereka juga survive dengan kemampuan membedakan teman atau lawan, kondisi aman atau berbahaya. Masalahnya, kita tidak lagi hidup di hutan belantara, tapi bawaan otak kita masih yang masih sama. Kita masih secara otomatis mencari pola, membuat kategori, dan merasa nyaman dengan yang familiar. Perbedaan memicu alarm, bukan karena perbedaan itu memang berbahaya, tapi karena otak kita dibentuk untuk waspada terhadap yang tidak dikenal.
Inilah yang disebut tribal thinking, dimana kita kecenderungan untuk membentuk kategori berdasarkan kesamaan dan melihat yang beda sebagai ancaman potensial. Dalam konteks modern, “tribe” tidak lagi soal suku atau klan, tapi bisa apapun seperti agama, mazhab, orientasi seksual, bahkan selera musik atau gaya berpakaian. Yang berbahaya adalah ketika tribal thinking ini tidak disadari dan tidak dikritisi. Ia beroperasi di bawah radar kesadaran, membuat kita yakin bahwa respons kita terhadap yang berbeda adalah rasional, padahal sebenarnya emosional dan instingtif.
Bullying: Kekerasan atas Nama Konformitas
Di ruang kelas atau di lingkup pergaulan masyarakat, tribal thinking menjelma menjadi bullying. Mekanismenya sederhana namun brutal. Kelompok mayoritas menetapkan standar “normal”, dan siapapun yang menyimpang menjadi target. Korban bullying bisa siapa saja, misalnya yang terlalu pendiam, terlalu berisik, terlalu pintar, terlalu bodoh, terlalu kaya, terlalu miskin, hidungnya beda, alisnya tak sama, warna kulit juga “kok gitu?”. Perbedaannya seringkali sepele, bahkan artifisial. Tapi dalam logika tribal thinking, perbedaan sekecil apapun bisa dijadikan justifikasi untuk eksklusi. Yang membuat bullying bertahan adalah adanya rewards sosial bagi pelaku dari “tribe”nya. Dengan mengeksklusi yang berbeda, pelaku mendapat validasi dari kelompoknya. Mereka menegaskan identitas kelompok dengan cara paling primitif dengan mendefinisikan diri melalui apa saja yang bukan mereka. “Kita tidak seperti dia” jadi lem yang merekatkan kohesi internal.
Korban bullying di Sukabumi dan SMA 72 bukan sekadar individu yang kebetulan menjadi sasaran. Mereka adalah korban sistemik dari obsesi kolektif terhadap konformitas, misalnya sistem pendidikan di masyarakat yang gagal mengintervensi, kultur yang menormalisasi hierarki, dan masyarakat yang melihat bullying sebagai “bagian dari tumbuh dewasa yang tak terelakkan.”
Cancel Culture: Tribal Thinking di Era Digital
Di ruang digital, cancel culture (fenomena di mana seseorang atau sekelompok orang secara massal mengecam dan memboikot individu tertentu) tampak seperti fenomena baru. Tapi jika kita telisik lebih dalam, ini hanyalah bullying dengan platform atau media yang berbeda, meskipun mekanismenya identik. Seseorang dianggap “agak laen” dari nilai mayoritas, lalu dimobilisasi serangan massal untuk “menghukum” penyimpangan itu. Bedanya, jika bullying terbatas pada ruang fisik, cancel culture punya jangkauan global dan permanen. Jejak digitalnya tidak pernah benar-benar hilang.
Kasus Zohran Mamdani adalah contoh sempurna. Seorang politisi di New York yang sedang viral pasca kemenangannya dalam pemilihan Walikota New York, dan tindakannya tidak akan pernah mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga Indonesia, tiba-tiba dimusuhhi oleh sebagian masyarakat netizen indonesia . Bukan karena dia melakukan kesalahan konkret terhadap Indonesia, tapi karena identitasnya tidak matching dengan kategori yang dianggap sesuai oleh sebagian netizen. “Syiah” dan “pro-LGBTQ” langsung menjadi stigma yang menutup semua kemungkinan dialog. Dalam tribal thinking, nuansa adalah musuh. Yang dibutuhkan adalah kategorisasi yang jelas: hitam atau putih, benar atau salah, kita atau mereka. Dan yang menarik adalah jarak. New York jauh dari Indonesia. Kebijakan Mamdani tidak akan menyentuh kehidupan nyata mereka yang mengecam. Tapi justru jarak inilah yang membuat cancel culture jadi menarik secara psikologis. Ini adalah virtue signaling (pamer validasi) tanpa risiko. Mudah menghakimi dari jauh, mudah berteriak di media sosial, tanpa perlu berurusan dengan kompleksitas dan konsekuensi nyata seperti hukum. Cancel culture memberikan ilusi kontrol dan superioritas moral dengan biaya yang sangat rendah.
Perbedaan sebagai Ancaman: Politik Identitas yang Salah Arah
Dalam struktur sosial dan politik, perbedaan sering dimanfaatkan sebagai alat kontrol. Lebih mudah memobilisasi massa dengan narasi “kita vs mereka” daripada “kita semua sama”. Ini adalah warisan era kolonial divide and rule untuk menjaga orang tetap fokus pada apa yang memisahkan mereka (agama, suku, mazhab, orientasi seksual) agar mereka tidak menyadari kesamaan yang lebih fundamental, yang sama-sama dibutuhkan semimisal pendidikan dan kesehatan yang layak, sama-sama ingin hidup dengan aman dan bermartabat. Ketika publik sibuk mempersoalkan apakah Mamdani Syiah atau bukan, mereka lupa untuk mempersoalkan hal yang lebih mendasar seperti apakah sistem pendidikan kita cukup baik untuk mencegah bullying? Atau apakah kita punya mekanisme yang efektif untuk menangani kesehatan mental remaja?
Ironi terbesar dari obsesi pada perbedaan adalah kita semua memiliki identitas yang multipel dan sering bertentangan. Seorang perempuan Jawa Muslim yang juga ibu, dokter, pecinta jazz, dan pendukung hak asasi manusia, identitas mana yang paling penting? Jawabannya, tergantung konteksnya. Kita semua hybrid, kompleks,dan kontekstual. Tidak ada yang bisa direduksi menjadi satu label. Tapi tribal thinking menolak kompleksitas ini dan memaksa kita ke dalam kotak kategori yang kaku, hitam-putih, ya-tidak, sama-beda. Padahal, hidup tidak selalu bisa dijawab dengan piihan ganda.
Ketika Kesamaan Menjadi Tidak Menarik
Mengapa perbedaan selalu lebih menarik daripada kesamaan? Secara psikologis, kesamaan tidak memicu respons emosional yang kuat. Kesamaan adalah default, normal, membosankan. Perbedaan adalah anomali, dan anomali menarik perhatian. Dalam ekonomi perhatian media sosial, perbedaan adalah komoditas. Konten yang memicu kemarahan, ketakutan, atau superioritas moral mendapat engagement lebih tinggi daripada konten yang menenangkan atau menyatukan. Algoritma media sosial tidak dirancang untuk mempromosikan empati. Ia hanya dirancang untuk memaksimalkan waktu screen dan interaksi. Maka terciptalah ekosistem di mana mencari perbedaan, menghakimi yang beda, dan memobilisasi serangan terhadap yang lain bukan hanya mudah, tapi juga berhadiah. Anda mendapat validasi dari kelompok, mendapat suplemen dopamin dari likes dan repost, dan merasa telah berkontribusi pada kebaikan tanpa harus melakukan pekerjaan keras untuk benar-benar memahami atau mengubah sesuatu.
Pertanyaan yang Menggantung
Di akhir, kita kembali pada pertanyaan awal, mengapa yang selalu di-highlight adalah perbedaan?
Mungkin karena perbedaan lebih mudah dilihat. Mungkin karena perbedaan memberikan ilusi bahwa dunia ini simpel dan teratur. Mungkin karena dengan fokus pada perbedaan, kita tidak perlu menghadapi kesamaan yang lebih fundamental dan lebih tidak nyaman, bahwa kita semua rapuh, semua takut, semua butuh diterima, dan semua bisa menjadi pelaku sekaligus korban kekerasan.
Korban bullying di Sukabumi dan SMA 72 adalah manusia dengan mimpi, ketakutan, dan kompleksitas yang sama dengan kita. Zohran Mamdani adalah manusia dengan identitas multipel yang tidak bisa direduksi hanya menjadi dua label. Mereka semua, seperti kita, lahir dengan beragam identitas. Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menghapus perbedaan karena itu mustahil. Pertanyaannya adalah, bisakah kita belajar untuk tidak lagi takut pada perbedaan? Bisakah kita melihat kompleksitas bukan sebagai ancaman, tapi sebagai fakta kehidupan yang memperkaya?
Sampai kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan tindakan nyata, spektrum kekerasan dari bullying hingga cancel culture akan terus berulang. Dan akan ada lebih banyak korban yang seharusnya tidak perlu ada.[]
Daftar Pustaka:
Greene, J. (2013). Moral Tribes: Emotion, Reason, and the Gap Between Us and Them. New York: Penguin Press.
LeDoux, J. (1996). The Emotional Brain: The Mysterious Underpinnings of Emotional Life. New York: Simon & Schuster.
Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Oxford: Blackwell Publishing.
Ilustrasi: By AI (Gemini)
Komentar