Dari balik akun Telegram berfoto random, rutin tersebar potongan-potongan video konflik. Di TikTok, banyak bermunculan cuplikan perang diselingi lantunan kalimat religius dan narasi “hayya ‘alaa al-Jihaad”. Komentar-komentar yang berdatangan penuh semangat dan kemarahan. Di ruang-ruang seperti itulah buzzer teroris bekerja— halus, lembut, konsisten. Seperti saat terjadi krisis di Suriah yang disusul dengan kemunculan ISIS. Terorisme tidak lagi hanya datang dari kamp pelatihan di hutan, di tengah gurun pasir, atau ceramah-ceramah membara di masjid terpencil. Ia menyusup dari dalam ponsel lewat konten, lewat algoritma, lewat cara kerja yang dingin namun sangat efisien.
Di zaman ketika atensi manusia ditentukan oleh 15 – 60 detik video editan para clipper dan satu swipe ke atas, penyebaran ajaran kebencian dan kekerasan mengalami revolusi besar. Ironisnya, revolusi itu terjadi di platform yang awalnya dibuat untuk hiburan, belajar, dan koneksi sosial.
Dunia Digital Lahan Subur Radikalisasi Baru
Kelompok ekstremis beradaptasi dengan sangat baik ke dalam ekosistem digital. Mereka memahami satu hal penting bahwa di era informasi, persepsi adalah medan perang, dan narasi adalah senjatanya. Maka mereka tidak lagi menyebar ideologi lewat buku-buku tebal atau ceramah panjang. Mereka menyebar video-video pendek, meme, infografik, potongan ayat yang lepas konteks, dan berbagai retorika emosional. Konten-konten itu bekerja dalam pola yang sangat persuasif. Dimulai dari emosi dasar seperti kemarahan, ketidakadilan, atau kesedihan, lalu diarahkan ke jawaban-jawaban semu, siapa yang harus disalahkan, siapa yang harus diperangi, dan apa yang harus dikorbankan.
Dalam teori uses and gratifications, manusia menggunakan media bukan hanya untuk mendapatkan informasi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan psikologis seperti mencari makna, identitas, dan pelarian dari realitas. Elihu Katz dkk, dalam The Uses of Mass Communications: Current Perspectives on Gratifications Research menulis bahwa “the audience is conceived as active, and media use is seen as goal-directed” — artinya, audiens dipandang aktif, dan penggunaan media adalah tindakan yang diarahkan oleh tujuan tertentu.
Di sinilah letak kekuatan konten radikal yang menawarkan rasa menjadi bagian dari perjuangan, terutama bagi anak muda yang sedang kehilangan arah, merasa tak berarti, atau terpinggirkan dari lingkungan sosialnya. Ironisnya, banyak dari mereka yang terpapar ajaran kekerasan bukan karena sedang mencari ideologi, tapi hanya karena iseng menonton konten bertema agama, konflik, atau konspirasi.
Sekali mereka menonton, algoritma pun bekerja. Tanpa sadar, mereka mulai masuk ke dalam ruang gema yang menyesatkan — di mana konten serupa terus berdatangan, dan dunia yang mereka lihat pun perlahan berubah menjadi medan perang dalam pikiran.
Algoritma Sang Penentu Kemarahan Kita
Algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna betah. Ia menyajikan konten berdasarkan apa yang kita klik, tonton, atau bagikan. Maka jika seseorang tertarik pada video tentang konflik Palestina, misalnya, dalam beberapa hari feed-nya akan dipenuhi video lain bertema serupa — tentang korban kekerasan, pembantaian, penindasan. Lalu masuk narasi tentang musuh, pengkhianat, konspirasi, lalu muncul konten dengan pesan kekerasan terselubung, “Inilah saatnya membalas.”
Itu semua kemudian menjadi bentuk baru agenda setting. Dulu, media menentukan isu apa yang penting melalui pemberitaan. Kini algoritma mengambil alih peran itu. Algoritma menentukan isu apa yang layak kita pikirkan hari ini, termasuk apa dan siapa yang harus kita marahi. Seperti yang dikatakan McCombs dan Shaw dalam The Agenda-Setting Function of Mass Media, “the media may not tell us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about.” Media tidak menentukan apa yang kita pikirkan, tetapi sangat berhasil menentukan topik apa yang kita anggap penting.
Dan karena yang paling viral biasanya adalah yang paling emosional, maka narasi yang memancing kemarahan dan kebencian pun lebih cepat menyebar. Feed media sosial kita dipenuhi konten yang memperbesar kemarahan, menyederhanakan konflik, dan menawarkan “musuh bersama” sebagai solusi palsu.
Jika ini berlangsung terus-menerus, maka efeknya bukan sekadar opini yang berubah. Terjadilah apa yang dijelaskan dalam cultivation theory dari George Gerbner. Paparan media yang intens menciptakan realitas alternatif dalam pikiran kita. Dalam The “Mainstreaming” of America: Violence Profile No. 11, Gerbner menulis, “Television cultivates from infancy the very predispositions and preferences that used to be acquired from other primary sources.” Kita mulai percaya bahwa dunia memang seburuk yang digambarkan (media massa, media sosial), bahwa hidup ini penuh ancaman, dan bahwa kekerasan adalah pilihan logis. Dunia virtual pun tak lagi hanya tempat berselancar — ia menjadi ruang yang diam-diam membentuk cara kita melihat realitas.
Retorika Kekerasan dalam Balutan Narasi Suci
Buzzer radikalisme dan terorisme bukan hanya penyebar konten. Mereka adalah pendongeng alias perangkai narasi. Mereka tahu bahwa kekerasan akan ditolak jika disajikan mentah-mentah. Karena itulah maka mereka membungkusnya dengan tema yang lebih bisa diterima. Mereka menyebut pembunuhan sebagai “jihad,” bom bunuh diri sebagai “syahid/istisyhad”, dan musuh politik sebagai “musuh Tuhan (Thagut)”.
Dengan teknik framing, para penyebar konten radikal menyajikan peristiwa tidak apa adanya, melainkan dari sudut pandang yang mereka kendalikan. Seperti dijelaskan oleh Robert M. Entman dalam Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm, salah satu tokoh kunci dalam teori ini, “To frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient in a communicating text.” Artinya, framing adalah proses memilih aspek tertentu dari kenyataan untuk ditonjolkan, lalu dikemas dalam narasi yang menggiring pemahaman audiens.
Maka, video serangan bersenjata dibingkai sebagai “pembebasan”, bukan penyerangan. Video pemuda yang tewas dijadikan “martir”, bukan korban. Perempuan yang menangis disebut “korban kekejaman lawan”, bukan warga sipil yang terjebak konflik. Inilah cara konten radikal menyusup ke pikiran: tampil seolah benar dan mulia, tapi menyembunyikan wajah kekerasan yang sebenarnya. Lebih dari itu, teknik framing juga menciptakan penyederhanaan realitas. Dunia yang sejatinya kompleks diubah menjadi narasi biner yang hitam dan putih, benar dan salah, kawan dan lawan. Tak ada ruang untuk keraguan, tak ada ruang untuk pertanyaan. Pola ini sangat menarik bagi mereka yang sedang mengalami krisis identitas atau kebingungan nilai. Dunia yang semula rumit mendadak terasa bisa dijelaskan secara sederhana — ada musuh, ada kebenaran, dan tentu, ada misi besar yang “harus” dijalankan.
Rekrutmen Personal: Dari Curhat Jadi Komitmen
Lebih dalam dari itu, radikalisasi juga terjadi lewat komunikasi yang bersifat privat dan personal. Banyak remaja yang pertama kali “direkrut” bukan melalui ceramah publik, tapi lewat obrolan personal di WhatsApp, Facebook, atau Telegram. Mereka curhat tentang hidup yang kacau, orang tua yang tak peduli, atau cita-cita yang hancur. Di situ, hadir “mentor digital” yang mendengarkan, memahami, dan kemudian memberi arah-arah yang berujung pada kekerasan.
Dalam teori Computer-Mediated Communication (CMC), dijelaskan bahwa relasi yang dibangun secara digital bisa terasa lebih dekat dan intens dibandingkan interaksi tatap muka. Salah satu alasannya adalah karena media digital memberi ruang bagi individu untuk menyaring respons, memilih waktu komunikasi, dan mengontrol impresi. Dalam istilah Joseph Walther, pakar CMC, ini disebut sebagai hyperpersonal communication — ketika komunikasi online justru menciptakan kedekatan yang lebih cepat dan dalam karena mediasi teknologi.
Walther menyebut dalam Computer-mediated communication: Impersonal, interpersonal, and hyperpersonal interaction bahwa “CMC can become hyperpersonal because it exceeds the level of affection and emotion found in similar face-to-face communication” — komunikasi daring bisa jadi lebih hangat dan intens dibanding komunikasi langsung karena efek persepsi yang dibentuk secara selektif.
Maka tak mengherankan bila banyak anak muda lebih percaya kepada orang asing yang dikenalnya di ruang digital ketimbang orang tua, guru, atau temannya sendiri. Terutama ketika mereka sedang merasa tersesat, terasing, atau tak punya tempat aman di dunia nyata.
Rekrutmen pun terjadi bukan secara frontal, melainkan bertahap dan halus. Dimulai dari obrolan ringan, lalu masuk ke isu-isu keagamaan, sosial, dan identitas. Dari curhat pribadi yang tampak tak berbahaya, lalu digiring pelan-pelan ke dalam ideologi kekerasan. Dan ketika kedekatan emosional sudah terbentuk, mereka akan rela melakukan apa pun — demi seseorang yang bahkan belum pernah mereka temui.
Dunia Maya Bukan Dunia Lain
Untungnya, perlawanan juga mulai tumbuh. Banyak komunitas digital yang menyebarkan narasi tandingan lewat video edukatif, cerita mantan teroris, hingga diskusi terbuka. Mereka tidak hanya melawan argumen, tapi menawarkan alternatif makna bahwa hidup bisa bermakna tanpa kebencian. Beberapa influencer muslim muda kini juga aktif membongkar narasi-narasi radikal dengan bahasa yang membumi dan pendekatan yang humoris. Beberapa lembaga mengembangkan konten literasi digital untuk mengajarkan berpikir kritis sejak usia remaja. Di luar negeri, narasi counter extremism bahkan sudah dimasukkan ke kurikulum pendidikan digital.
Hari ini, dunia maya bukan dunia sampingan. Ia adalah tempat kita membentuk pikiran, menyusun identitas, dan mencari makna. Maka menjaga dunia digital dari penyebaran ajaran kebencian dan terorisme bukan hanya tugas polisi atau negara. Ini tanggung jawab kita sebagai warga digital.
Kita bisa mulai dengan hal kecil. Bertanya sebelum percaya, dan tidak asal share. Berani bertanya pada adik, teman, atau kerabat jika mereka mulai berubah. Dan jika menemukan konten berbahaya, tidak ragu melaporkannya.
Terorisme hari ini tidak mengetuk pintu. Ia menyapa dari layar ponsel. Maka perlawanan kita pun tidak harus dengan senjata. Cukup dengan akal sehat, nalar kritis, dan keberanian untuk tak ikut diam. [ ]
Referensi:
Blumler, J. G., & Katz, E. (1974). The uses of mass communications: Current perspectives on gratifications research. Beverly Hills, CA: Sage Publications.
Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1993.tb01304.x
Gerbner, G., Gross, L., Morgan, M., & Signorielli, N. (1980). The “mainstreaming” of America: Violence profile no. 11. Journal of Communication, 30(3), 10–29. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1980.tb01987.x
McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187. https://doi.org/10.1086/267990
Walther, J. B. (1996). Computer-mediated communication: Impersonal, interpersonal, and hyperpersonal interaction. Communication Research, 23(1), 3–43. https://doi.org/10.1177/009365096023001001
*) Munir Kartono, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, penulis, dan pemerhati media. Aktif menulis isu-isu komunikasi digital dan budaya anak muda.
Komentar