Sepanjang 2025, Indonesia tidak mencatat serangan teror konvensional. Tidak ada ledakan bom, tidak ada serangan bersenjata dari kelompok teror klasik. Tahun ini berjalan relatif sunyi. Namun sunyi tidak selalu berarti aman. Di tengah ketiadaan pola lama, kita justru dihadapkan pada bentuk baru ekstremisme kekerasan yang mengejutkan: kasus seorang remaja di SMAN 72 yang melakukan serangan di lingkungan sekolah, dengan rujukan ideologis yang terinspirasi dari narasi Neo-Nazi dan White Supremacy. Peristiwa itu menutup tahun ini dengan satu pengingat pahit: ancaman ekstremisme tidak lenyap, ia berubah arah.
Kasus tersebut bukan sekadar catatan kriminal yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin dari pergeseran medan ancaman yang lebih luas –sebuah pergeseran yang juga disorot dalam pernyataan pers akhir tahun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Selasa (30/12/2025). Terorisme dan ekstremisme kekerasan hari ini tidak lagi selalu datang dalam bentuk jaringan terorganisir dan serangan fisik, melainkan melalui proses individual yang pelan, personal, dan sering kali berlangsung sepenuhnya di ruang digital.
Menutup 2025, kita perlu jujur pada diri sendiri: absennya dentuman tidak otomatis berarti hadirnya ketahanan. Ketika ancaman menjadi sunyi, justru di situlah kewaspadaan diuji. Ekstremisme hari ini hidup dari narasi –dari potongan video, meme, kutipan ideologis, dan cerita tentang ketidakadilan yang disederhanakan. Ia tidak selalu mengajak pada kekerasan secara terang-terangan, tetapi menyiapkan landasannya di dalam pikiran.
Catatan BNPT tentang puluhan ribu konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sepanjang 2025 seharusnya dibaca sebagai alarm reflektif. Medan utama yang kita hadapi bukan lagi ruang fisik, melainkan ruang makna. Bukan lagi soal siapa membawa senjata, tetapi siapa yang berhasil merebut cara pandang. Dalam konteks ini, anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan –bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka sedang mencari jati diri di dunia yang bising dan sering kali tidak ramah.
Laporan global seperti Global Terrorism Index memang menunjukkan posisi Indonesia yang relatif lebih baik. Namun laporan semacam itu tidak dirancang untuk membaca apa yang sedang tumbuh di balik layar: kesepian, kemarahan yang tak terkelola, dan pencarian makna yang menemukan jawaban instan pada ideologi ekstrem. Sejarah mengajarkan bahwa kekerasan jarang lahir tiba-tiba; ia hampir selalu diawali oleh pembenaran yang dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.
Di titik inilah refleksi bersama menjadi penting. Pencegahan ekstremisme tidak bisa hanya diletakkan di pundak negara. BNPT telah menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif –pendidikan, penguatan komunitas, dan kolaborasi lintas sektor. Kita perlu menyatakan resolusi bersama: 2026 harus menjadi tahun di mana pencegahan menjadi kerja bersama, bukan reaksi sesaat.
Resolusi itu tentu menuntut kehadiran yang nyata. Orang tua yang tidak hanya mengawasi gawai, tetapi juga mendengarkan. Pendidik yang memberi ruang bertanya tanpa stigma. Tokoh agama yang meneguhkan nilai kemanusiaan tanpa memperuncing perbedaan. Media yang berhati-hati agar tidak hanya memperbesar sisi aksi terornya, namun berani membongkar pola. Dan platform digital yang bertanggung jawab atas ekosistem yang mereka ciptakan.
Ruangobrol memandang terorisme bukan semata isu keamanan, melainkan persoalan kemanusiaan. Mendengar suara mantan napiter, penyintas, dan warga biasa adalah bagian dari ikhtiar itu. Bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk memastikan kita belajar darinya. Banyak orang terjerumus bukan karena kebencian, tetapi karena tidak menemukan ruang aman untuk menjadi manusia yang utuh.
Jika 2025 mengajarkan kita tentang ancaman yang berubah wajah, maka 2026 harus menjadi tahun ketika kita berubah sikap –dari lengah menjadi hadir, dari reaktif menjadi preventif, dari sekadar merasa aman menjadi benar-benar membangun ketahanan. Damai bukanlah ketiadaan suara ledakan, melainkan keberanian merawat kemanusiaan sebelum kebencian menemukan momentumnya.
Dalam menyambut 2026 kami meneguhkan satu resolusi yang sederhana: terus merawat ruang aman untuk percakapan yang jujur dan manusiawi.
Kami berkomitmen menghadirkan narasi yang mencegah tanpa menghakimi dan memahami tanpa meromantisasi. Kami akan terus memberi tempat bagi suara-suara yang kerap disingkirkan –mantan napiter, penyintas, keluarga, dan komunitas, agar pembelajaran kolektif tidak lahir dari dentuman, melainkan dari keberanian mendengar. Di tengah perubahan wajah ekstremisme, kami memilih untuk tetap hadir: konsisten, reflektif, dan berpihak pada kemanusiaan sebagai fondasi pencegahan.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar