Pertengahan Maret 2018 menjadi sejarah penting dalam perjalanan saya. Saat itu, Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) menyelenggarakan sebuah program bernama CVE Communication Workshop. Tujuannya sederhana namun cukup strategis, yaitu: meningkatkan kemampuan menyampaikan isu kontra-radikalisasi (CVE) dengan cara kreatif melalui teknologi, serta mempertemukan akademisi dengan mantan napiter untuk berdialog langsung.
Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung dalam lingkaran radikalisme dan merasakan dinginnya jeruji besi, saya tertarik hadir meskipun awalnya tidak masuk daftar undangan. Rasa penasaran membawa saya datang. Saya ingin bertemu langsung dengan Noor Huda Ismail, fasilitator acara, sekaligus mengikuti alur workshop yang kabarnya berbeda dari pelatihan kebanyakan.
Sambutan Hangat yang Menghapus Canggung
Tanggal 14 Maret 2018, saya melangkah masuk ke hotel tempat acara berlangsung dengan perasaan campur aduk. Ada rasa minder, ada pula semangat. Begitu tiba, saya langsung disambut panitia dan bahkan dipeluk hangat oleh Mas Noor Huda Ismail. Sapaan akrab itu seketika melunturkan kecanggungan saya. Tiba-tiba ruangan yang penuh dengan akademisi, ustadz, ustadzah, dan mantan napiter itu terasa seperti rumah baru yang menerima saya tanpa prasangka.
Saya terkesan melihat suasana workshop yang cair, penuh tawa, dan memberi ruang bagi semua orang untuk berekspresi. Tidak ada sekat kaku antara “mantan” dengan “pakar”. Kami duduk sejajar, berdiskusi, bahkan saling melempar candaan. Di balik keseriusan tema, ada nuansa kemanusiaan yang terasa kuat.
Bagi sebagian akademisi, pertemuan ini membuka mata. Selama ini mereka memahami isu radikalisme hanya dari buku atau berita. Namun, tatkala berhadapan langsung dengan orang-orang yang pernah menjadi pelaku, mereka mulai melihat sisi manusiawi yang sering hilang dalam narasi besar. Saya merasakan ada banyak prasangka yang luruh di sana.
Belajar Mengomunikasikan Isu dengan Kreatif
Workshop ini tidak hanya berisi diskusi. Kami juga diajak berlatih public speaking, storytelling, hingga membuat konten kreatif seperti video pendek untuk media sosial. Bagi saya, ini pengalaman baru sekaligus menantang. Dulu saya terbiasa berkomunikasi dalam ruang tertutup dengan bahasa ideologis yang kaku. Kini, saya belajar menyampaikan pesan dengan cara yang lebih membumi, lebih akrab dengan bahasa publik.
Saya semakin kagum ketika mengetahui beberapa pemateri berasal dari luar negeri. Rasanya luar biasa melihat bagaimana KPP mampu menghadirkan perspektif global ke dalam forum lokal. Hal itu membuat saya berpikir: kalau dulu saya penasaran bagaimana jaringan JI (Jamaah Islamiyah) bekerja, kini saya penasaran bagaimana organisasi seperti KPP mampu menghadirkan energi perdamaian lintas batas.
Titik Balik: Menulis untuk Memberi Manfaat
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Mas Huda mengajak saya berdiskusi khusus. Ia menyampaikan ketertarikannya pada pengalaman saya mengelola forum jihad di masa lalu, khususnya bagaimana aktivitas online mampu memengaruhi gerakan di dunia nyata. Baginya, pengalaman itu penting dituliskan agar masyarakat bisa memahami betapa kuatnya pengaruh internet dalam menyebarkan radikalisme.
Saya pun setuju. Menulis adalah cara terbaik saya untuk menyampaikan pemikiran. Tulisan bisa menembus ruang dan waktu, menjangkau orang-orang tanpa harus bertatap muka, dan bisa dibaca kapan pun selama masih tersimpan. Bahkan saya rela menunda proyek digitalisasi novel yang saya tulis di Lapas demi memprioritaskan penulisan buku sesuai ide Mas Huda.
Selain buku, saya juga diajak untuk menjadi kontributor di Ruangobrol.id, sebuah website yang saat itu baru diluncurkan sebagai wadah alumni workshop. Di sana, saya diberi kebebasan menulis apa saja—tentang pengalaman, refleksi, maupun pandangan terhadap isu-isu sosial.
Dari Peserta Workshop Menjadi Bagian dari Gerakan
Peluncuran Ruangobrol.id menjadi salah satu pencapaian besar dari workshop tersebut. Tidak hanya sebagai platform publikasi, tetapi juga ruang perjumpaan ide-ide baru. Beberapa peserta berkomitmen mengisi dengan tulisan, video, dan grafis. Ada pula jejaring yang terus terjaga hingga kini.
Bagi saya pribadi, menjadi kontributor Ruangobrol bukan sekadar menulis. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral. Setelah sekian lama terjebak dalam narasi kebencian, saya menemukan medium untuk menyebarkan narasi perdamaian. Saya ingin berbagi pengalaman agar orang lain tidak terperosok ke lubang yang sama.
Dan benar, sejak saat itu hidup saya berubah. Dari seorang mantan napiter yang dulu terkungkung dalam ideologi sempit, saya bertransformasi menjadi penulis dan peneliti sosial yang aktif menyoroti isu-isu kemanusiaan. Semua itu bermula dari satu pertemuan di workshop yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang peduli dan memberi kepercayaan.
Hilangnya Prasangka, Munculnya Harapan
Pelajaran terbesar dari CVE Communication Workshop adalah perjumpaan. Ketika mantan teroris duduk sejajar dengan akademisi, ketika prasangka hilang karena dialog, ketika teknologi dimanfaatkan untuk pesan damai, maka lahirlah harapan baru.
Banyak orang yang sebelumnya melihat kami hanya dari sisi gelap masa lalu, kini bisa melihat bahwa perubahan itu nyata. Bahwa seseorang yang pernah salah jalan bisa kembali dan bahkan memberi kontribusi positif. Dan saya sendiri adalah salah satu buktinya.
Hari ini, saya menulis di Ruangobrol bukan hanya sebagai rutinitas, tapi sebagai komitmen. Saya percaya, cerita yang lahir dari pengalaman nyata bisa menjadi “vaksin” melawan ideologi kekerasan. Karena narasi damai akan lebih punya arti bila disuarakan oleh mereka yang pernah berada di dalam lingkaran kekerasan itu sendiri.
CVE Communication Workshop 2018 bukan sekadar program pelatihan. Ia adalah ruang perjumpaan, ruang penyembuhan, dan ruang lahirnya komitmen. Dari sanalah Ruangobrol.id lahir, dan dari sanalah saya menemukan jalan baru sebagai penulis dan pegiat sosial.
Kalau dulu saya menulis untuk mengobarkan semangat yang salah arah, kini saya menulis untuk membangun kesadaran dan perdamaian. Dan inilah yang membuat saya percaya: kata-kata tidak hanya bisa menjadi senjata, tapi juga bisa menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.
Foto: Salah satu momen keseruan CVE Workshop, 14-16 Maret 2018. In frame: Arif Budi Setyawan, Mahmudi Hariono alias Yusuf Adirima, dan Reni Apriliana.(Dok. Ruangobrol.id)
Komentar